Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Surat dari Pembaca

Uang Rp 100 dan Pelajaran Integritas dari Kasir Azko Living Plaza

Uang sekecil apa pun tetap diperlakukan dengan prinsip yang sama: bukan hak, maka tidak diambil.

Tayang:
Editor: Sakinah Sudin
Tribun-timur.com/GOOGLE.COM/AZKO LIVING PLAZA HERTASNING GOWA
AZKO HERTASNING - Hypermarket Azko Living Plaza Hertasning Gowa di Jl Tun Abdul Razak, Gowa, Sulsel. Integritas kasir Azko Living Plaza Hertasning Gowa dipuji konsumen. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Saya berbelanja alat elektronik di Azko Living Plaza Hertasning, Makassar, Senin, 2 Februari 2026. 

Transaksi dilakukan secara tunai dan saya dilayani oleh seorang kasir bernama Adhisty.

Proses pembayaran berlangsung pukul 11.42 Wita, sebagaimana tercatat di struk belanja.

Setelah total belanjaan dihitung, saya menyerahkan seluruh uang pembayaran. 

Tak lama kemudian, Adhisty memberikan uang kembalian sebesar Rp1.100, sesuai dengan selisih antara uang yang saya bayarkan dan harga barang.

Saya menerima kembalian tersebut.

Namun, ketika melihat ada koin Rp100 di dalamnya, saya merasa kurang nyaman untuk menyimpannya di kantong dan dompet. 

Koin itu saya sodorkan kembali ke arah kasir, dengan maksud agar disimpan saja.

Respons yang saya terima di luar dugaan.

Dengan nada tenang dan sopan, Adhisty menolak.

“Tidak bisa, Pak. Kami tidak boleh ambil. Memang begitu aturannya,” katanya singkat.

Transaksi pun selesai.

Saya melangkah meninggalkan meja kasir dengan perasaan yang berbeda—sebuah pengalaman berbelanja sarat nilai.

Yang membuatnya istimewa adalah sikap kasir yang menolak mengambil uang Rp100 yang bukan haknya.

Pengalaman seperti ini jarang ditemui.

Dalam keseharian, di minimarket, supermarket, hingga hypermarket, sisa uang kembalian yang tak diambil pembeli sering kali langsung dimasukkan kembali ke laci kasir. 

Ada pula yang dialihkan menjadi donasi, terutama jika nominalnya di bawah Rp1.000 atau Rp500.

Namun, di Azko, saya menyaksikan pilihan yang berbeda.

Uang sekecil apa pun tetap diperlakukan dengan prinsip yang sama: bukan hak, maka tidak diambil.

Nominalnya mungkin nyaris tak berarti secara nilai.

Tetapi sikap itu mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar—integritas.

Saya sungguh terkesan.

Kejujuran yang ditunjukkan Adhisty memberi kesan bahwa nilai-nilai etika masih dijaga dan dijalankan dalam praktik sehari-hari dari seorang yang bukan public figure, bukan influencer. 

Barangkali, integritas memang menjadi salah satu prinsip yang ditanamkan dan dirawat oleh perusahaan ritel ini. 

Salam,

Edi
Pelanggan

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved