TRIBUN-TIMUR.COM- Ketua RT 003 RW 007, Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Muchlis Kartala, menginisiasi program pengelolaan sampah terpadu yang menggabungkan bank sampah dan urban farming di kawasan permukiman perkotaan dengan keterbatasan lahan.
Program ini dirancang untuk memilah sampah sejak dari rumah sekaligus memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bernilai.
Bersama warga, Muchlis membentuk Bank Sampah Unit (BSU) SABAR, singkatan dari Sampah Bisa Jadi Berkah, yang dikelola secara berkelompok oleh warga setempat.
“Semua yang terlibat adalah warga di lingkungan ini,” ujar Muchlis saat ditemui Tribun-Timur.com, Selasa (27/1/2026).
Dalam tahap awal, BSU SABAR menempatkan keranjang sampah di sejumlah lorong.
Saat ini, dua keranjang sampah telah dipasang di Lorong Panti Asuhan dan Lorong Skarda N Lorong 1.
Keranjang berukuran sekitar 60 x 70 sentimeter tersebut dikhususkan untuk menampung sampah anorganik, seperti plastik dan kemasan sekali pakai.
“Sementara kita mulai dari sampah anorganik dulu. Ini yang paling mudah dipilah dan langsung terlihat hasilnya,” kata Muchlis.
Adapun pengelolaan sampah organik masih dalam tahap perencanaan.
Sampah jenis ini nantinya akan diolah menjadi pupuk dan media tanam yang terintegrasi dengan urban farming.
“Sampah organik ke depan akan kami kelola lewat biopori, kompos, dan budidaya magot,” ujarnya.
Saat ini, fokus pengelola masih pada edukasi warga.
Sosialisasi dilakukan secara langsung dengan mendatangi rumah warga, serta melalui grup Whatsapp.
“Kami datang ke rumah-rumah warga untuk menjelaskan langsung. Selain itu, kami juga punya grup RW untuk sosialisasi rutin,” jelasnya.
Warga telah diarahkan untuk memilah sampah dari rumah.
Sampah yang sudah dipilah akan dijemput oleh pengelola BSU.
Untuk tahap awal, sampah anorganik yang terkumpul masih ditimbang secara kasar.
Ke depan, pengelolaan lanjutan akan dilakukan daur ulang yang terintegrasi di tingkat kelurahan.
Antusiasme warga terhadap program ini cukup tinggi.
“Warga senang karena sekarang sudah ada tempat khusus. Ini memudahkan mereka untuk disiplin memilah sampah,” kata Muchlis.
Seluruh pembiayaan program masih menggunakan dana pribadi Muchlis.
Muchlis mengungkapkan, anggaran yang digunakan untuk mempan membuat keranjang sampah mencapai jutaan rupiah.
“Tapi yang saya gunakan sekarang ini sebagian besar dari sisa renovasi rumah saya,” ujarnya.
Muchlis berharap pemerintah dapat terus mendukung program ini, dalam hal memperbanyak keranjang sampah.(*)