Profil Kecamatan
Profil Kecamatan Wajo, Pusat Perdagangan Kota Makassar
Kecamatan ini terletak di wilayah pesisir barat Kota Makassar. Luas wilayahnya 1,9 kilometer persegi.
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Ansar
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Kecamatan Wajo bisa disebut denyut nadi aktivitas perekonomian Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kecamatan ini terletak di wilayah pesisir barat Kota Makassar. Luas wilayahnya 1,9 kilometer persegi.
Secara administratif, Kecamatan Wajo membawahi delapan kelurahan.
Yaitu, Kelurahan Pattunuang, Ende, Melayu, Melayu Baru, Butung, Malimongan, Malimongan Tua dan Mampu.
Kelurahan Pattunuang menjadi kelurahan terluas dengan 0,56 kilometer persegi.
Sedangkan Kelurahan Malimongan terkecil dengan luas hanya 0,15 kilometer persegi.
Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ujung Tanah, di sisi selatan Kecamatan Ujung Pandang.
Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bontoala dan sebelah barat Selat Makassar.
Penduduk Kecamatan Wajo per Mei 2025 mencapai 26.354 jiwa jiwa. Rinciannya, 12.254 laki-laki, 14.100 perempuan.
Warga tersebar di 45 rukun warga (RW) dan 169 rukun tetangga (RT).
Rerata warga Kecamatan Wajo hidup dari berdagang, bekerja di sektor jasa, karyawan dan aparatur sipil negara (ASN).
Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan
Kecamatan Wajo memiliki institusi pendidikan cukup lengkap, ada pendidikan usia dini, pendidikan menengah dan jalur pendidikan non formal.
Tercatat ada, ada empat kelompok bermain (KB), sembilan taman kanak-kanak (TK), enam sekolah dasar (SD).
Lalu enam sekolah menengah pertama (SMP), empat sekolah menengah atas (SMA), satu sekolah menengah kejuruan (SMK) dan satu pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).
PKBM ini untuk kejar paket A sampai C atau setara SD-SMA.
Untuk fasilitas kesehatan terdapat dua Puskesmas dan satu rumah sakit di wilayah Kecamatan Wajo.
Puskesmas Tarakan berada di Jl Sangir Lorong 209 No 6, Kelurahan Melayu baru.
Lalu Puskesmas Andalas di Jl Kodingareng No 5, Kelurahan Mampu.
Rumah sakit berdiri yakni Rumah Sakit Akademis Jaury Jusuf Putera Makassar.
Rumah sakit yang berada di Jl Jenderal M Jusuf No 57A Makassar diinisiasi oleh Pangdam XIV/Hasanuddin M Jusuf.
Peletakan batu pertama pada 10 Juli 1962 oleh M Jusuf. Tak cukup setahun sudah diresmikan, tepatnya 18 April 1963.
Pusat Ekonomi
Kecamatan Wajo pusat perekonomian di Kota Makassar dengan keberadaan Pasar Butung dan Pasar Sentral.
Pasar Butung merupakan pasar grosir terbesar di Makassar. Lokasinya di Jl Pasar Butung, Kelurahan Butung.
Pasar ini berdiri tahun 1917. Berbagai macam barang ditawarkan dengan harga terjangkau.
Tak ayal, pasar ini menjadi primadona bagi pedagang dari seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan (Sulsel) maupun luar Sulsel.
Apalagi, jelang hari raya Idulfitri, pengunjung sangat ramai ke pasar yang telah berusia 108 tahun itu.
Pasar Sentral memiliki peran sama dengan Pasar Butung, jadi pusat perdagangan, distribusi barang tekstil, pakaian dan grosir di Kota Makassar.
Pasar ini sudah ada sejak zaman penjajahan. Awalnya bernama Pasar Cina karena lokasinya tak jauh dari kawasan pedagang orang-orang Cina.
Di zaman Wali Kota Makassar HM Daeng Patompo, pasar ini berada di Jl Lombok, lalu berpindah ke Jl Irian.
Lokasinya diperluas hingga menjadi Pasar Sentral. Pasar ini berulang kali telah terbakar.
Upaya modernisasi pasca kebakaran terus dilakukan. Sekarang Pasar Sentral dikenal dengan nama New Makassar Mal (NMM) dengan gedung bertingkat.
Selain Pasar Butung dan Pasar Sentral, kegiatan perdagangan bisa ditemui di jalan-jalan Kecamatan Wajo.
Di antaranya, Jl Sulawesi dan Jl Sangir. Sepanjang jalan deretan ruko yang berdiri menjual berbagai kebutuhan warga.
Ikon
Kecamatan Wajo ini gerbang bagi Kota Makassar dengan keberadaan Pelabuhan Soekarno-Hatta di Jl Nusantara, Kelurahan Butung.
Pelabuhan ini melayani kapal penumpang yang menghubungkan Makassar dengan daerah lain di seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, Pelabuhan Soekarno-Hatta menjadi gerbang logistik untuk wilayah Indonesia timur.
Makanya, keberadaannya sangat penting dalam rute kargo ke Maluku, Papua dan pulau lain di timur Indonesia.
Ikon lain di Kecamatan Wajo adalah Makam Pangeran Diponegoro.
Makam yang terletak di Jl Diponegoro, Kelurahan Melayu itu menjadi objek wisata sejarah.
Pangeran Diponegoro lahir di Kesultanan Yogyakarta pada 11 November 1785.
Ia memimpin Perang Diponegoro melawan Belanda yang berlangsung 1825-1830.
Pangeran Diponegoro diasingkan ke Makassar hingga wafat pada 1855.
Hingga sekarang Makam Pangeran Diponegoro ramai dikunjungi.
Camat Wajo Maharuddin mengatakan, pejabat dari Jawa Tengah jika berada di Makassar pasti menyempatkan ziarah.
Begitu pun dengan prajurit TNI dan petinggi Kodam IV/Diponegoro.
“Mereka datang ziarah di sana. Makam Pangeran Diponegoro sangat terpelihara,” katanya saat ditemui di ruangannya Kamis, (27/11/2025).
Perayaan Cap Go Meh tak boleh dilupakan. Perayaan ini berlangsung di Jl Sulawesi di momen Imlek.
Berbagai kegiatan dilaksanakan, seperti festival lampion, pertunjukan barongsai, parade budaya dan kuliner.
Hal ini mampu menarik pengunjung, baik dari Makassar maupun luar Makassar.
“Cap Go Meh ini menarik masyarakat datang, apalagi berlangsung beberapa hari,” ucap Camat Wajo Maharuddin.
Tempat Ibadah
Masyarakat Kecamatan Wajo memeluk agama beragam.
Makanya, jika jalan-jalan di Kecamatan Wajo berbagai tempat ibadah bisa ditemui.
Masjid berjumlah 22, gereja ada empat, vihara sembilan dan pura satu.
Walau beragam agama, warganya tetap hidup berdampingan dengan tenang. Toleransi sangat tinggi. (*)
| Profil Kecamatan Ujung Tanah dan Sejarah Singkat Pelabuhan Paotere |
|
|---|
| Profil Kecamatan Ujung Pandang Makassar, Kota Tua dengan Berbagai Ikon Sejarah |
|
|---|
| Profil dan Jejak Pertumbuhan Tamalate: Hotel, Pusat Belanja, Hunian Modern, hingga Kemacetan |
|
|---|
| Profil Kecamatan Mariso: Wilayah Pesisir Selat Makassar Dihuni 48 Ribu Jiwa |
|
|---|
| Asal Usul Mamajang, Nama Tokoh Diabadikan Jadi Kecamatan di Kota Makassar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Camat-Wajo-Maharuddin-dan-Kantor-Camat-Wajo.jpg)