Harga Solar Eceran Rp20 Ribu per Liter, Nelayan Bone Cari Nafkah Jadi Buruh Angkut
Salah seorang nelayan asal Kecamatan Tanete Riattang Timur, Dindong, mengaku harga solar eceran di wilayahnya mencapai sekitar Rp20 ribu per liter.
Penulis: Wahdaniar | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Tingginya harga solar eceran di Kabupaten Bone menjadi salah satu beban yang dirasakan para nelayan di tengah cuaca yang belum bersahabat.
Salah seorang nelayan asal Kecamatan Tanete Riattang Timur, Dindong, mengaku harga solar eceran di wilayahnya mencapai sekitar Rp20 ribu per liter.
Saat ditemui, Dindong tampak mengenakan pakaian lengan pendek berwarna hitam, celana pendek hitam, dan sandal swallow.
Ia mengatakan, mahalnya harga bahan bakar membuat biaya melaut semakin besar.
Meski demikian, dirinya tetap membeli solar secara eceran.
Menurut Dindong, membeli solar eceran dinilai lebih praktis dibanding harus mengantre di SPBU.
" Masuli metto ku eceran ee (kalau beli eceran memang mahal). Tapi tette meto dielli pe deyelo masussae dena dullai lokka antri (tapi saya pilih beli eceran karena ribet kalau harus antre)," kata Dindong, Rabu (17/6/2026).
Di sisi lain, Dindong mengaku masih menunda aktivitas melaut karena kondisi cuaca yang belum sepenuhnya membaik.
Ia memilih tidak mengambil risiko meski ombak di perairan mulai terlihat lebih tenang.
"Dehhe maladde ombak e tapi metau metokki lokka mattasi (untuk saat ini sudah teduh lagi ombak, tapi tetapki takut untuk melaut)," ujarnya.
Selama menunggu cuaca membaik, Dindong bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Nelayan lainnya, Amir, mengaku kondisi cuaca yang belum menentu dan mahalnya harga solar membuat dirinya untuk sementara waktu berhenti melaut.
Sambil menunggu cuaca kembali bersahabat dan harga solar lebih terjangkau, ia memilih bekerja sebagai buruh angkut di Pasar Bajoe.
Amir mengaku pekerjaan tersebut menjadi alternatif untuk tetap memperoleh penghasilan bagi keluarganya.
" Mancaji parakka-rakka ka dipasar e tajengi magello cuaca e sibawa no hargana solar e (saya sementara jadi buruh angkat di Pasar Bajoe sambil tunggu cuaca membaik dan harga solar turun)," kata Amir.
Menurutnya, menjadi buruh angkut setidaknya dapat membantu memenuhi kebutuhan dapur di tengah kondisi yang sulit bagi para nelayan.
" Dehhe namega wasselena, ne genne mua daripada deaga dipegau nh masuli maneng (tidak banyak pendapatannya, tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari daripada tinggal menganggur, sekarang serba mahal semua,"tandasnya.
Ia berharap cuaca segera kembali bersahabat sehingga dirinya bersama nelayan lainnya dapat kembali melaut dan memperoleh penghasilan seperti biasanya.(*)
| Dua Hari Tiga Malam Antre Solar, 16 Ton di SPBU Kasuarrang Maros Tak Mampu Tutupi Kebutuhan |
|
|---|
| Hanya Melihat Bayangan, Jamaah Haji Asal Bone Berhasil Selesaikan Seluruh Rukun Haji |
|
|---|
| Cuaca Buruk Bikin Nelayan Bone Takut Melaut, Pilih Kerja Serabutan Menunggu Ombak Reda |
|
|---|
| Pohon Jati Tumbang Tutup Jalan Poros Sinjai-Bone |
|
|---|
| Pertamina Sulawesi Pastikan Penyaluran Solar Subsidi untuk Nelayan Sesuai Mekanisme yang Berlaku |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Potret-antrian-kendaraan-di-SPBU-jalan-Jendral-Ahmad-Yani.jpg)