Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

LAZ Hadji Kalla Perkuat Ketahanan Iklim di Sulselbar Lewat Program Kampung Hijau Energi

Program ini menjadi salah satu ikhtiar berbasis komunitas dalam menjawab tantangan krisis lingkungan.

Penulis: Rudi Salam | Editor: Alfian
Istimewa/Kalla Group
KAMPUNG HIJAU - Pelatihan komunitas Kampung Hijau Energi yang digelar di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu. Program ini mengintegrasikan pertanian organik, peternakan, dan pengolahan limbah menjadi energi terbarukan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla terus memperkuat ketahanan lingkungan dan menghadapi dampak perubahan iklim.

Salah satu langkahnya lewat Program Kampung Hijau Energi yang digagas Program Humanity and Enviroment LAZ Hadji Kalla di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar).

Program ini menjadi salah satu ikhtiar berbasis komunitas dalam menjawab tantangan krisis lingkungan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Program Kampung Hijau Energi mengintegrasikan pertanian organik, peternakan, dan pengolahan limbah menjadi energi terbarukan dalam satu siklus berkelanjutan. 

Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk mengelola sumber daya lokal secara efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.

Kampung Hijau Energi merupakan program kolaboratif yang dilaksanakan di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene di Sulbar serta Kabupaten Maros, Pinrang, dan Kota Parepare di Sulsel. 

Di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat menerapkan praktik siklus yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

Baca juga: LAZ Hadji Kalla Tingkatkan Hasil Panen Petani hingga 60 Persen Lewat Program DBS

Tanaman organik yang dibudidayakan warga dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. 

Selanjutnya, limbah ternak diolah menggunakan teknologi biogas untuk menghasilkan energi api biru serta pupuk organik cair. 

Energi biogas digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga mengurangi ketergantungan pada kayu bakar dan LPG.

Sementara itu, pupuk organik cair dikembalikan ke lahan pertanian untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. 

Praktik ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya produksi bagi petani dan peternak.

Program Manager Humanity and Environment LAZ Hadji Kalla, Sapril Akhmady, mengatakan LAZ Hadji Kalla berkolaborasi dengan Yayasan Forum Komunitas Hijau dalam program ini. 

Selain memperkuat ekonomi warga, Kampung Hijau Energi berkontribusi langsung pada mitigasi perubahan iklim dengan menekan emisi metana dari limbah ternak serta mendorong praktik pertanian rendah karbon. 

“Pendekatan sirkular ekologis berdampak sebagai kunci keberhasilan program ini,” kata Sapril, di Makassar, Kamis (12/2/2026).

Ia menjelaskan, ketahanan iklim berbicara tentang kapasitas suatu wilayah untuk menghadapi gangguan iklim, seperti kekeringan, banjir, kenaikan suhu, atau ketidakpastian musim yang secara nyata berdampak pada kondisi sosial dan lingkungan. 

Sementara Kampung Hijau Energi merupakan salah satu instrumen praktis di tingkat komunitas yang secara langsung membangun kapasitas tersebut melalui pendekatan energi terbarukan, pengelolaan limbah biomassa, dan penguatan ekonomi lokal. 

“Program ini membangun ekosistem yang saling menguntungkan. Limbah tidak lagi menjadi masalah, tetapi sumber nilai tambah bagi petani dan peternak sekaligus menjaga lingkungan,” jelasnya.

Sekretaris Yayasan Forum Komunitas Hijau, Hamzah, menilai Kampung Hijau Energi sebagai contoh nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak. 

“Ketahanan lingkungan harus dibangun dari komunitas. Kampung Hijau Energi menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari pola pikir dan praktik sehari-hari masyarakat,” katanya. 

Melalui kolaborasi multipihak, Program Kampung Hijau Energi membuktikan bahwa solusi lingkungan berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Kelompok Tani Ternak, Desa Benteng Paremba, Kecamatan Lembang, Pinrang, Muhajir mengungkapkan tantangannya dalam membangun gagasan ini hingga mendapat dukungan dari LAZ Hadji Kalla yang bekerjasama dengan Yayasan Forum Komunitas Hijau.

Baginya, tekanan dari warga dan keluarga serta tokoh tokoh adat akibat dari minimnya informasi menjadi cermin betapa gagasan baru sering dianggap ancaman ketika lahir di ruang yang belum siap berdialog. 

“Usulan saya dinilai mengganggu keseimbangan sosial, bahkan sempat diminta dihentikan demi meredam konflik. Di titik inilah saya menyadari, banyak ide baik di desa gugur bukan karena salah, tetapi karena berjalan sendirian. Maka saya memilih bertahan, bukan dengan melawan, melainkan dengan merajut jejaring,” jelasnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved