Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pipa Rusak Diduga Terdampak Proyek Jalan Koppe-Taccipi, Warga Amali Bone Krisis Air Bersih

Proyek pelebaran jalan nasional KoppeTaccipi di Bone menuai protes. Pipa air bersih diduga rusak akibat pembangunan talud.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun-timur.com/Wahdaniar
PELEBARAN JALAN - Potret pelebaran jalan di Kelurahan Mampotu, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone, Rabu (25/2/2026). Pipa air bersih warga diduga rusak akibat proyek jalan nasional ruas Koppe–Taccipi. Akibatnya, warga terpaksa mengangkut air secara manual untuk kebutuhan sehari-hari. (Sumber: Wahda) 

Ringkasan Berita:
  • Pelebaran dan pengaspalan jalan nasional ruas Koppe-accipi di Kabupaten Bone, Sulsel  diduga merusak pipa air bersih warga Taretta, Kecamatan Amali
  • Aliran air dari Permandian Alam Taretta terhenti total. 
  • Warga kini harus mengangkut air secara manual hingga dua kilometer setiap hari. 
  • Kondisi ini semakin berat karena terjadi saat Ramadan, ketika kebutuhan air meningkat.

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Pelebaran dan pengaspalan jalan nasional ruas Koppe–Taccipi (via Taretta) sepanjang 36 kilometer di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) menuai protes warga.

Proyek yang melintasi wilayah Ulaweng itu dinilai memutus akses air bersih masyarakat di Taretta, Kelurahan Mampotu, Kecamatan Amali.

Warga menyebut pembangunan talud jalan diduga merusak jalur pipa air bersih.

Pipa tersebut selama ini menjadi penyuplai utama kebutuhan rumah tangga yang bersumber dari Permandian Alam Taretta.

Akibat kerusakan itu, aliran air ke rumah warga terhenti total.

Pantauan di lapangan, sejumlah warga terpaksa mengambil air secara manual menggunakan kendaraan pribadi.

Air diangkut pada pagi hari sebelum beraktivitas dan malam hari saat kebutuhan meningkat.

Kondisi ini semakin berat karena bulan Ramadan.

Pada periode tersebut, kebutuhan air untuk memasak, beribadah, dan aktivitas harian meningkat signifikan.

Salah seorang warga, Wandy, bersyukur atas pelebaran jalan yang sedang berlangsung.

Namun, ia menilai seharusnya ada koordinasi dengan warga terkait keberadaan pipa air di area pekerjaan.

“Harusnya ada pemberitahuan sebelumnya. Kenapa kalau begini kami kesusahan cari air bersih. Pipa kami digali alat berat, sementara kami tidak tahu apa-apa,” ujarnya saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (25/2/2026).

Wandy menegaskan warga tidak menolak pembangunan.

Mereka hanya meminta dampak terhadap kebutuhan dasar masyarakat diperhitungkan.

Menurutnya, pipa dari permandian alam tersebut menjadi satu-satunya sumber air di wilayah itu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved