Pildun 2026
Zovinha, Sang Bintang Tanjung Verde
Kisah Tanjung Verde telah menjadi kisah semua orang. Dari sebuah negara yang tidak dikenal sama sekali.
Catatan M Dahlan Abubakar
Penulis Buku “Ramang Macan Bola”
TRIBUN-TIMUR.COM - Saya sengaja ambil mengecas amunisi (tidur) pada siang hari karena ingin begadang menyaksikan pertandingan antara Spanyol melawan Tanjung Verde pada pukul 24.00 Wita tanggal 15 Juni 2026. Ternyata pertandingan dimulai setelah menyeberang beberapa menit ke tanggal 16 Juni 2026. Saya ingin menjadi saksi bagaimana tim Matador yang pernah menjuarai Piala Dunia dan Piala Eropa menghajar tim tidak dikenal dari ujung barat Afrika itu.
Setiap orang sudah memprediksi, Spanyol bakal membuat Cape Verde (Tanjung Verde) babak belur dalam pertandingan perdana Grup H pada tanggal 15 Juni 2026 dini hari di Stadion Atlanta, Georgia. Gempuran Spanyol yang mendominasi 62 persen jalannya pertandingan memang mengepung kotak 16 pertahanan Tanjung Verde secara bergelombang. Delapan kali tembakan akurat dan terarah pemain Spanyol menyasar gawang Tanjung Verde yang dikawal Zovinha. Namun apa yang terjadi, tidak satu pun bola dengan intensitas tendangan yang penuh tenaga itu berbuah gol. Bola lumpuh di tangan Zovinha.
Satu tendangan yang menurut pandangan penonton seharusnya terkonversi menjadi gol, yakni saat si kulit bundar akan melesat beberapa sentimeter di bawah mistar gawang. Apa yang terjadi, Zovinha secara refleks mampu menepis bola yang meluncur bagai peluru itu lewat di atas mistar. Gol gagal. Dahsyat dan luar biasa.
Delapan penyelamatan gemilang yang sangat mengagumkan itu, tidak heran mengantar Zovinha terpilih sebagai “the best player of the match” pada dinihari itu. Kiper berusia 40 tahun ini benar-benar telah menjadi pahlawan bagi timnya dari kekalahan. Tidak heran di kubu Spanyol wajah-wajah sendu dan kecewa yang luar biasa tampak saat meninggalkan lapangan stadion berkapasitas 75.000 penonton itu. Karena tim yang mereka anggap anak bawang tersebut ternyata tidak mudah ditaklukkan, meskipun mereka menguasai pertandingan secara signifikan.
Saya menyaksikan pertandingan yang berakhir menjelang subuh waktu Indonesia Tengah itu. Saya hanya ingin memastikan, berapa gol Spanyol sarangkan ke jala Tanjung Verde. Namun dugaan saya ternyata semua meleset. Tanjung Verde tidak seasing namanya dalam hajat sepak bola dunia. Negara kecil berpendudukan sekitar 529 630 jiwa ini datang membuat sejarah, meskipun mungkin mereka akan tumbang juga atas tim-tim favorit yang sudah mengukir nama dari Piala Dunia ke Piala Dunia.
Begitu peluit akhir berbunyi di Stadion Atlanta yang diresmikan pada tahun 2017 dan dan disesaki sekitar 50.000 pasang mata itu, kamera bergeser ke sang bintang subuh itu. Siapa lagi kalau bukan kiper Tanjung Verde, Vozinha. Titik-titik bening menyungai pada wajah pemain yang boleh terbilang ‘gaek’ ini. Itu wajar saja, timnya berhasil bermain imbang 0-0 melawan tim yang digadang-gadang sebagai favorit juara Piala Dunia, Spanyol, tahun 2026 ini.
Tribun stadion bergemuruh oleh teriakan ribuan pendukung Tanjung Verde tim yang menghuni peringat 174 FIFA ini, yang tiada henti menyemangati tim mereka tanpa henti lelah selama 90 menit pertandingan yang berlangsung dalam tensi yang boleh disebut tidak seimbang itu. Layar kaca menawarkan pemandangan, betapa tidak seimbangnya pertandingan ini. Tim yang pernah jadi kampiun Piala Dunia dan Piala Eropa terus menghajar tim pendatang baru dari Benua Afrika.
Tetapi penonton disajikan pemandangan yang sangat spektakuler dan dahsyat. Betapa gempuran demi gempuran Spanyol itu mentah di tangan seorang kiper yang sangat percaya diri. Zovinha yang bernama lengkap Josimar Jose Evora Dias yang lahir di sebuah pulau kecil, Sao Vicente 3 Juni 1986.
Mereka merayakan hasil imbang itu dengan berpelukan dan menari. Hari itu, seolah milik mereka. Hari yang sangat bersejarah dalam kehidupan persepakbolaan tim pendatang baru Piala Dunia 2026 itu.
Di lapangan, para pemain berlari saling mendekat dalam kegembiraan. Bahkan penonton yang tidak memihak Tanjung Verde atau pun Spanyol turut terbawa suasana. Saat pertandingan usai, banyak dari mereka ikut merayakan. Betul-betul sepak bola melenyapkan sekat pendukung dan lebih melihat kepada sebuah prestasi dan penampilan.
Melawan Spanyol yang notabene merupakan juara Eropa, kiper veteran Vozinha menampilkan performa terbaik sepanjang hidupnya. Dia berhasil menjaga gawangnya tidak kebobolan sehingga menuai hasil paling bersejarah dalam sejarah sepak bola negaranya.
"Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya," kata Vozinha setelah dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.
"Sayangnya mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal beberapa tahun lalu. Mereka adalah segalanya bagi saya, segalanya dalam hidup saya. Dan juga karena ibu saya. Dia tidak bisa hadir karena visa. Karena biaya yang harus dibayar untuk visa, kami tidak berhasil mendapatkannya tepat waktu. Saya ingin dia ada di sini," ujar Zovinha seperti dilansir BBC.
| Messi Hattrick Argentina vs Algeria, Kafe di Barru Malah Sepi |
|
|---|
| Pertahanan Kokoh ala Yuran di PSM Makassar, Tanjung Verde Bikin Spanyol Mati Kutu di Piala Dunia |
|
|---|
| Nonton Piala Dunia Lebih Murah, Antena UHF Buatan Warga Bulukumba Laris Manis |
|
|---|
| Kreatif Ogah Jiplak, Konveksi Jersey di Pinrang Kebanjiran Berkah Piala Dunia |
|
|---|
| Wajar PSM Rekrut Pemain Jepang, Samurai Biru Buktikan Kualitas Tahan Belanda 2-2 di Piala Dunia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/12112025Dahlan-Abubakar.jpg)