Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Rakernas PSI di Makassar

Warna Politik Bertemu Budaya, Songkok Recca Bugis Hidupkan Rakernas PSI Makassar

Di sela registrasi dan agenda partai, banyak peserta terlihat berkerumun di stan UMKM lokal, khususnya yang memajang Songkok Recca.

Penulis: Erlan Saputra | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Erlan Saputra
RAKERNAS PSI DI MAKASSAR - Peserta Rakernas PSI tengah berburu Songkok Recca, penutup kepala tradisional khas Bone, di Lobi Hotel Claro Makassar, Jalan AP Pettarani, Kamis (29/1/2026). Pameran UMKM lokal turut memeriahkan agenda politik ini, menampilkan beragam produk budaya dan kerajinan Sulsel. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Di tengah hiruk-pikuk konsolidasi politik Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2026 di Hotel Claro Makassar, Kamis (29/1/2026), sebuah simbol budaya Bugis justru mencuri perhatian para kader dari berbagai daerah.

Bukan pidato politik atau strategi Pemilu 2029, melainkan Songkok Recca, penutup kepala khas Bone, Sulawesi Selatan, yang menjadi “bintang tak terduga” di arena Rakernas PSI.

Sejak pagi, lobi Hotel Claro dipadati kader PSI dari berbagai provinsi.

Di sela registrasi dan agenda partai, banyak peserta terlihat berkerumun di stan UMKM lokal, khususnya yang memajang Songkok Recca.

Sebagian membelinya sebagai buah tangan, sebagian lain mengenakannya langsung sebagai simbol penghormatan terhadap budaya lokal Sulsel.

Songkok Recca bukan sekadar aksesori.

Ia menyimpan filosofi mendalam masyarakat Bugis: acca (kecendekiaan), kehormatan, dan martabat. Penutup kepala ini menjadi identitas budaya yang menandai kecerdasan dan etika sosial pemakainya.

Songkok Recca dibuat dari serat pelepah daun lontar yang dipukul hingga halus, proses yang dikenal dengan istilah di-recca. 

Anyaman kemudian dibentuk menggunakan cetakan kayu nangka yang disebut assareng.

Warna hitam khasnya diperoleh melalui proses perendaman serat dalam lumpur selama beberapa hari.

Dalam tradisi lama, terdapat perbedaan status pada Songkok Recca.

 Yang polos digunakan masyarakat umum, sementara yang berpinggiran emas (pamiring pulaweng) dulunya hanya dikenakan bangsawan Bone.

Jejak sejarah Songkok Recca bahkan tercatat sejak abad ke-17.

Penutup kepala ini digunakan sebagai penanda pasukan Bone saat perang melawan Tana Toraja pada 1683. 

Pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, Andi Mappanyukki, Songkok Recca ditetapkan sebagai kopiah resmi kebesaran kerajaan, dikenakan oleh bangsawan dan cendekiawan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved