Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Universitas Muslim Indonesia

Indahnya Toleransi, 4 Mahasiswi Non Muslim Wisuda di UMI Makassar

Serliana yang berlatar belakang Kristen mengaku sangat terkesan awal pertama menginjakkan kaki di Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Muslimin Emba
WISUDA UMI - Kolase empat Wisudawati yang memberikan testimoni selama menempuh pendidikan di UMI dalam acara wisuda hari kedua di Hotel Claro, Jl AP Pettarani, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (17/4/2026). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Suasana haru dan bahagia mewarnai prosesi wisuda hari kedua Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Hotel Claro, Jl AP Pettarani, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (17/4/2026).

Bukan seremonial belaka. Ada kesan mendalam yang terpatri dalam diri setiap wisudawan yang hadir.

Khususnya empat dari 844 wisudawan yang berlatar belakang non-muslim.

Bagi mereka, menjadi minoritas bukanlah penghalang meraih mimpi di UMI.

Sebab di kampus yang berdiri pada 23 Juni 1954 ini, mereka justru merasakan toleransi sesungguhnya.

Tak ada sekat, dan perlakuan berbeda yang dirasakan.

Itulah yang diungkapkan Tristina Wisranje, wisudawati UMI asal Maumere Flores, Nusa Tenggara Timur.

Tristina yang berlatar belakang Katolik, mengaku sempat ragu menempuh pendidikan di UMI.

Terlebih UMI sebagai kampus ilmu dan ibadah, kental dengan nuansa keislamannya.

"Awalnya memasuk UMI itu ragu-ragu, takutnya diterima atau tidak. Tapi, ternyata saya diterima," kata Tristina.

"Selama pendaftaran dari Sekretaris Prodi atas nama Nesha Akbar, saya terima kasih sekali untuk Nesha Akbar atas bimbingan motivasi selama di UMI," lanjutnya.

Baca juga: Kesan Wisudawati Non-Muslim Ikuti Wisuda Hari ke-2 UMI: Di sini Saya Belajar Toleransi Sesungguhnya

Selaras yang dirasakan Tristina, Serliana wisudawati asal Mamuju, Sulawesi Barat juga merasakan indahnya toleransi di UMI.

Serliana yang berlatar belakang Kristen mengaku sangat terkesan awal pertama menginjakkan kaki di UMI.

Utamanya saat dirinya bersama mahasiswa mayoritas muslim lainnya mengikuti pendidikan karakter di Pesantren Darul Mukhlisin, Padanglampe UMI yang berlokasi di Kabupaten Pangkep.

"Di sana saya diajarkan tentang arti toleransi, tidak membedakan satu sama lain," kata Serliana .

"Dan di sana juga kita diajarkan tentang merangkul satu sama lain, juga saya belajar tentang spiritual tentang keislaman yang begitu indah juga," tambahnya.

Serliana pun mengucapkan terima kasih mahasiswa dan tenaga pengajar di UMI yang menerimanya dengan ramah.

"Tidak pernah menyudutkan saya dari sudut pandang apapun itu. Dan dosen-dosen yang selalu merangkul, tidak membedakan suku dan budaya," sebutnya.

Serliana mengaku sempat ditanya oleh teman seangkatannya memilih kampus mayoritas muslim.

Dan Serliana pun menjawabnya dengan optimis, bahwa UMI adalah kampus toleran.

"Saya mengatakan, kenapa tidak? Dan itulah kelebihan dari UMI, tidak membedakan satu sama lain," ucapnya.

Desiana Dewi dari profesi ners, asal Sumba, juga mengungkapkan hal serupa.

Desiana yang beragama Kristen Protestan, bahkan sudah menganggap UMI sebagai rumah keduanya.

"Terima kasih untuk UMI sudah menerima kami sebagai non muslim dan menjadikan kami sebagai rumah kedua di UMI," ungkapnya.

Salah satu pendidikan karakter yang berkesan bagi Desiana adalah pendidikan karakter di Padanglampe.

Pendidikan karakter di Pesantren Darul Mukhlisin itu, membuat Desiana terharu atas toleransi yang disajikan.

"Di situ saya benar-benar merasakan, dihargai dan dianggap. Bahkan makan saja, makan sepiring semeja sama teman-teman yang muslim," kata Desiana.

Begitu juga Sri Radhika, wisudawan beragama Hindu, bersuku Bali, asal dari Luwu Utara.

Wisudawan S1 Teknik Elektro yang sebelumnya berstatus D3 ini, mengaku merasa tidak diasingkan baik oleh dosen maupun teman-teman seperjuangannya.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk para dosen dan teman-teman yang telah membantu saya dalam berbagai hal dan sangat sabar jika saya banyak bertanya mengenai pembelajaran-pembelajaran yang baru di UMI ini," ucap Sri Radhika.

"Kemudian selama di UMI saya banyak belajar mengenai perbedaan-perbedaan tersebut namun tetap tidak menghilangkan toleransi tersebut," tuturnya.

Rektor UMI Prof Hambali Thalib, dalam pidatonya mengatakan, wisuda hari kedua ini memperlihatkan wajah lain dari UMI

Yaitu, wajah kampus yang menggabungkan teknologi, bahasa, komunikasi, pendidikan, kesehatan masyarakat, keperawatan, kebidanan, dan 
pelayanan kemanusiaan.

"Dan karena itu, saya ingin berbicara tentang satu hal; Empati, tentang kepedulian, tentang hati nurani," ujar Prof Hambali.

Menurut Prof Hambali, kecanggihan teknologi tanpa empati hanya akan melahirkan jarak.

Keilmuan tanpa kasih sayang hanya akan melahirkan kesombongan.

Dan profesi tanpa hati nurani hanya akan melahirkan pelayanan yang dingin.

Pada kesempatan itu, Prof Hambali mengutip ayat Alquran Surah Al Isra 70 yang bermakna pentingnya saling memuliakan.

"Ayat ini mengajarkan bahwa setiap manusia dimuliakan. Maka pendidikan harus menjaga kemuliaan manusia. Kampus harus menjadi tempat yang merangkul, bukan menghakimi," imbuhnya.

Selain itu, Prof Hambali juga menegaskan posisi UMI yang menerima semua kalangan tanpa melihat latar belakang.

Dari keluarga yang hidup berkecukupan, sampai yang berjuang dari keterbatasan. Dari kota besar sampai pelosok desa. Dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan dari berbagai negara.

"UMI tempat yang membuka peluang, bukan menutup harapan. UMI sejak awal menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang," sebutnya.

Di hari pertama wisuda, UMI menamatkan sebanyak 1.099 wisudawan dari total 3.024 wisudawan pada periode pertama ini.

Rencananya, pada hari ketiga Sabtu (18/4/2026) besok, sebanyak 1.081 wisudawan di lokasi yang sama.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved