Setelah 15 Tahun, 'Kulit' Patung Raja Bugis Arung Palakka di Watampone Bone Dibersihkan
Patung ikonik di pusat ibu kota kabupaten berpenduduk 827 ribu jiwa ini, dibangun tahun 1990.
Ringkasan Berita:
- Patung Arung Palakka yang ditempatkan di pusat ibu kota kabupaten Bone dibangun tahun 1990.
- Renovasi ini berupa pembersihan ‘kulit’ Raja Bone XV ini, berupa pengecatan ulang setelah lebih 15 tahun.
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Patung Koning der Biugies Arung Palakka (1667-1696) di Taman Arung Palakka, Komplek Lapangan Merdeka, Watampone, Bone, sepekan terakhir, direnovasi.
Renovasi ini berupa pembersihan ‘kulit’ Raja Bone XV ini, berupa pengecatan ulang setelah lebih 15 tahun.
Dari pantauan Tribun, Selasa (3/2/2026) siang, sekitar tiga pekerja, merangkak di perancah scaffolding batang besi.
Satu pekerja membersihkan di bagian kepala dan passapu. Satu lagi, di bagian betis.
Struktur fondasi penopang parung setinggi +10 meter ini belum terjamah.
Dari struktur perancak ketinggian sekitar 11 meter inilah, kaki dua pekerja bersandar di rangkaian pipa logam.
Sejumlah perlengkapan kerja, mesin pencacah, pembersih, ember, dan semprotan air tertampung selama pekerjaan.
Baca juga: Bukit Cempalagi, Jejak Sejarah Perjuangan Arung Palakka yang Membekas di Tanah Bone
Inisiatif pengecetan ulang patung ini dari Bupati Bone Andi Asman Sulaiman.
Biaya dialokasikan dari APBD Bone 2025/2026.
Renovasi terakhir sclupture cor baja semen karya pematung Dicky Chandra, perupa dan guru besar dari Universitas Negeri Makassar (UNM), tahun 2010 lalu.
Saat itu, kepala daerahnya Andi Idris Galigo, menjabat 2003-2013, Bupati ke-12 Bone.
Taman Arung Palakka berada Jl Merdeka, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Watampone.
Karena di Jalan Merdeka, itulah kenapa kebanyakan warga Bone generasi X dan familiar dengan sebutan Lapangan Merdeka.
Penamaan Taman Arung Palakka, kian populer pasca pembangunan patung berusia 35 tahun itu.
Patung ikonik di pusat ibu kota kabupaten berpenduduk 827 ribu jiwa ini, dibangun tahun 1990.
Seremoni peresmian bertepatan Hari Jadi ke-661 Bone pada tanggal 6 April 1991.
Saat itu, inisiator proyek ikon Raja Bone ini datang dari Kolonel (Purn) Andi Sjamsoel Alam, Bupati ke-10 Bone (6 April 1988 -17 April 1993)
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bone, Dray Vibrianto, menyebut pengecatan ulang patung ini bagian dari proyek revitalisasi Taman Arung Palakka, kawasan hijau di depan Rumah Jabatan Bupati Bone.
Di mata pemerintah, selain public photo space, ikon raksasa ini juga sebagai ruang refleksi budaya dan karakter tokoh bangsa itu, termasuk siapa pembuat patung Arung Palakka tersebut.
“Pengecatan tidak langsung jadi. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, mulai dari cat dasar, rekonstruksi warna hitam, hingga lapisan berikutnya dengan sistem layer. Totalnya bisa mencapai empat sampai lima lapisan,” jelas Dray.
Menariknya, bagi Dray Vibriantor, kegiatan pengecatan Patung Arung Palakka ini memiliki cerita tersendiri, bahkan ia menyebutnya seperti sebuah takdir.
Ia mengingat, pengecatan terakhir patung tersebut juga dilakukan saat dirinya masih menjabat sebagai Kasatpol PP Kabupaten Bone pada periode kedua kepemimpinan Idris Galigo sebagai Bupati Bone.
“Saya berakhir sebagai Kasatpol PP pada tahun 2012. Saat itu, saya juga mendapat tugas melakukan pembenahan dan pengecatan patung ini. Dan sekarang, di era kepemimpinan BerAmal, saya kembali diberi amanah yang sama,” ungkapnya dengan nada reflektif.
Mimpi Dicky Chandra
Sejarah proyek patung Arung Pallakka pernah dimuat pemerhati Budaya Bugis A Amir Wija To Bone.
Melalui akun facebooknya, pengurus KKSS Bontang, Kalimantan Timur ini, menulis sekelumit para pekerja patung ini.
“Dicky Chandra mengaku mendapat petunjuk lewat mimpi, sebelum membuat parung ini,” tulisnya.
Dicky adalah pematung nasional dosen tetap di Universitas Negeri Makassar tapi beliau juga sebagai dosen terbang di beberapa Universitas Seni di Indonesia termasuk di ASRI Jogjakarta.
Beliau punya keturunan Belanda, dan campuran dari beberapa suku dari Jawa, Makassar, Manado, dan Bugis Bone.
Sebelum pengerjaan dia, bersahabat dengan seniman Bone, Yudding, atau lebih akrab dipanggil Dien Seni.
Dien Seni inilah ikut andil turut dalam proses pembuatan Patung Arung Palakka.
Dien Seni pulalah yang memperkenalkan Dicky Chandra dengan Bupati Bone, Andi Sjamsoel Alam, sekitar tahun 1990.
Sebelum proyek dibangun, Bupati Bone dan tokoh masyarakat menggelar Seminar Arung Palakka Internasional di November 1990.
Seminar ini l dihadiri oleh para Seniman dan Budayawan, baik lokal maupun internasional.
“Setelah Seminar terlaksana selama tiga hari, pada awal tahun 1991 dibangunlah landasan patung Arung Palakka oleh bapak Andi Ikhlas Siraju, ketua Gapensi Bone dan anggota DPRD Bone. Setelah selesai landasannya barulah dibangun Patung Arung Palakka,"sambungnya.
Dicky Chandra dipercaya sebagai Desainer/Arsitek. Ia membuat dasarnya dari bahan Fiberglass di Makassar secara terpotong-potong, mulai dari kaki sampai lutut, lutut sampai selangkang, pantat sampai pundak, leher sampai kepala dan tombaknya lalu diangkut dengan truk ke Bone.
Dicky Chandra dibantu tiga orang mahasiswanya, salah satunya Husain (Uceng), mahasiswa asal Jl Bajoe, Watampone.
Proses pengerjaan memakan waktu hampir 4 bulan. Selam proses pembuatan, mereka menginap di Sekretariat Sanggar Saoraja, sekitar 50 meter dari Taman Arung Palakka.(*)
| Pria di Bone Cuan Rp30 Ribu per Jerigen Hasil Penyelewengan BBM Bersubsidi |
|
|---|
| Wakil Ketua DPRD Bone Kagumi Permainan Reijnders di Piala Dunia 2026 |
|
|---|
| Yuk Daftar Turnamen Bola Voli Beramal Cup se-Sulsel di Bone, Hadiah Puluhan Juta Rupiah |
|
|---|
| Polres Bone Amankan 33 Remaja Bawa 6 Senjata Tajam |
|
|---|
| Liburan Hemat Rp10 Ribu, Situjutujue Bone Tawarkan Mandi Busa dan Live Musik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260203-Patung-Arung-Palakka-di-Bone.jpg)