Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Nestapa Lansia di Negara Maju

Negara maju memiliki lapangan kerja yang cukup, sehingga tingkat pengangguran relative sangat rendah.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Dr Ilham Kadir MA Akademisi dan Peneliti/Sekretaris Umum MUI Enrekang 

Oleh: Dr Ilham Kadir, MA

Sekretaris Umum MUI Enrekang

TRIBUN-TIMUR.COM - DI antara ciri umum negara maju dalam aspek ekonomi adalah pendapatan per kapita tinggi melebihi kebutuhan hidup masyarakat, industrialisasi yang kuat, diversifikasi ekonomi atau memiliki ekonomi tidak hanya bergantung pada satu sektor, ekspor lebih tinggi dari impor, dan infrastruktur yang maju sehingga tingkat pengangguran rendah.

Negara maju memiliki lapangan kerja yang cukup, sehingga tingkat pengangguran relative sangat rendah.

Sedangkan dalam aspek sosial, negara maju memiliki tingkat pendidikan tinggi sebab mereka memiliki sistem pendidikan yang berkualitas tinggi, yang bertujuan menghasilkan tenaga kerja terampil dan inovatif.

Tingkat kesehatan tinggi, akses yang mudah terhadap pelayanan kesehatan, dan harapan dan kualitas hidup tinggi, mereka memiliki harapan hidup lebih lama dan pertumbuhan penduduk cenderung lambat atau bahkan negatif, poin terakhir ini disebut ‘resesi seks’.

Karena itu, setiap negara berusaha untuk menjadi bagian dari negara maju dengan maksud mampu mewujudkan tatanan sosial yang bagus, masyarakat hidup aman, nyaman, sejahtera sehingga setiap warga negara mampu memenuhi kebutuhuan hidupnya dengan mudah, bahkan punya tabungan untuk rekreasi keliling dunia dan simpanan untuk hari tua, dan umur panjang.

Namun kenyataannya, negara-negara maju juga memiliki masalah sosial yang aneh, dan inilah yang akan kita bahas!

Fakta pahit dari negara maju menurut laporan Pew Research Center (2020), bahwa  27 persen orang usia 60 tahun ke atas di Amerika hidup sendirian life alone. Itu berarti, satu dari empat warga lanjut usia (lansia) menghabiskan hari-harinya sendiri.

Tidak tinggal dengan anak, tidak punya pasangan, bahkan tidak tinggal dengan siapa pun. Sebagai perbandingan, bahwa rata-rata global hanya 16 persen lansia dalam sendirian, di negara-negara seperti Afghanistan, Mali, Aljazair, angkanya di bawah 5 persen.

Dan ini bukan saja terjadi di Amerika, sebab di Uni Eropa, seperti Latvia mencatat rekor tertinggi, 49 persen  perempuan usia 65 tahun ke atas hidup sendiri. Negara Jerman, Slovenia, Finlandia, Ceko, sekitar 45 persen lansia hidup dalam kesunyian.

Dan, hampir separuh kakek-nenek di negara maju, menghabiskan usia senja mereka tanpa siapa-siapa di rumah. Kesepian bukan sekadar sedih. Kesepian itu bukan cuma soal tidak ada orang di rumah. Tapi tidak ada yang menyapa.

Tidak ada yang datang. Tidak ada yang peduli. Dan ini punya dampak nyata. Laporan medis menyebut bahwa kesepian kronis meningkatkan risiko kematian setara dengan merokok 15 batang sehari. Ketika seorang menjadi lansia, mereka butuh dihargai, didengar, dan diperhatikan.

Sebab mereka manusia yang punya mata, telinga, mulut, hidung, lidah, kulit, dan hati. Ketika anggota badan itu tak berguna, kematian sudah mulai menyapa secara perlahan.
Stres karena kesepian akan menurunkan imun tubuh, memicu gangguan tidur, meningkatkan tekanan darah, dan memperparah penyakit kronis.

Lambat-laun, tubuh akan melemah, pikiran ikut jatuh. Dan tanpa sadar, hidup berakhir dalam kesunyian, death alone!

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved