Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

KLB Campak

90 Anak Mengidap Campak di Luwu, Kemenkes Tetapkan Status KLB

Berdasarkan hasil uji laboratorium, sebaran kasus terbanyak terkonsentrasi di wilayah utara Luwu. 

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Muh. Sauki Maulana
KLB CAMPAK - Suasana Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan di Kota Belopa, Senin (13/4/2026). Kemenkes mengeluarkan status KLB campak untuk wilayah Luwu. Data Dinkes, sebanyak 90 anak menderita campak. 

 

Ringkasan Berita:
  • Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Bumi Sawerigading setelah ditemukan puluhan kasus yang merenggut nyawa. 
  • Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Luwu menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. 
  • Sejak Maret 2026 hingga saat ini, tercatat 90 kasus campak yang tersebar di berbagai wilayah. 

TRIBUN-TIMUR.CON, LUWU – Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, kini dalam status siaga satu penyebaran virus campak

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Bumi Sawerigading setelah ditemukan puluhan kasus yang merenggut nyawa. 

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Luwu menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. 

Sejak Maret 2026 hingga saat ini, tercatat 90 kasus campak yang tersebar di berbagai wilayah. 

Dua anak dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi virus ini. 

Baca juga: 1.304 Kasus Suspek Campak di Sulsel: Wajo, Sinjai, Luwu dan Makassar Status KLB

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu, dokter Rosnawary, mengonfirmasi penetapan status KLB ini merujuk pada surat edaran Kemenkes RI dan Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan. 

"Benar, kami sudah menerima edaran tersebut sejak Maret lalu. Kabupaten Luwu masuk dalam kategori KLB campak," ujar Rosnawary kepada Tribun-Timur.com, Senin (13/4/2026). 

Dua Kecamatan Jadi Zona Merah 

Berdasarkan hasil uji laboratorium, sebaran kasus terbanyak terkonsentrasi di wilayah utara Luwu

Dua kecamatan kini menjadi sorotan utama Dinkes

Diantaranya Kecamatan Walenrang dan Kecamatan Walenrang Barat. 

"Berdasar totalnya, ada 90 kasus campak yang terjadi di Luwu. Dua diantaranya meninggal dunia. Peningkatan kasus campak terbanyak di Desa Lewandi dan Desa Lamasi," beber Rosnawary. 

Merespons status darurat ini, Dinkes Luwu langsung menginstruksikan seluruh UPTD Puskesmas untuk memperketat pengawasan. 

Kata Rosnawary, langkah ini diambil adalah menggelar Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi campak darurat. 

"Imunisasi darurat ini menyasar anak usia 9 bulan hingga 59 bulan. Kami ingin memutus rantai penularan secepat mungkin," ungkapnya. 

Baca juga: Dinkes Sinjai Catat 76 Kasus Suspek Campak, Warga Diminta Waspada

Selain imunisasi, warga diimbau kembali menerapkan protokol kesehatan dan menjaga pola hidup bersih (PHBS). 

Deteksi dini di tingkat desa juga diperketat guna memantau anak yang menunjukkan gejala demam dan bintik merah. 

Salah seorang warga asal Walenrang, Alim, mengaku terkejut setelah mendengar data campak yang terjadi di Luwu

Kata dia, perlu dilakukan monitoring serta sosialisasi hingga ke tingkat dusun untuk menekan penyakit campak menyerang warga. 

"Termasuk untuk meyakinkan akan pentingnya vaksin MMR atau MR untuk anak," akunya. 

Ia meminta, otoritas terkait seperti Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kecamatan Walenrang bisa merespon kasus ini dengan cepat. 

"Jangan didiamkan. Kita tidak mau lagi ada koban jiwa," tandasnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved