Haji 2026
Kisah Nenek Jumariah JCH Maros Dua Dekade Menabung di Ember Demi Berangkat ke Tanah Suci
Di tengah keterbatasan ekonomi, Jumariah berhasil mewujudkan mimpinya menunaikan ibadah haji setelah menabung selama hampir dua dekade.
Ringkasan Berita:
- Nenek Jumariah, jamaah haji lansia asal Maros, Sulawesi Selatan, menjadi inspirasi setelah berhasil berangkat ke tanah suci berkat perjuangan menabung selama hampir 20 tahun.
- Sehari-hari bekerja sebagai buruh sawah dan kebun, ia hidup sangat sederhana dengan makan daun ubi dan telur hasil ternak sendiri agar uang tabungannya tidak terpakai.
- Dengan menyisihkan penghasilan mulai Rp20 ribu hingga Rp200 ribu, Jumariah menyimpan uangnya di dalam ember yang disembunyikan di bawah tempat tidur.
TRIBUN-TIMUR.COM - Sosok Nenek Jumariah, jamaah haji asal Maros, Sulawesi Selatan, menjadi buah bibir dan inspirasi bagi banyak orang di tanah suci.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Jumariah berhasil mewujudkan mimpinya menunaikan ibadah haji setelah menabung selama hampir dua dekade.
Kisah perjuangan Nenek Jumariah bukanlah jalan yang mudah.
Sehari-harinya, ia bekerja keras sebagai buruh sawah dan kebun.
Namun di balik fisik senjanya, tersimpan tekad baja untuk memenuhi panggilan Allah SWT ke Baitullah.
Baca juga: Menyusuri Tenda Arafah-Mina, Wajah Baru Fasilitas Haji Mulai dari Lantai Tebal hingga Urinoir
Demi mengumpulkan rupiah demi rupiah, Nenek Jumariah memilih menjalani gaya hidup yang sangat sederhana.
Ia mengaku sering mengonsumsi daun singkong (ubi) dan telur ayam hasil ternak sendiri agar tidak perlu menyentuh uang yang telah diniatkan untuk naik haji.
"Kalau mau makan, saya petik daun ubi saja atau goreng telur. Uang hasil panen tidak boleh diganggu," ungkapnya dengan suara lirih.
Nenek Jumariah menyimpan uang tergolong sangat tradisional.
Ia menyisihkan upahnya mulai dari Rp20.000 hingga Rp200.000 dan menyimpannya di dalam sebuah ember.
Ember tersebut ia sembunyikan di bawah tempat tidur dan ditutup dengan kain lusuh agar tidak diketahui oleh orang lain, bahkan oleh cucu-cucunya sendiri.
Strategi "tabungan ember" ini ia jalani secara konsisten selama kurang lebih 20 tahun.
Hingga akhirnya pada tahun 2011, uang yang terkumpul dirasa cukup untuk mendaftarkan diri di kantor urusan haji.
Penantian panjang selama 13 tahun sejak mendaftar akhirnya terbayar lunas.
Setibanya di Madinah, Nenek Jumariah tak kuasa membendung air mata, terutama saat memasuki Masjid Nabawi dan Raudah.
| Menyusuri Tenda Arafah-Mina, Wajah Baru Fasilitas Haji Mulai dari Lantai Tebal hingga Urinoir |
|
|---|
| Fajrul Falah, Calon Dokter Muda Berangkat Haji Gantikan Almarhum Ayah |
|
|---|
| Petugas Haji Pastikan Jamaah Sudah Berihram dan Niat Saat Tiba di Jeddah |
|
|---|
| Koper Jamaah Dikawal Ketat, Daker Bandara Pastikan Aman hingga Hotel di Makkah |
|
|---|
| Harapan Jemaah Haji Muda asal Pontianak Ingin Kuburan Almarhum Dilapangkan |
|
|---|