Pengusaha Ikut Siapkan Biaya Makan Jamaah Itikaf di Masjid Agung Bone
Itikaf adalah salah satu ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan berdiam diri di masjid dalam waktu tertentu untuk beribadah kepada Allah swt
Penulis: Wahdaniar | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE — Sejumlah pengusaha hingga warga di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, ikut berpartisipasi menanggung biaya makan jemaah iktikaf di Masjid Agung Al Maarif jalan Jendral Ahmad Yani, Kecamatan Tanete Riattang Barat.
Bahkan beberapa di antaranya telah “membooking” malam tertentu untuk menyediakan konsumsi bagi jemaah yang menjalankan iktikaf di masjid tersebut.
Itikaf adalah salah satu ibadah dalam Islam yang dilakukan dengan berdiam diri di masjid dalam waktu tertentu untuk beribadah kepada Allah swt.
Ibadah ini biasanya dilakukan pada 10 hari terakhir bulan Ramadan dengan tujuan meningkatkan kedekatan kepada Allah dan mencari malam Lailatul Qadar.
Pengurus Masjid Agung Al Maarif Bone, H Zainal Abidin mengatakan, jumlah jemaah iktikaf di masjid tersebut meningkat setiap tahun.
“Tadi malam saja lebih 200 jemaah, sekitar 240 orang yang ikut iktikaf,” kata H Zainal Abidin kepada Tribun-Timur.com, Minggu (15/3/2026).
Menurutnya, jumlah tersebut biasanya meningkat pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Seperti pada malam ke-25, 27, dan 29 Ramadan yang menjadi puncak kegiatan iktikaf.
“Kalau malam ke-27 itu bisa sampai 300 lebih,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsumsi untuk jemaah iktikaf tidak berasal dari anggaran Baznas maupun kas masjid, melainkan dari sumbangan masyarakat.
Setiap malam panitia mengumumkan kesempatan bagi warga yang ingin menyumbang makanan untuk jemaah iktikaf.
“Bukan Baznas yang kasih makan, tapi dari sumbangan. Ada yang memang booking malam tertentu,” jelasnya.
Para donatur tersebut berasal dari berbagai kalangan, mulai dari perorangan hingga pengusaha.
Bahkan salah satu pengusaha telah memesan malam ke-27 Ramadan untuk menyediakan makanan bagi seluruh jemaah iktikaf.
“Semakin banyak orang yang makan, semakin dia senang,” katanya.
Selain menyediakan buka puasa, para donatur juga menanggung makanan sahur bagi jemaah yang bermalam di masjid.
Sebagian besar jemaah iktikaf merupakan anak muda yang datang setelah salat Isya hingga menjelang Subuh.
“Mereka datang setelah Isya, ikut Tarawih, mengaji, ada juga yang istirahat lalu bangun tahajud sampai sahur,” ujarnya.
Salah seorang jemaah iktikaf, Fadli (23), mengatakan ia rutin mengikuti iktikaf bersama teman-temannya selama sepuluh malam terakhir Ramadan.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
“Biasanya kami datang setelah Tarawih sampai sahur. Suasananya tenang, bisa lebih fokus ibadah,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi warga yang menyediakan makanan bagi jemaah iktikaf.
“Kami sangat terbantu karena ada buka dan sahur dari donatur,” katanya.(*)
| Harga Ikan di Pasar Sentral Palakka Bone Tak Turun Usai Lebaran, Pedagang Keluhkan Pembeli Sepi |
|
|---|
| Kronologi Kecelakaan di Bone: Korban Berlari lalu Lompat ke Tengah Jalan, Terseret 8 Meter |
|
|---|
| Rincian Bantuan Andi Sudirman 4 Daerah Ulang Tahun: Bone Tertinggi Rp20 M, Pinrang Terendah Rp5 M |
|
|---|
| Jamaah Asal Bone Kaget Diminta Bayar Tambahan Rp10 Juta Usai Pelunasan Haji |
|
|---|
| WFH ASN di Bone Tak Pengaruhi Antrean di SPBU Watangpone, Beda di Makassar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Potret-Pengurus-Masjid-Agung-Al-Maarif-Bone-H-Zainal-Abidin.jpg)