Haji 2016
Tatapan Kosong Torani di Ujung Perjalanan Haji
Di tengah lalu lalang jamaah yang bersiap pulang ke Indonesia, Torani tampak tenggelam dalam pikiran sendiri.
Muh Hasim Arfah
Wartawan Tribun Timur dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi
TRIBUN-TIMUR.COM - Haji Torani (63) berdiri seorang diri di Paviliun D1 Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Kamis (4/6/2026).
Pandangan matanya lurus ke depan. Kosong.
Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri.
Namun tak ada yang benar-benar menarik perhatiannya.
Di tengah lalu lalang jamaah yang bersiap pulang ke Indonesia, Torani tampak tenggelam dalam pikiran sendiri.
Pikirannya melayang jauh kepada sosok yang selama ini selalu mendampinginya. Sang istri.
Perempuan yang berangkat bersamanya menunaikan ibadah haji tahun ini.
Namun takdir berkata lain.
Istrinya meninggal saat bermalam di Mina, beberapa hari sebelumnya.
Sejak itu, perjalanan spiritual yang mereka impikan bersama berubah menjadi kisah perpisahan yang tak pernah ia bayangkan.
Torani kini harus pulang seorang diri.
Kesedihan itu masih terlihat jelas dari wajahnya.
Saat duduk menunggu jadwal kepulangan, ia ditemui Petugas Haji Layanan Lansia dan Disabilitas Daker Bandara, Dita Prihastika.
Dita mendekat dan menyapa dengan lembut.
Sapaan sederhana itu perlahan membuka ruang bagi Torani untuk bercerita.
Dengan suara pelan, ia mulai mengungkapkan isi hatinya.
Ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya.
Ia mengaku tidak sempat melihat makam istrinya.
Bahkan, kabar duka itu baru ia terima beberapa jam setelah proses pemakaman selesai dilaksanakan.
"Kalau saja saya tahu lebih cepat," katanya lirih.
Kalimat itu terhenti beberapa saat.
Seolah ada banyak perasaan yang tak mampu lagi dirangkai menjadi kata-kata.
Yang tersisa hanyalah tatapan kosong dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ia mengenang kebersamaan mereka sejak berangkat dari Indonesia.
Mereka datang berdua.
Menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan harapan bisa kembali ke tanah air bersama.
Namun kini, kursi di sampingnya kosong.
Orang yang selama ini menjadi teman perjalanan hidupnya tak lagi ada.
Dita mendengarkan setiap cerita itu dengan penuh perhatian.
Ia tak banyak menyela.
Hanya sesekali mengangguk dan memberikan penguatan.
Namun semakin lama mendengar kisah Torani, air matanya ikut jatuh.
Beberapa kali petugas haji itu terlihat mengusap wajahnya.
Suasana haru menyelimuti sudut paviliun bandara tersebut.
Sampai pada satu momen yang tak terlupakan.
Saat Dita berusaha menahan tangis, justru Torani yang lebih dulu menyodorkan tisu.
Lelaki yang sedang berduka itu mencoba menenangkan orang yang mendengarkan kisahnya.
Dita menerima tisu tersebut.
Ia lalu mengusap air matanya sambil tersenyum tipis.
Momen sederhana itu menjadi gambaran betapa dalamnya ketegaran seorang Torani.
Meski kehilangan pasangan hidup, ia masih mampu memikirkan perasaan orang lain.
Percakapan keduanya berlangsung hampir satu jam.
Selama itu pula, Torani menumpahkan kerinduan dan kesedihan yang selama ini ia pendam.
Di Indonesia, keluarga besar mereka sedang menggelar tahlilan hari ketujuh untuk almarhumah istrinya.
Sementara itu, ribuan kilometer dari rumah, Torani masih menunggu jadwal kepulangan di Jeddah.
Perjalanan hajinya hampir selesai.
Namun perjalanan menerima kenyataan kehilangan orang tercinta tampaknya masih sangat panjang.
Di antara keramaian jamaah yang bersiap kembali ke Tanah Air, Torani tetap berdiri sendiri.
Dengan tatapan yang sesekali menerawang jauh.
Seakan masih mencari sosok yang semestinya berada di sampingnya.
Sosok yang berangkat bersamanya menuju Tanah Suci.
Tetapi pulang lebih dahulu menuju keabadian.(*)
| Jelang Pulang ke Tanah Suci, Air di Hotel Jamaah Haji Indonesia Tak Mengalir |
|
|---|
| Kisah Haji Bando, 10 Tahun Menabung untuk Berhaji, Meninggal Saat Perjalanan Kembali ke Makassar |
|
|---|
| Haji Bando Meninggal 5 Jam Sebelum Tiba di Makassar |
|
|---|
| Ini Identitas Jamaah Haji Bulukumba yang Meninggal |
|
|---|
| VIDEO: Meriahnya Busana Para Ibu Haji Ini, Wow Emasnya Bersusun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-04-Dita-Prihastika-kanan-menghibur-H-Torani-63.jpg)