Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

Kisah Nursidah Berangkat Haji Setelah 15 Tahun Menabung, Wafat di Madinah

Nursidah Sinrang Sijarra berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu selama 15 tahun.

Ringkasan Berita:
  • Pelayat terus berdatangan ke rumah duka Nursidah Sinrang Sijarra (59), JCH asal Gowa yang wafat di RS King Fahd Madinah akibat septic shock. 
  • Ia disalatkan di Raudhah Masjid Nabawi dan dimakamkan di Baqi. 
  • Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, namun juga keikhlasan karena wafat di Tanah Suci.
  • Nursidah dikenal sebagai sosok pendiam, sabar, dan taat beribadah. Sejak suaminya wafat, ia membesarkan dua anak dengan penuh keteguhan tanpa banyak keluhan. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Pelayat silih berdatangan kediaman Nursidah Sinrang Sijarra (59) di BTN Minasa Indah, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Senin (27/4/2026).

Nursidah Sinrang Sijarra merupakan Jamaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Gowa.

Ia meninggal disalah satu Rumah Sakit (RS) King Fahd Madinah, Minggu (26/4/2026).

Nursidah Sinrang Sijarra menderita penyakit Septic shock.

Septic shock adalah komplikasi sepsis paling parah yang ditandai dengan penurunan tekanan darah drastis (hipotensi) dan disfungsi metabolik akibat infeksi, yang tidak membaik meski telah diberi cairan, seringkali fatal.

Ia disholatkan di Raodhah Masjid Nabawi sebelum dimakamkan di Pemakaman Baqi Madinah.

Baca juga: Pelayanan Haji di Madinah Diapresiasi Jamaah, Petugas Dinilai Sigap dan Profesional

Nursidah Sinrang Sijarra berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu selama 15 tahun.

Bagi keluarga, kepergian itu menyisakan duka yang dalam, tetapi juga rasa ikhlas yang perlahan tumbuh.

Sebab Nursidah Sinrang Sijarra  pergi di tempat yang selama ini ia rindukan.

Nursidah bukan sosok yang banyak bicara. Ia lebih memilih diam, mendengar, dan hanya menyampaikan hal-hal yang dianggap perlu.

“Beliau orangnya pendiam, sabar, rajin salat, dan berbicara seperlunya,” ujar Haji Muhammad Rizal Faisal Daeng Tojeng kerabat Nursidah.

Kesederhanaan itulah yang justru membuatnya begitu dihormati.

Ia tidak pernah menonjolkan diri, tetapi kehadirannya selalu terasa. Dalam diamnya, ia menyimpan keteguhan.

Sejak suaminya wafat sekitar 12 tahun lalu, Nursidah menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga membesarkan dua anak hingga dewasa.

Tidak banyak keluhan terdengar darinya. Ia menjalani hari-hari dengan kesabaran yang nyaris tak tergoyahkan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved