Adik Sirajuddin Kru Kapal Musaffah II Minta Detail Pencarian dari Perusahaan
Kabar adanya insiden yang dialami Kapal Musaffah 2 yang mengangkut Sirajuddin pertama kali diterima adik kandungnya
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Ari Maryadi
Ringkasan Berita:
- Chie Engineer kapal milik perusahaan Abu Dhabi Ports itu adalah Sirajuddin (45), putra kelahiran Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan
- Kampung halamannya itu merupakan kecamatan di ujung selatan Luwu, lokasinya sekitar 30 menit dari Ibukota Belopa
- Kabar adanya insiden yang dialami Kapal Musaffah 2 yang mengangkut Sirajuddin pertama kali diterima adik kandungnya, Arif Juntara (40)
TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Dua orang warga Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, tercatat sebagai awak Kapal Musaffah 2 yang mengalami insiden ledakan di Selat Hormuz pada Jumat (7/3/2026) sekitar pukul 02.00 Wita dini hari.
Chie Engineer kapal milik perusahaan Abu Dhabi Ports itu adalah Sirajuddin (45), putra kelahiran Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan.
Kampung halamannya itu merupakan kecamatan di ujung selatan Luwu, lokasinya sekitar 30 menit dari Ibukota Belopa.
Kabar adanya insiden yang dialami Kapal Musaffah 2 yang mengangkut Sirajuddin pertama kali diterima adik kandungnya, Arif Juntara (40).
Kata dia, pihak perusahaan menelepon langsung untuk menjelaskan kondisi awal kapal tugboat yang berisi tujuh orang awak itu.
"Setelahnya baru saya kabari semua keluarga, kalau ada insiden di kapalnya kakak," jelasnya saat ditemui Tribun-Timur.com, di kediaman Sirajuddin, Desa Temboe, Rabu (11/3/2026) sekitar pukul 13.22 Wita siang.
Ingatan Arif langsung penuh dengan sosok kakak kesembilannya itu usai mendengar kabar yang kurang mengenakkan.
Arif menerangkan, Sirajuddin merupakan anak kesembilan dari sepuluh bersaudara.
Ia mengenal Sirajuddin sebagai kakak yang penyayang, baik, dan sabar.
Menurutnya, berbeda dengan sebagian anak remaja yang bingun menentukan karir, kakaknya itu justru mantap ingin berlayar.
Itu juga dimaksud agar segera mendapat pekerjaan dan membantu ekonomi keluarga.
Kata Arif, kakaknya Sirajuddin menempuh bangku pendidikan di SPM Bahari Kota Parepare.
Sekolag ini setingkat SMK, nanun mengajarkan ilmu pelayaran kepada siswanya.
"Kalau tidak salah, angkatan kedua itu kakak saya di sana," ujarnya.
Menurut Arif, di situlah Sirajuddin remaja mendapat pelajaran teknika atau engineer di bidang perkapalan.
"Setelah selesai, kemudian awal pertama kali berlayar itu sekitar tahun 2000-an," ujarnya.
Selain kesukaannya pada sistem permesinan di kapal, Sirajuddin rupanya juga memiliki hobi bermain bola.
Setiap kali cuti dari berlayar, ia tak jarang ikut bermain bola di lapangan yang berada persis di hadapan rumahnya di Desa Temboe.
"Dia hobi main bola di lapangan depan rumah, kalau pulang berlayar pasti ikut main," ungkapnya.
Arif meminta, agar perusahaan dan otoritas terkait tak menyerah dalam menemukan keberadaan kakaknya itu.
"Kami sekarang kita menunggu informasi dari perusahaan terus informasi dari teman-teman pelaut di sana. Keluarga berharap, itu pencarian dulu, itu diutamakan. Harus ada informasi detail dari kantor, bagaimana keadaanya di sana," tandasnya.
Sementara itu, Sri Dewi Aisyah, istri Sirajuddin berusaha menahan tangisnya saat ditemui Tribun-Timur.com.
Sri mengingat, suaminya sebagai sosok ayah yang penyayang dan tumpuan satu-satunya keluarga.
Terutama bagi kedua putrinya Najwa Ajlea dan Azkaira Nur Malaika.
Sri mengingat, suaminya seharusnya tak lama lagi pulang setelah menunaikan tanggung jawab kontraknya di perusahaan.
Sebab suaminya itu terakhir kali pulang ke kampung halaman yaitu sekitar bulan Agustus 2025 lalu.
"Setelah anak besar, dia selalu tanya kapan liburan, berapa hari. Karena dia ingin kumpul. Apalagi anak pertama ini jadi santriwati pesantren yang ada di Pangkep," jelasnya dengan nada lirih.
Kata Sri, pasangannya itu punya kebiasaan untuk melakukan panggilan video call dengan Azkaria Nur Malaika, anak bungsunya yang masih bersekolah di taman kanak-kanak.
"Dia selalu video call sama anaknya yang bungsu. Terakhir hari Kamis lalu telepon. Dia titip pesan, nak kalau mama salat ikut juga salat," ungkapnya.
Setelah hilang kontak Kamis lalu, sambung Sri, anak keduanya itu selalu menanyakan kabar bapaknya.
"Makanya dia tanyakan 'Ma, kenapa Papa tidak menelepon lagi," terangnya.
Kabar kepastiaan ayahnya juga ditunggu anak pertamanya Najwa Ajlea.
Dari pantauan di rumah Sirajuddin, anaknya itu diliputi gelisah dan cemas.
"Selalu salat dia selalu kirim doa, supaya papanya cepat pulang dalam keadaan selamat. Dia masih percaya, papanya itu selamat dan sehat,"terangnya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Sri meminta kepada otoritas Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk ikut bertanggung jawab.
Termasuk tidak menyerah dalam menemukan suaminya ysai alami insiden.
Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana
| Selisih 53 Tahun: Kakek H Buhari Nikahi Siswi SMA Usia 18 Tahun di Luwu, Mahar Rp100 Juta dan Motor |
|
|---|
| Sepetak Tenda Berdiri di Rumah Capt Miswar di Luwu, Keluarga Menanti Kabar dari Selat Hormuz |
|
|---|
| Cerita Sirajuddin Saleh 372 Hari Ditahan di Arab Saudi Saat Menjalankan Ibadah Haji |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Banjir Rendam Larompong dan Larompong Selatan Luwu |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Tiga Rumah di Luwu Rusak Diterjang Puting Beliung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260311-Sirajuddin-warga-Desa-Temboe.jpg)