Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Bebas Sampah

Budidaya Maggot Dinilai Jadi Solusi Makassar Menuju Bebas Sampah 2029

Maggot BSF hidup dengan memakan sampah organik, seperti sisa makanan, sayur dan buah busuk, limbah dapur dan limbah pasar

Penulis: Renaldi Cahyadi | Editor: Munawwarah Ahmad
TRIBUN TIMUR/Muh. Abdiwan
MAGGOT - Pengelola Urban Agrofarm, Sulaiman Hadong, saat memperlihatkan ternak maggot, di Jl Toddopuli Raya Timur, Makassar, Kamis (18/12/2025). Maggot jadi solusi makassar bebas sampah 2029. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Budidaya maggot dinilai menjadi salah satu solusi paling efektif untuk mewujudkan Kota Makassar bebas sampah. 

Hal ini sejalan dengan program Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar yang mengagasa program Makassar bebas sampah 2029.

Maggot adalah larva atau ulat dari lalat, yang paling sering digunakan untuk pengelolaan sampah adalah larva lalat Black Soldier Fly (BSF) dengan nama ilmiah Hermetia illucens.

Maggot BSF hidup dengan memakan sampah organik, seperti sisa makanan, sayur dan buah busuk, limbah dapur dan limbah pasar

Karena nafsu makannya tinggi, maggot sangat efektif untuk mengurai sampah organik dalam waktu singkat.

Pengelola Urban Agrofarm, Sulaiman Hadong, mengatakan upaya tersebut hanya bisa tercapai jika budidaya maggot dilakukan secara serius dan diperbanyak, terutama dari sisi sarana pembesaran.

“Bebas sampah di tahun 2029 itu harus benar-benar diwujudkan. Untuk itu, budidaya maggot harus ditambah dan diperbanyak, termasuk wadah pembesarannya. Kalau tidak ditambah, bagaimana bisa tercapai,” katanya saat ditemui di bubidaya maggot di Jl Toddopuli Raya Timur, Kamis (18/12/2025).

Ia menjelaskan, maggot memanfaatkan sampah organik sebagai sumber pakan utama. 

Karena itu, keberadaan maggot sangat relevan dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan. 

Namun, menurutnya, tanpa penambahan biopond pembesaran, kemampuan penguraian sampah akan sangat terbatas.

"Tapi kalau biopond pembesaran maggot tidak ditambah dan tidak diperbanyak, bagaimana sampah bisa terurai,” ungkapnya.

Sulaiman mengaku, budidaya maggot yang dijalankannya saat ini masih dalam tahap uji coba. 

Meski demikian, hasil yang diperoleh menunjukkan potensi besar maggot sebagai solusi persoalan sampah di Makassar.

“Menurut saya, maggot ini luar biasa dan merupakan salah satu solusi terbaik untuk mengurai sampah sehingga cita-cita bebas sampah bisa terwujud,” ujarnya.

Ia memaparkan, maggot memiliki daya konsumsi yang tinggi. 

Satu kilogram maggot mampu menghabiskan sekitar satu hingga satu setengah kilogram sampah organik. 

Di Urban Agrofarm sendiri, satu biopond pembesaran berukuran satu kali sepuluh meter mampu mengurai hingga seratus kilogram sampah per hari, bahkan bisa mencapai seratus lima puluh kilogram.

“Kalau ada seribu biopond pembesaran yang dibangun pemerintah, itu bisa mengurai hingga seratus lima puluh ton sampah per hari," jelasnya.

"Bayangkan saja, bagaimana sampah di Kota Makassar bisa teratasi kalau maggot tidak dikembangkan dan diperbanyak,” tambah dia.

Ia mengaku, semakin banyak biopond pembesaran maggot, semakin besar pula volume sampah yang dapat diurai setiap hari. 

Bahkan, jika tersedia dua ribu hingga tiga ribu biopond, potensi penguraian sampah bisa mencapai tiga ratus ton per hari.

Sulaiman mengakui, metode pengolahan sampah lain seperti eco-enzym, biopori, komposter, hingga TPA modern juga berperan dalam mengurangi sampah. Namun, metode tersebut membutuhkan waktu relatif lama.

“Kalau maggot, semakin banyak dibudidayakan, semakin besar pula sampah yang bisa diurai setiap hari,” katanya.

Saat ini, Urban Agrofarm memiliki 58 biopond pembesaran maggot. 

Dalam kondisi normal dan terkelola dengan baik, pengurangan sampah maksimal yang dapat dilakukan sekitar lima ton per hari. 

Angka tersebut dinilai masih sangat kecil dibandingkan volume sampah organik Makassar yang mencapai ratusan ton per hari.

“Kalau yang terurai hanya sebagian kecil, sisanya mau dibawa ke mana? Artinya memang harus ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap maggot ini,” ungkapnya.

Ia pun berharap pemerintah dapat membangun pusat-pusat budidaya maggot secara mandiri untuk memperbesar kapasitas penguraian sampah di Kota Makassar.

“Saya berharap pemerintah bisa membangun sendiri pusat-pusat budidaya maggot untuk memperbanyak kapasitas penguraian sampah,” jelasnya.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved