Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

BBM

Wabup Bulukumba Edy Manaf Pilih Naik Motor, Dorong Efisiensi BBM

Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf, menyikapi kondisi keterbatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan langkah sederhana.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Muh Hasim Arfah
Dokumentasi Pribadi/Edy Manaf
HEMAT BBM- Wakil Bupati Bulukumba, A Edy Manaf naik sepeda motor saat menjalankan tugas, Senin (6/4/2026). Aksi ini bagian dari menghemat BBM. 

Ringkasan Berita:
  • Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf mengaku sejak dulu cukup sering beraktivitas dengan sepeda motor, terutama untuk mobilitas dalam kota.

TRIBUN-TIMUR.COM, BULUKUMBA- Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf, menyikapi kondisi keterbatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan langkah sederhana.

Mulai Senin (6/4/2026), ia berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor sebagai bentuk efisiensi.

Edy mengatakan, kebiasaannya menggunakan kendaraan roda dua bukan hal baru.

Ia mengaku sejak dulu cukup sering beraktivitas dengan sepeda motor, terutama untuk mobilitas dalam kota.

“Naik motor itu sudah biasa bagi saya, bukan karena situasi sekarang saja,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan motor lebih praktis dan hemat untuk jarak dekat, seperti perjalanan dari rumah jabatan ke kantor Bupati yang berjarak sekitar satu kilometer. Rumah jabatan berada di Jalan Anggrek, Kecamatan Ujung Bulu, sementara kantor Bupati di Jalan Jenderal Sudirman No. 1.

Namun, ia menegaskan penggunaan kendaraan tetap menyesuaikan kebutuhan. Untuk perjalanan luar daerah, ia tetap menggunakan mobil dinas.

“Kalau kegiatan dalam kota, motor lebih efisien. Tapi kalau ke luar daerah, tentu pakai kendaraan roda empat,” jelasnya.

Baca juga: 90 Polisi Amankan Perayaan Paskah di Bulukumba

Di sisi lain, masyarakat Bulukumba saat ini menghadapi kesulitan mendapatkan BBM. Sejak Lebaran Idulfitri, antrean panjang terjadi di sejumlah SPBU. Antrean mobil bahkan mencapai sekitar 150 meter setiap hari, sementara sepeda motor juga mengular puluhan meter.

Kelangkaan juga terjadi di tingkat pengecer. BBM jenis Pertalite dalam botol satu liter mulai jarang ditemukan di desa. Jika tersedia, harganya mencapai Rp15 ribu per botol.

Sejumlah Pertamini pun dilaporkan tidak lagi menjual Pertalite karena kesulitan pasokan dari SPBU.

“Di daerah Kindang harganya Rp15 ribu per botol. Kami terpaksa beli daripada harus ke kota dan antre lama,” kata Sahar.

Warga berharap pemerintah segera menormalkan distribusi BBM agar antrean tidak semakin panjang dan harga tetap stabil.

Langkah yang diambil Wakil Bupati dinilai sebagai contoh sederhana dalam mendukung penghematan energi di tengah keterbatasan pasokan BBM di daerah.(*)

Penyaluran BBM Aman

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan penyaluran BBM di wilayah Sulawesi Selatan tetap berjalan dengan pengawasan intensif, meskipun terdapat dinamika operasional di salah satu SPBU yang berdampak pada antrean masyarakat.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved