Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Anak Kerap Ikuti Tren Negatif di Internet, Warga Bone Dukung Pembatasan Medsos

Pemerintah menerapkan aturan ini sebagai langkah melindungi anak dari paparan konten negatif dan perundungan siber.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Meta AI
PEMBATASAN MEDSOS- Potret ilustrasi pembatasan media sosial anak dibawah 16 tahun oleh meta al (9/3/2026). Orang Tua di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan dukung pembatasan medsos anak di bawah 16 tahun. 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Sejumlah warga di Kabupaten Bone memberikan tanggapan beragam terkait kebijakan pemerintah yang akan memblokir atau menonaktifkan akun media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 dan dijadwalkan mulai berlaku secara bertahap pada 28 Maret 2026.

Beberapa platform yang masuk kategori berisiko tinggi di antaranya YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, Threads, X, Bigo Live hingga Roblox.

Pemerintah menerapkan aturan ini sebagai langkah melindungi anak dari paparan konten negatif, perundungan siber, serta kecanduan media sosial.

Salah seorang warga Bone, Rahma (38), mengaku mendukung kebijakan tersebut.

Baca juga: Orang Tua di Bone Dukung Pembatasan Medsos Anak di Bawah 16 Tahun

Menurutnya, anak-anak saat ini sangat mudah meniru apa yang mereka lihat di media sosial tanpa memahami dampaknya.

“Kadang anak-anak langsung praktikkan apa yang mereka lihat di internet. Ada yang ikut-ikut gaya bicara, gaya hidup, bahkan konten yang sebenarnya belum tentu baik untuk mereka,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Rahma mengaku sebagai orangtua sering kesulitan mengontrol penggunaan media sosial anaknya.

Ia menilai pembatasan usia bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi pengaruh negatif dari internet terhadap anak.

“Kalau ada batas usia mungkin lebih baik, supaya anak-anak fokus dulu sekolah dan tidak terlalu larut dengan media sosial,” katanya.

Sementara itu, seorang pelajar di Bone, Ardi (15), memiliki pandangan berbeda.

Ia menilai media sosial tidak selalu membawa dampak buruk bagi anak-anak.

Menurutnya, banyak konten yang juga memberikan manfaat jika digunakan dengan bijak.

“Memang ada konten yang tidak bagus, tapi ada juga yang bermanfaat. Banyak teman saya belajar sesuatu dari TikTok atau YouTube,” ujarnya.

Ardi mengatakan media sosial juga menjadi tempat anak-anak mencari informasi dan hiburan.Namun ia tetap sepakat jika penggunaan media sosial oleh anak perlu diawasi oleh orangtua.

“Kalau diawasi orangtua mungkin lebih baik daripada langsung dibatasi semua,” tandasnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved