BRI
KUR BRI dan Semangat Hermiah Hidupi Keluarga dari Usaha Jagung Rebus
Aroma jagung rebus mengepul dari tungku sederhana milik pedagang Hermiah mengundang selera.
Penulis: Muh Hasim Arfah | Editor: Muh Hasim Arfah
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Aroma jagung rebus mengepul dari tungku sederhana milik para pedagang.
Asap tipis membumbung ke udara, bercampur teriknya cuaca di Jl Poros Malino, Kabupaten Gowa, Sabtu, (23/5/2026).
Di sepanjang jalan itu, deretan lapak kayu berdiri.
Para pengendara yang melintas kerap memperlambat kendaraan mereka hanya untuk singgah membeli jagung hangat sebelum melanjutkan perjalanan.
Di antara para pedagang itu, Hermiah (49) berdiri sambil sesekali membolak balik jagung yang sedang direbus.
Wajahnya terlihat tenang. Senyumnya tak pernah lepas saat melayani pembeli yang datang silih berganti.
Baca juga: Pedas Rasanya Manis Untungnya, Cerita Sukses UMKM Lombok Kuning Simpati Berkat BRI
Bagi Hermiah, lapak kecil itu bukan sekadar tempat berdagang. Dari tempat itulah dirinya membesarkan keluarga selama puluhan tahun.
"Saya jualan di sini dari tahun 1998. Hitung maki itu sudah puluhan tahun. alhamdulillah sejak anak pertama sy lahir hingga anak sy menikah dan punya cucu, semua dari hasil jual jagung," ucap perempuan 46 tahun itu sambil tertawa kecil.
Puluhan tahun lalu, suasana di kawasan tersebut belum seramai sekarang.
Jalan Poros Malino memang telah lama menjadi jalur utama menuju destinasi wisata di Kabupaten Gowa.
Namun kala itu belum banyak warga yang menggantungkan hidup dari jualan jagung rebus.
Hermiah masih mengingat betul bagaimana dirinya harus bertahn dengan pembeli yang tidak menentu.
Kadang dalam sehari hanya beberapa orang yang singgah.
Tetapi ia tetap bertahan sebab dirinya percaya usaha kecil itu bisa membawa rezeki bagi keluarga.
Kini keadaan berubah. Deretan penjual jagung rebus makin ramai memenuhi sisi jalan. Wisata Malino yang semakin populer membuat kawasan tersebut hidup hampir setiap hari.
Mobil pribadi, motor hingga bus pariwisata kerap berhenti hanya untuk menikmati jagung rebus hangat.
"Hermiah menjelaskan sejak dahulu tak banyak warga berjuaan jagung rebus. Beda dengan saat sekarang. Makin ramai karena orang yang bepergian ke wisata Malino, biasa lewat sini. Dan sekarang makin ramai," katanya.
Keramaian itu membawa berkah. Namun di balik meningkatnya pembeli, ada persoalan baru yang harus dihadapi.
Permintaan yang tinggi membuat Hermiah sering kewalahan memenuhi stok jagung.
Saat musim liburan atau event besar berlangsung di Malino, para pedagang bahkan bisa kehabisan bahan baku hanya dalam hitungan jam.
"Apalagi kalau ada acara tertentu seperti orang ke event Beautiful Malino. banyak dari Makassar singgah makan jagung. Di sini biasa kita kehabisan stok," ungkap dia.
Bagi pedagang kecil seperti Hermiah, persoalan terbesar bukan soal mencari pembeli, melainkan modal usaha.
Untuk mendapatkan pasokan jagung dalam jumlah besar dibutuhkan uang tunai yang tidak sedikit.
Sementara keuntungan harian sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dalam kondisi itu, Hermiah mulai berpikir bagaimana caranya agar usahanya tetap berjalan dan tidak kehilangan pelanggan.
Kesempatan itu datang pada tahun 2020. Dari obrolan sesama pedagang, dirinya mulai mengenal program Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari Bank Rakyat Indonesia.
Awalnya ia ragu. Sebab baginya pinjaman harus benar benar diperhitungkan agar tidak menjadi beban di kemudian hari.
Namun setelah berdiskusi dan menghitung kebutuhan usaha, Hermiah akhirnya memberanikan diri mengajukan pinjaman.
"Yang namanya modal pinjaman harus bisa berhitung berapa kebutuhan dan modal yang diperlukan. Saat itu saya ajukan KUR Rp10 juta," ucap dia.
Keputusan itu perlahan mengubah usahanya.
Modal dari KUR membuat Hermiah mampu membeli stok jagung lebih banyak.
Ia juga mulai bekerja sama dengan sesama pedagang agar pasokan jagung tetap tersedia setiap hari.
Kekompakan itu menjadi kekuatan baru bagi para penjual jagung rebus di kawasan tersebut.
Mereka saling membantu dan bersama sama menampung hasil panen petani jagung.
"Karena KUR kita punya modal dan urunan sama sesama pedagang jagung rebus hingga kita bisa disuplai seribu jagung tiap hari," ucap dia syukur.
Bagi Hermiah, bantuan modal bukan hanya soal uang.
Lebih dari itu, KUR memberinya rasa percaya diri untuk membangun hubungan dengan petani pemasok jagung.
Dengan modal yang cukup, dirinya tidak lagi kesulitan membeli stok dalam jumlah besar.
"Bantuan KUR BRI sangat membantu Hermiah untuk membangun kepercayaan dengan petani jagung. Kemarin kemarin itu agak susah karena modal susah dan untung sekali ada KUR sangat membantu sekali," katanya.
Menjelang malam, pembeli masih terus berdatangan.
Sebagian menikmati jagung di tempat, sebagian lagi membawanya pulang sebagai teman perjalanan menuju Malino.
Di tengah keramaian itu, Rahmat Azikin yang kebetulan singgah membeli jagung ikut memperhatikan perubahan kawasan tersebut.
Rumahnya tidak jauh dari deretan pedagang jagung rebus yang kini semakin dikenal warga luar daerah.
"Dibanding 10 tahun lalu, sekarang makin ramai dan penjual jagng di sini tambah eksis," tutupnya (*)
| Pedas Rasanya Manis Untungnya, Cerita Sukses UMKM Lombok Kuning Simpati Berkat BRI |
|
|---|
| Dua Tahun Jalankan BRILink, Arwansa Bantu Warga Desa Akses Layanan Bank |
|
|---|
| Dari Lulusan Bahasa Jerman ke Pengusaha Roti, Muh Nur Bangkit Berkat KUR BRI |
|
|---|
| Dirumahkan Saat Pandemi, Raodah Bangun Fifa Snack Hingga Tembus Toko Oleh-oleh |
|
|---|
| Usaha Roti Nur Fitriyani Tembus Program MBG, Produksi Naik Drastis setelah Dapat KUR BRI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260523_KUR-bri_hermiah-dan-KUR-bri.jpg)