Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

Kisah Haru Nenek Jumaria dari Maros, Hidup Sendiri dan Bertani Demi Bisa Berhaji

Di usia 70-an, ia menapaki perjalanan spiritual yang telah direncanakan dan disiapkannya selama lebih dari 20 tahun.

Tayang:
Penulis: Muh. Hasim Arfah | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
NENEK JUMARIA- Jemaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan Nenek Jumaria dalam wawancara eksklusif di Makkah, Jumat (16/5/2026). Ia menceritakan kesehariannya di kampung sebelum berangkat ke Tanah Suci.  (MCH 2026) 

Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKKAH — Nenek Jumaria, jemaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan saat tiba di Tanah Suci. 

Di usia 70-an, ia menapaki perjalanan spiritual yang telah direncanakan dan disiapkannya selama lebih dari 20 tahun.

Dalam wawancara eksklusif di Makkah, Jumat (16/5/2026), Nenek Jumaria menceritakan kesehariannya di kampung sebelum berangkat ke Tanah Suci. 

Setiap pagi ia memulai hari dengan merawat ayam, membersihkan rumah, mengambil air, mencuci, hingga menyiapkan makanan. 

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, ia pergi ke sawah yang relatif jauh dari rumah atau mengurus kebun di dekat rumah.

“Sehari-hari saya tinggal sendiri. Anak-anak sudah punya keluarga masing-masing,” ujar Jumaria.

Meskipun sendiri selama lebih dari 20 tahun, ia mengaku bersyukur karena kini merasa “tertama” dan mendapat teman di seluruh dunia selama menunaikan ibadah haji.

Jumaria mengungkapkan, perjalanan spiritual ini merupakan pengalaman pertamanya ke Tanah Suci. 

Ia mulai menabung sejak tahun 2011, dengan cara mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil dari pertanian dan kerja di kebun milik orang lain.

Proses menabung ini dilakukan selama lebih dari 20 tahun agar cukup untuk membayar biaya pendaftaran haji, sekitar Rp25 juta.

“Kalau dapat uang sedikit, saya simpan setengahnya. Insya Allah bisa ke sini,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia juga menekankan bahwa semua upaya tersebut dilakukan dengan tekad dan kesabaran, menyisihkan kebutuhan pribadi demi mencapai impian spiritualnya.

Selama di Tanah Suci, Nenek Jumaria menjaga kesehatannya dengan pola hidup sederhana.

Ia banyak bergerak, minum secukupnya, dan mengandalkan kebiasaan bertani di kampung sebagai aktivitas fisik yang rutin.

Meski belum pernah menempuh pendidikan formal, ia mampu menata hidupnya secara disiplin, mulai dari bertani hingga menabung untuk haji.

Di kampung, ia menanam ubi jalar, ubi kayu, dan jagung di lahan sekitar 15 are, sebagian untuk konsumsi sendiri.

Ia juga mengaku rindu makanan khas kampung seperti udang, yang menjadi kesukaannya.

“Di sini semuanya baik, tapi saya kangen makan udang di kampung,” ujarnya.

Sebelum menunaikan ibadah haji, Jumaria selalu berdoa agar diberikan kesempatan kembali ke Tanah Suci di masa mendatang.

Keikhlasan, kesabaran, dan ketekunannya dalam menabung serta bekerja keras menjadi teladan bagi banyak jemaah lain yang mengikuti jejaknya.

Perjalanan Nenek Jumaria menegaskan bahwa niat, kesabaran, dan kerja keras dapat mengantar seseorang untuk menunaikan impian spiritual, meski harus menunggu puluhan tahun.

Kisahnya pun menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang menunda atau merasa berat dalam mempersiapkan ibadah haji.

(hasim arfah/mch 2026)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved