Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Gus Yahya PBNU

Gus Yahya Dipecat, NU Luwu Pilih Islah Ketimbang Perpecahan

Ketua PCNU Luwu, Sumaryono, memastikan solidaritas warga NU di wilayahnya tidak tergoyahkan oleh dinamika di Jakarta.

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Sudirman
Tribunnews.com/PCNU LUWU
PCNU LUWU - Warga Nahdlatul Ulama Luwu saat melakukan pengajian rutin digelar di Masjid Nurusysyafa'ah, Dusun Pasang Kaliba, Desa Walenrang, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Kamis (27/11/2025). Ketua PCNU Luwu, Sumaryono (kelima dari kiri) menyebut kabar pemberhentian Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf belum diterimanya.  

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Luwu tak ingin terseret pemecatan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya.

Ketua PCNU Luwu, Sumaryono, memastikan solidaritas warga NU di wilayahnya tidak tergoyahkan oleh dinamika di Jakarta.

Berdasarkan koordinasi dengan Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sulawesi Selatan, pihaknya belum menerima satu pun surat keputusan resmi terkait pemberhentian
Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.

"Informasi yang masuk ke saya dari Ketua PWNU Sulsel, belum ada pemberhentian. Surat resminya pun belum ada," ujar saat dikonfirmasi, Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 17.00 Wita sore.

Narasi pemecatan yang beredar luas di media massa terasa kontraproduktif.

Mengingat agenda Muktamar NU, bakal digelar di akhir tahun 2026.

Baca juga: Gus Yahya Minta Jadwal Bertemu ke KH Miftachul Akhyar Jadi Pembahasan di Sulsel

Warga NU Luwu lebih memilih mendorong opsi perdamaian ketimbang memperuncing konflik.

Sumaryono tidak menampik, pemicu utama kegaduhan ini adalah kehadiran narasumber yang ditengarai terafiliasi dengan jaringan Zionisme dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional (AKN) NU.

Menurutnya, isu ini menjadi bola liar yang menggelinding cepat.

Hingga dengan mudah memantik reaksi keras dari berbagai pihak.

Sebagai pemegang mandat di tingkat cabang, Sumaryono mencoba melihat persoalan ini dengan kacamata yang lebih jernih.

Ia meyakini, niat awal PBNU sesungguhnya adalah mencari solusi konkret bagi krisis kemanusiaan di Palestina, bukan mencederai prinsip organisasi.

"Yang saya pahami, agenda itu bertujuan untuk mencari jalan keluar masalah di Gaza, Palestina. Namun, isu ini kemudian meluas, mungkin ada pihak yang tidak senang, lalu digoreng sedemikian rupa," analisi Sunaryo sambil sedikit berguyon.

Ia menambahkan, agar konflik segera mereda.

Sumaryono menceritakan suasana pengajian rutin yang baru saja digelar di Masjid Nurusysyafa'ah, Dusun Pasang Kaliba, Desa Walenrang, Kecamatan Walenrang, sore tadi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved