Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun RT RW

Alasan Irfandi Andi Sawe Mundur dari Bursa RT Perdos Unhas, Karyawan Swasta Ditolak 10 Profesor

Irfandi membuat surat pernyataan pengunduran dirinya tertanggal 26 November 2025. 

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Siti Aminah
RT PERDOS - Surat pernyataan pengunduran diri Irfandi Andi Sawe dari pencalonan Ketua RT/RW usai warga Perumahan Dosen Unhas, RT 01 RW 04 Kelurahan Tamalanrea Jaya Kecamatan Tamalanrea melayangkan petisi penolakan, Kamis (27/11/2025). Dalam surat pernyataan tersebut, Irfandi menuliskan, ia kesulitan membagi waktu untuk melaksanakan tugas Ketua RT apabila terpilih.  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Irfandi Andi Sawe akhirnya mundur dari pencalonan Ketua RT/RW usai warga Perumahan Dosen Unhas, RT 01 RW 04 Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea melayangkan petisi penolakan. 

Irfandi membuat surat pernyataan pengunduran dirinya tertanggal 26 November 2025. 

Dalam surat pernyataan tersebut, Irfandi menuliskan, ia kesulitan membagi waktu untuk melaksanakan tugas Ketua RT apabila terpilih. 

"Pengunduran diri saya ajukan atas pertimbangan pribadi dan tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Dan saya mencabut kembali berkas yang telah disetor pada panitia pemilihan," tulis Irfandi dalam keterangannya. 

Pengunduran diri karwayan swasta itu menjadi kabar baik bagi warga RT 01 RW 04 Perdos Unhas

Mereka mengapresiasi atas respon cepat dari pemerintah mendengar dan menanggapi aspirasi warga. 

"Terimakasih atas kesediaan semua pihak, baik dari Kelurahan, Kecamatan, Kepolisian, serta Pemerintah Kota Makassar, untuk membuka ruang dialog dan mempertimbangkan 
masukan kami," ucap salah satu warga, Prof (Emeritus) Deddy T. Tikson, M.Sc., Ph.D.

Warga menilai, respon ini merupakan cerminan dari komitmen yang kuat terhadap lelayanan publik dan tata kelola pemerintahan kota Makassar yang inklusif.

Ini juga sebagia perwujudan realisasi visi Makassar yang Unggul, Inklusif, Aman, dan Berkelanjutan.

"Kami sungguh menghargai upaya kolaboratif yang telah dilakukan untuk  memastikan proses pencalonan hingga pemilihan Ketua RT berjalan dengan jujur,
adil, dan sesuai dengan semangat musyawarah mufakat warga," tuturnya. 

Langkah ini memberi keyakinan bahwa suara warga senantiasa menjadi prioritas dalam setiap pengambilan kebijakan dan keputusan.

Diketahui, sebanyak 10 profesor menolak Irfandi Andi Sawe maju calon Ketua RT Perdos Unhas

Salah satu yang menolak yang Prof Aminuddin Ilmar Guru Besar Fakultas Hukum Unhas.

Ada pula Prof Ismartoyo, Prof Dr dr Nusratuddin Abdullah

Hingga Kamis (27/11/2025) pagi, sudah ada 41 warga menandatangani petisi tersebut.

Salah satu warga, Luna Ngeljaratan mengungkap, calon tersebut diduga kuat tidak berdomisili tetap di alamat terdaftar, yakni wilayah RT 01 RW 04.

Berdasarkan penelusuran masyarakat setempat, rumah yang tercantum di alamat terdaftar berstatus disewakan atau dikontrakkan.

"Nama yang tercantum tersebut tidak ada di rumahnya, tidak pernah membayar iuran sampah dikarenakan rumahnya itu sepertinya tidak ditinggali, tidak ditempati, atau dikontrakkan," ungkap Luna kepada Tribun Timur, Rabu (26/11/2025). 

Warga menilai kandidat tidak jelas domisilinya. Apalagi Ketua RT seharusnya berdomisili tetap dan memahami secara mendalam 
dinamika serta permasalahan yang dihadapi warga sehari-hari. 

Disisi lain, Ketua RT haruslah figur yang dikenal, dipercaya, dan memiliki komitmen tinggi untuk melayani warga secara penuh. 

Warga sama sekali tak mengenal calon tunggal tersebut, tak ada hubungan emosional yang terjalin antar warga selama ini mengingat calon tak pernah terlihat. 

"Walaupun KTPnya memang di situ, tapi tidak pernah kelihatan, warga tidak kenal, sehingga kita tidak punya komunikasi sama senior-senior warga-warga yang ada di Perumnas Dosen," paparnya. 

Atas keresahan ini, warga membuat petisi sebagai bentuk penolakan. Termasuk beberapa guru besar Unhas, Prof Nusratuddin Abdullah, Prof Amiruddin Ilmar, Prof Faisal Abdullah hingga Taslim Arifin, eks komisaris Tonasa. 

Luna kembali menjelaskan, warga Perdos Unhas khususnya RT 1 memang tak ada yang ingin mencalonkan pada kontestasi Pemilihan Ketua RT RW ini. 

Sejak awal warga RT 1 sepakat tidak mengajukan calon karena mayoritas merupakan pensiunan.

Ia menyebut selama ini warga  mengandalkan Pjs RT Sutrisno. 

Sutrisno punya kesempatan melanjutkan kepemimpinannya jika tak ada pelamar atau pendaftar. 

Namun belakangan muncul nama Irfandi, satu-satunya calon ketua RT 01 yang memasukkan berkas. 

Dalam regulasi, calon tunggal otomatis bisa definitif tanpa pemungutan suara atau partisipasi masyarakat. 

Disisi lain, warga menolak tak ingin dipimpin Irfandi, mereka berharap Sutrisno tetap menjadi andalan mereka. 

Selama menjabat, Sutrisno dikenal sangat transparan, aktif, dan dekat dengan warga, termasuk para lansia yang membutuhkan pengawasan khusus.

“Pj RT sekarang sangat dikenal, dari kecil tinggal di sini. Urus semua warga, sampai antar ke rumah sakit, bahkan urus kucing warga kalau naik ke atap,” bebernya. (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved