Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

Kisah Pattimang, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Pungut Rumput Laut

Perjuangannya menjadi calon haji dan akan berangkat Tanah Suci tahun ini akhirnya terwujud.

|
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Kaswadi Anwar
HAJI 2026 - Jamaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) Pattimang (kiri) saat ditemui di Asrama Haji, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (22/4/2026). Pattimang berangkat haji dari hasil menabung penghasilan dari memungut rumput laut. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Kebahagiaan dirasakan Pattimang, warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Perjuangannya menjadi calon haji dan akan berangkat Tanah Suci tahun ini akhirnya terwujud.

Perempuan berusia 85 tahun ini bisa berangkat haji setelah penantian selama 15 tahun.

Ia mendaftar berangkat haji sejak tahun 2011.

Kamis (23/4/2026) subuh Wita, Pattimang bersama 378 jemaah calon haji (JCH) asal Bone dari kelompok terbang (Kloter) tiga akan berangkat ke Madinah.

Pattimang sangat senang bisa berangkat ke haji tahun ini.

Ia berharap, dimudahkan menjalankan rangkaian ibadah selama di Tanah Suci.

“Malomo mua sedding (perasaan senang dan dimudahkan),” katanya saat ditemui di Asrama Haji Sudiang, Kota Makassar, Sulsel, Rabu (22/4/2026).

Untuk berangkat haji, usaha Pattimang tidaklah mudah.

Ia harus menabung berpuluh-puluh tahun dari hasil memungut rumput laut.

Pattimang mendayung sendiri perahu dari rumahnya di Desa Unra, Kecamatan Awangpone ke laut lepas.

Untuk menuju ke lokasi rumput laut, ia menyusuri sungai dan menempuh waktu kurang dari dua jam.

“Dulu saya kerja sendiri, saya dayung perahu tanpa mesin mengambil rumput laut,” tuturnya.

Pattimang mengambil rumput laut hanya menggunakan tangannya.

Rumput laut terbawa arus langsung diambil saja untuk dinaikkan di perahunya.

“Saya facokko ku tasie (saya ambil di laut). Kalau air pasang, saya ambil pakai tangan,” akunya.

Rumput laut didapatkan langsung dijual. Harganya sangat murah, Rp 500 sampai Rp 1.000 per kilogram.

Dari hasil tersebut, ia kumpulkan untuk bisa berangkat haji.

“Bertahun-tahun, taccedde-taccedde (sedikit demi sedikit). Saya kumpulkan berangkat haji,” ucapnya.

Pattimang tinggal bersama saudara laki-lakinya saja. Sedangkan Suaminya telah meninggal 10 tahun lalu.

Di Tanah Suci, ia akan mendoakan saudara laki-lakinya yang sakit diberikan kesembuhan.

“Saya minta doa untuk adik saya tallinge (diberikan kesehatan). Itu mau saya doakan,” ucapnya sembari memperbaiki jilbabnya. (*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved