Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

2.074 Hektare Sawah di Bulukumba Terancam Kekeringan

Kepala Dinas Pertanian Bulukumba, Andi Trismiati, mengatakan berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi

Tayang:
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Imam Wahyudi
Tribun-timur.com/Samsul Bahri
MUSIM KEMARAU - Seorang petani di Desa Paenre Lompoe, Kecamatan Gantarang, Bulukumba, Sulsel, menanam padi, Senin (11/5/2026). Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bulukumba mengimbau petani di 10 kecamatan agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca untuk menghindari risiko gagal panen. 

TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Pemerintah Kabupaten Bulukumba mulai mewaspadai potensi dampak kemarau panjang terhadap sektor pertanian tahun ini.

Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, pemerintah mengimbau petani di 10 kecamatan agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca untuk menghindari risiko gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian Bulukumba, Andi Trismiati, mengatakan berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.

Untuk wilayah Bulukumba, musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada Agustus 2026.

“Karena itu kami meminta petani segera mempercepat masa tanam agar bisa panen sebelum musim kemarau tiba,” kata Trismiati, Senin (11/5/2026).

Selain mempercepat masa tanam, petani juga dianjurkan menggunakan varietas padi berumur pendek atau varietas genjah.

Jenis padi tersebut memiliki masa panen sekitar dua bulan sehingga dinilai lebih aman menghadapi potensi kekeringan.

Menurut Trismiati, langkah tersebut penting dilakukan meskipun sebagian besar lahan pertanian di Bulukumba telah memiliki saluran irigasi.

Pasalnya, kemarau ekstrem tetap berpotensi mengurangi debit air irigasi.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Dinas Pertanian juga mengerahkan para penyuluh pertanian guna memberikan edukasi kepada petani terkait pola tanam dan mitigasi musim kemarau.

Data Dinas Pertanian mencatat, lahan sawah tadah hujan di Bulukumba yang berpotensi terdampak kekeringan mencapai 2.074,64 hektare.

Sawah tadah hujan merupakan lahan pertanian yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan tanpa dukungan irigasi tetap.

Sementara luas sawah irigasi di Bulukumba mencapai 20.916 hektare, dengan total keseluruhan lahan persawahan sekitar 22.991,33 hektare.

Pemerintah juga meminta petani tidak terlalu lama menghentikan aktivitas tanam setelah masa panen saat ini selesai agar siklus tanam tidak melewati awal musim kemarau.

Sementara itu, seorang petani di Kecamatan Gantarang, Andi Syamsir, berharap pemerintah segera membangun bendungan dan sumber cadangan air untuk mendukung kebutuhan pertanian masyarakat.

“Sudah seharusnya pemerintah membangun bendungan yang memadai agar petani memiliki cadangan air saat kemarau,” ujarnya.

Menurutnya, ketersediaan sumber air sangat penting untuk menjaga produksi pangan daerah.

Sebab, jika banyak petani gagal panen, pasokan beras di Bulukumba dapat berkurang dan memaksa pedagang mendatangkan beras dari luar daerah dengan harga lebih mahal.(*)


 
 
 
 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved