Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kisah Vivi dan Ketimpangan Gender di Balik Konflik Warisan Keluarga Tionghoa

Hermin Salon & Spa yang dulunya menjadi milik Vivi AM Haryono kini dikuasai adiknya hanya karena persoalan budaya yang dibenarkan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Sanovra Jr | Editor: Alfian
TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
WARISAN TERKUBUR - Vivi AM Haryono, pemilik Hermin Salon & Spa dan Nasi Tempong Hasanuddin mengungkapkan kekecewaannya atas konflik keluarga yang melibatkan pembagian warisan dihadapkan wartawan, di Kediamannya Jl Hasanuddin, Makassar, Kamis (11/07/2025). Vivi menegaskan, sebagian besar aset keluarga—dikuasai JH, bahkan tabungan almarhumah ibunya dari omzet salon. 

TRIBUN TIMUR.COM, MAKASSAR - Vivi AM Haryono, pemilik Hermin Salon & Spa dan Nasi Tempong Hasanuddin, mengungkapkan kekecewaannya atas konflik keluarga yang melibatkan pembagian warisan dan pengabaian kontribusinya dalam membangun bisnis keluarga. 

Sebagai anak sulung, Vivi merasa jerih payahnya selama puluhan tahun diabaikan, sementara adik laki-lakinya, JH, justru mendapat porsi lebih besar dalam kepemilikan aset.

"Saya yang Kerja Keras, Tapi Adik Saya yang Kuasai Aset," ucap Vivi saat jumpa pers di kediamannya di Jl Sultan Hasanuddin, Kamis (10/7/2025).

Vivi mengisahkan, ia bersama almarhumah ibunya bertahun-tahun membesarkan Hermin Salon.

Namun, setelah sang ibu wafat, JH yang menurut Vivi tak pernah turun tangan langsung justru mendominasi kepemilikan. 

"Saya yang bekerja keras, tetapi adik saya dan istrinya yang menguasai," ujarnya dengan nada getir.

Ketimpangan ini, menurutnya, berakar dari pola asuh yang mengistimewakan anak laki-laki.

Dalam budaya Tionghoa yang dianut keluarganya, anak laki-laki dianggap sebagai penerus utama marga.

"Sejak kecil, adik selalu didahulukan. Katanya karena dia laki-laki," tutur Vivi.

Aset Hasil Keringatnya Dikuasai JH

Vivi menegaskan, sebagian besar aset keluarga termasuk ruko di Hasanuddin dan rumah di Jalan Macan dibeli dari hasil bisnis salonnya.

Namun, kini semuanya dikuasai JH, bahkan tabungan almarhumah ibunya dari omzet salon.

"Jika tidak ingin mengembalikannya pada saya, kembalikanlah kepada Tuhan. Jangan bermegah di atas keringat orang lain. Siri’ na pacce!," tegas Vivi, merujuk filosofi Bugis-Makassar tentang harga diri dan keadilan.

Harapan Terakhir: Keadilan dan Intropeksi Keluarga

Vivi berharap kisahnya menjadi pelajaran bagi keluarga lain agar tidak mengulangi ketimpangan pola asuh berbasis gender.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved