KLB Campak
Bulukumba Percepat Cakupan Imunisasi Campak
Sebagai upaya antisipasi, Dinas Kesehatan Bulukumba membuka layanan imunisasi campak di berbagai fasilitas kesehatan.
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Abdul Azis Alimuddin
TRIBUN-TIMUR.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bulukumba ingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran campak.
Sejak Januari hingga awal April 2026, tercatat 357 kasus campak di wilayah tersebut.
“Sudah ada 357 orang terkena sejak Januari hingga awal April 2026,” ujar Kadinkes Bulukumba, Amrullah, Senin (13/4/2026).
Seluruh kasus telah mendapat penanganan di fasilitas kesehatan setempat.
Namun, peningkatan kasus tetap menjadi perhatian serius.
Baca juga: 108.772 Anak di Makassar Jadi Target Imunisasi Campak
Pemerintah daerah pun mengajak warga melakukan langkah pencegahan sejak dini, terutama melalui imunisasi.
Sebagai upaya antisipasi, Dinas Kesehatan Bulukumba membuka layanan imunisasi campak di berbagai fasilitas kesehatan.
Masyarakat diimbau segera membawa anak ke puskesmas, rumah sakit, maupun fasilitas kesehatan swasta untuk mendapatkan imunisasi secara gratis.
Amrullah menegaskan, imunisasi merupakan langkah paling efektif mencegah penyebaran campak, khususnya pada anak-anak.
Pemerintah juga tengah menggenjot pelaksanaan imunisasi kejar yang ditargetkan rampung April 2026.
Baca juga: Luwu Siaga Satu Campak
Total sasaran imunisasi kejar mencapai 8.925 anak.
Rinciannya, 1.004 anak untuk imunisasi campak pertama (MR1), 886 anak untuk imunisasi campak kedua (MR2), serta 7.035 siswa kelas 1 SD.
Hingga saat ini, capaian imunisasi menunjukkan progres cukup baik.
Untuk MR1, sebanyak 773 anak atau 76,9 persen telah terlayani.
Sementara itu, capaian MR2 mencapai 639 anak atau 72,2 persen.
Adapun imunisasi untuk siswa kelas 1 SD telah mencapai 5.863 anak atau 83,4 persen.
Meski demikian, upaya peningkatan cakupan imunisasi masih terus dilakukan agar perlindungan dapat merata.
Amrullah menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam pengendalian campak.
Mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah desa, satuan pendidikan, hingga organisasi masyarakat dan keagamaan diharapkan terlibat aktif.
“Diperlukan kolaborasi semua stakeholder agar cakupan imunisasi merata hingga ke desa dan kelurahan,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Humas Pemkab Bulukumba, A Ayatullah.
Ia mendorong masyarakat untuk segera memanfaatkan layanan imunisasi yang tersedia.
“Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat imunisasi campak secara gratis sesuai program pemerintah,” ujarnya.
Dengan kerja sama seluruh pihak dan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan penyebaran campak dapat ditekan.
Langkah ini juga penting untuk memastikan kesehatan anak-anak di Kabupaten Bulukumba tetap terjaga.
Campak di Palopo
Kasus campak di Kota Palopo tercatat mencapai 73 kasus.
Angka ini tersebar di sembilan kecamatan, namun belum masuk kategori KLB.
Dinas Kesehatan Palopo menilai kondisi tersebut masih terkendali.
Salah satu faktor utamanya adalah sebaran kasus yang tidak terpusat di satu wilayah.
Kadinkes Palopo, Irsan Anugrah, menyebut distribusi kasus yang merata membuat situasi berbeda dengan daerah lain di Sulawesi Selatan yang telah lebih dulu berstatus KLB.
“Kasus di Palopo tersebar merata di sembilan kecamatan. Tidak ada lonjakan signifikan di satu wilayah,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, belum adanya peningkatan tajam menjadi alasan status KLB belum diberlakukan di Palopo.
Meski begitu, kewaspadaan tetap ditingkatkan.
Dinas Kesehatan Palopo mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal campak.
Umumnya, penyakit ini ditandai dengan ruam merah pada kulit, mata merah, serta demam tinggi.
“Gejala paling umum adalah ruam merah dan mata merah, yang kadang disertai demam tinggi,” jelas Irsan.
Untuk menekan penyebaran, seluruh puskesmas diminta memperkuat edukasi kepada masyarakat.
Fokus utama adalah penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat diimbau rutin mencuci tangan, menjaga etika batuk, serta menggunakan masker saat berada di tempat umum.
Selain itu, menjaga pola makan bergizi dan istirahat cukup juga dinilai penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Penanganan khusus juga disiapkan bagi pasien dengan gejala berat.
Mereka diarahkan untuk segera mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, pasien dapat dirawat di ruang isolasi guna mencegah penularan lebih luas di lingkungan keluarga.
Upaya medis lainnya dilakukan melalui pemberian vitamin A dosis tinggi, terutama bagi anak usia 0 hingga 12 bulan yang terkonfirmasi campak.
Langkah ini sesuai dengan pedoman Kementerian Kesehatan.
Di sisi lain, vaksinasi tetap menjadi kunci utama pencegahan.
Pemerintah telah menyediakan vaksin MR sebagai bagian dari imunisasi dasar wajib bagi balita, serta imunisasi lanjutan bagi anak usia sekolah.
“Cakupan imunisasi dasar di Palopo cukup baik. Ini membuat penyebaran masih bisa dikendalikan,” ungkap Irsan.
Ia menambahkan, meningkatnya kasus campak di sejumlah daerah di Indonesia turut dipengaruhi oleh rendahnya cakupan imunisasi.
Namun di Palopo, kondisi tersebut relatif lebih terkendali berkat capaian imunisasi yang cukup tinggi.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kepala-Dinas-Kesehatan-Bulukumba-dr-Amrullah-saat-ditemui.jpg)