Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Wawancara Khusus

57 Siswa Athirah Lulus ke Kampus Impian, 20 Diterima di UI

Andi Sitti Fathimah Zahrah Al Ghafirah lulus di jurusan arsitektur interior dan Nayla Adiana Kholis diterima di Fakultas Kedokteran UI.

Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Abdul Azis Alimuddin

TRIBUN-TIMUR.COM - Sebanyak 57 siswa Sekolah Islam Athirah sukses menembus kampus impian pada 2026.

20 di antaranya berhasil masuk Universitas Indonesia (UI) lewat berbagai jalur.

Capaian ini dibahas dalam Bincang Kampus, Kamis (16/4/2026) dengan tema “Dari Sekolah Islam Athirah ke Kampus Impian”.

Hadir sebagai narasumber Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Islam Athirah 1 Makassar, BJ Gunawan.

Ia didampingi dua siswa berprestasi yang berhasil menembus UI.

Mereka Andi Sitti Fathimah Zahrah Al Ghafirah yang lulus di jurusan arsitektur interior, serta Nayla Adiana Kholis yang diterima di Fakultas Kedokteran UI.

Dalam bincang tersebut, para narasumber membagikan pengalaman serta strategi mereka dalam meraih kampus impian.

Mereka juga menjelaskan berbagai program unggulan di SMA Islam Athirah 1 Makassar yang mendukung kesiapan siswa.

Acara ini dipandu host Tribun Timur Fiorena Jeritno dan dikemas dalam bentuk wawancara khusus.

Apa yang dirasakan setelah lulus jalur talent scouting?

Nayla Adiana Kholis: Saya lulus dari jalur talent scouting.

Jalur ini berbeda dengan SMBP, samanya itu tak melalui tes.

Talent scouting itu kalau lulus masuk kelas khusus internasionalnya.

Untuk program studi (Prodi) Kedokteran ini kalau lulus, masuk kelas internasional sehingga nantinya mendapatkan dua gelar setelah lulus.

Nanti, ada waktu pembelajaran dilakukan di Indonesia, lalu waktu setahun belajar di luar negeri. 

Setelah kembali ke Indonesia akan mendapatkan dua gelar, yakni sarjana kedokteran (S.ked) dan master of research atau master medical sains.

Kesan Anda masuk kampus impian lewat SNBP?

Andi Sitti Fathimah Zahrah Al Ghafirah: Senang dan merasa bangga karena bisa berada di jurusan impian aku dan kampus impianku, Universitas Indonesia (UI).

Ini impianku sejak lama.

Saya merancang lanjut kuliah ketika duduk di kelas 10.

Di  kelas 10 itu, kita disuruh visual board.

Di masa depan mau masuk kuliah apa, jurusan apa, di situ saya masukkan UI dengan jurusan arsitektur interior.

Selang beberapa hari usai pengumuman, guru BK kabari kalau kelas 10 kamu buat visual board kalau mau masuk UI dengan jurusan yang kini kamu diterima.

Apakah ada syarat khusus membuat vision board di Athirah?

BJ Gunawan: Jadi ini berita gembira untuk insan Athirah, tahun ini alhamdulillah ada 57 siswa dari Sekolah Islam Athirah lulus di kampus impian melalui  jalur SNBP, talent scouting, kedinasan, serta internasional, kuliah di Cina dan Inggris.

Tahun ini terbanyak lulus di UI, ada 20 siswa. Salah satunya Nayla Kholis lulus jalur talent scouting.

Sejak Sekolah Islam Athirah berdiri 1994 kita terus coba jalur talent scouting, tahun ini alhamdulillah lulus.

Lulusnya pun dengan sangat membanggakan, Fakultas Kedokteran (FK) Internasional.

Ini bukan tiba-tiba mereka mendaftar kemudian lulus, tapi melalui proses perencanaan.

Sekolah Islam Athirah, khususnya SMA Islam Athirah hadir  untuk mewujudkan harapan orang tua dan mewujudkan cita-cita siswa kami, mulai dari kelas  10.

Dari kelas 10, kami memiliki program visualisasi mimpi.

Seluruh siswa di kelas 10 dari BK membuat visualisasi mimpi, membuat vision board mereka mau kuliah di mana, tamat dari SMA Islam Athirah, mereka lanjut ke mana.

Dulu mungkin kelas 12 baru terpikirkan, dan tu kami pelajari cukup terlambat.

Sehingga beberapa tahun terakhir, kami mengubah dan sejak dini mulai membuat vision board.

Tergambarkan juga di vision board itu, apa sih sekarang sudah dimiliki.

Misalnya, prestasi secara portofolio, di kelas 10 sudah ada apa belum dan apa ingin diwujudkan untuk capai cita-citanya.

Inilah hari ini kita mendengar suatu bukti nyata bahwa ketika Andi Sitti Fatimah Al Ghifarih kelas 10, ada vision board masuk ke UI dan ketika kelas 12 daftar SNBP lulus, setelah lulus dilihat kembali vision boardnya, ternyata berkesesuaian.

Jadi menurut saya ini program terencana, kolaborasi antara sekolah dan orang tua.

Kami dari Sekolah Islam Athirah, khususnya dari SMA Islam Athirah mendukung siswa kami mewujudkan cita-cita siswa kami masuk kampus impian.

Program apa yang mendukung pemetaan karier siswa di Athirah?

BJ Gunawan: SMA Islam Athirah hadir ketika siswa masuk kelas 10, kami menyampaikan kepada mereka disiapkan selama tiga tahun untuk masuk kampus impian.

Ada program mendukung itu, salah satunya pemetaan bakat dan minat sejak kelas 10.

Setelah itu, ada pemetaan profesi. Setelah memvisualisasikan mau jadi apa, kami petakan profesi.

Jadi ketika kelas 11, kami sudah bisa tahu berapa siswa mau jadi dokter, berapa siswa mau bergelut di dunia hukum.

Kemudian siswa membuat perencanaan bagaimana membuat itu.

Program selanjutnya ada observasi kampus.

Kami kunjungan kampus, ke Pulau Jawa, begitu pun di Kota Makassar.

Kelas 12 itu, mereka sudah yakin karena kalau programnya terlambat di kelas 12, anak-anak sekarang sulit, biasanya berubah.

Hari ini mau jadi dokter, besok berubah lagi.

Tapi di siswa Sekolah Islam Athirah, satu layanan kami adalah memastikan pemetaan karier di mulai dari kelas 10, sehingga persiapannya benar-benar matang.

Apa ciri khas program pendidikan di Athirah?

BJ Gunawan: Selain program ke-BK-aan bakat, minat, pemetaan profesi, kami juga berkolaborasi. 

Ini mungkin banyak sekolah belum gunakan, berkolaborasi dengan orang tua.

Kami ada program pekan profesi. Pekan profesi ini menghadirkan profesi dari orang tua, ada dokter, pengacara dan profesi lainnya kami hadirkan di sekolah.

Itu bekerja sama dengan orang tua.

Kami buka pendaftaran, lalu orang tua mendaftar, kemudian masuk di kelas.

Misalnya, anak-anak sudah dikelompokkan di kedokteran, mereka mendapat sharing season selama sejam dari praktisi di bidang tersebut.

Mereka tidak hanya mendapatkan informasi apa dijalani menjadi seorang dokter, tapi akan berinteraksi bagaimana mempersiapkan itu.

Contoh lainnya, mau jadi pengacara, tapi belum tahu jadi pengacara, tantangannya seperti apa, nah pekan profesi itu menjawab.

Jadi mereka sudah memvisualisasikan mau jadi apa, kami datangkan praktisi untuk semakin menguatkan.

Jadi informasi dari orang tua semakin menguatkan.

Kami juga ada program edu fair, kami mendatangkan kampus-kampus terbaik ke sekolah untuk membagikan informasi terkait jurusan-jurusan, karena itu sangat membantu buat siswa untuk memilih jurusan yang tepat.

Sebab, pihaknya masih mendapati siswa di kelas 10 cita-citanya berbeda, kemudian di kelas 11 juga berbeda, alhamdulillah proses itu terkawal dengan baik di Sekolah Islam Athirah.

Kelas 12 cukup singkat bagi siswa, apalagi sekarang ada tes kemampuan akademik (TKA), enam bulan terakhir dis semester ganjil itu mereka mempersiapkan TKA.

Setelah itu dipersiapkan masuk kampus, ada program pembimbingan, mulai SMBP, SMBT juga dan terakhir minggu lalu kami melakukan karantina kepada siswa kelas 12 yang belum lulus undangan untuk persiapan jalur tulis.

Jadi, programnya memang banyak untuk mewujudkan cita-cita siswa kami.

Salah satu keunggulan Sekolah Islam Athirah dari sekolah lain, kami memang costumer oriented, kepuasan customer itu sangat penting.

Kami pun selalu ada survei ke orang tua untuk minta feedback apa yang perlu dilakukan.

Dari hal itu, alhamdulillah kita dapat berita gembira, banyak anak-anak kami mewujudkan mimpinya. Semoga  pekan depan ujian UTBK, kami doakan banyak juga yang lulus.

Apa yang dirasakan selama mengikuti program Athirah?

Andi Sitti Fathimah Zahrah Al Ghafirah: Perjalanan di SMA Islam Athirah 1 Makassar dirasakannya sangat panjang dan banyak program disuguhkan kepada siswa.

Baginya, banyak program bermanfaat, karena kita tidak hanya disiapkan dari segi materi, mempersiapkan dunia perkuliahan, tapi juga disiapkan dari sisi keagamaan.

Selain menguatkan pondasi  kita di akademik, kami juga dikuatkan pondasinya di bidang keagamaan, seperti tahfiz camp dan kegiatan lain berhubungan dengan keagamaan.

Sehingga kita lebih tahu dan dapat menyesuaikan diri.

Jadi, setidaknya ketika merantau nanti, kita tak terlupakan dengan agama sendiri.

Program berkesan menurut saya adalah program village observation (VO), jadi kita sudah disiapkan secara mental menghadapi dunia perkuliahan. VO ini merupakan program hampir sama kuliah kerja nyata (KKN).

Bedanya VO dan KKN, kalau KKN biasanya sebulan, tapi di VO kita cuma seminggu di desa.

Kami banyak kegiatan di desa, seperti mengajar anak di sekolah, bertani, membersihkan masjid dan lain-lainya.

Jadi kami bisa merasakan dunia perkuliahan.

Tak hanya itu, kami ada program karya tulis ilmiah remaja (KIR) yang sama dengan skripsi.

Di sini, kami dibimbing khusus oleh mahasiswa dari berbagai kampus supaya tahu bagaimana skripsi itu melalui dari KIR ini. Jadi tidak kaget lagi di dunia perkuliahan.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved