Partai Gelora
Din Syamsuddin: Semangat Voluntarisme di Muhammadiyah Terawat dengan Baik
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005 -2015, Prof Din Syamsuddin mengatakan, semangat voluntarisme di Muhammadiyah.
Penulis: Ivan Ismar | Editor: Muh Hasim Arfah
TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA - PP Muhammadiyah telah menggelar Muktamar ke-48 mengambil tema Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta digelar pada 18-20 November di Solo, Jawa Tengah.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005 -2015, Prof Din Syamsuddin mengatakan, semangat voluntarisme di Muhammadiyah terawat dengan baik selama ini.
Din Syamsuddin menganggap Muktamar hanya sebagai ajang silaturahmi, .
"Bagi warga Muhammadiyah, disadari betul bahwa Muktamar hanyalah ajang silaturahmi, saling bertemu. Karenanya, yang paling hebat itu ada penggembiranya bisa sampai 3 jutaan. Dari kampungnya Pak Anis saja kemarin naik tiga kapal besar, belum lagi dari daerah-daerah lain," kata Din Syamsuddin dalam Gelora Talk bertajuk 'Membedah Agenda Keumatan Muktamar Muhammadiyah ke-48, Rabu (23/11/2022).
Sehingga tukar menukar pemikiran dan proses politik kepemimpinan internal, kata Din Syamsuddin, nyaris tidak ada perdebatan atau kritik, karena semua sudah diselesaikan sebelum Muktamar.
"Semua pemikiran telah dibahas sebelum Muktamar, disiapkan setahun sebelumnya oleh sebuah tim kecil dan sudah disosialisasikan ke berbagai Universitas Muhammadiyah dan pimpinan wilayah. Kemudian dimintakan persetujuan untuk dibawah ke Muktamar," jelasnya.
Baca juga: Anis Matta: Semangat Voluntarisme Muhammadiyah Integrasikan Sistem Keagamaan ke Sistem Kenegaraan
Ada tiga materi yang disiapkan untuk dimintakan persetujuan saat sosialisasi tersebut, yakni mengenai organisasi, kebangsaan dan kemanusiaan.
"Tema-tema ini menjadi menjadi pembicaraan setahun sebelum Muktamar, diselesaikan dalam seminar-seminar dan saya pernah memimpin rapat-rapat para pakar Muhammadiyah itu secara intens," katanya.
Din Syamsudin mengatakan, sejak Muktamar ke-45 tahun 2000 an, Muhammadiyah sudah mulai berbicara kemanusiaan universal seperti membela Palestina dan Muslim di Thailand Selatan.
"Sementara di kehidupan kebangsaan Indonesia, posisi umat Islam sendiri tidak sentral, tidak kuat secara politik, sehingga sering kalah dalam pengambilan keputusan," katanya.
"Hal ini menjadi konsen Muhammadiyah untuk melakukan revitalisasi dalam berbagai potensi, dan diharapkan dapat memberikan efek positif dan dampak sistemik mengenai keberadaan Umat Islam," tegasnya menambahkan.(*)
Baca juga: Jihad Konstitusi Muhammadiyah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Prof-Din-Syamsuddin.jpg)