Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Profil Denny Cagur Komedian Ikut Kritik Kebijakan Dedi Mulyadi, Singgung Moral dan Etika

Menurunya, setiap anak menghadapi masalah berbeda-beda dan tidak semuanya bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan kedisiplinan ala militer.

Tayang:
Editor: Ansar
Instagram
PROFIL DENNY CAGUR - Denny Cagur, komedian anggota DPR kritik kebijakan Dedi Mulyadi soal barak militer, sebut bukan solusi. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Sosok Denny Cagur komedian sekaligus anggota DPR RI, turut kritik kebijakan kontroversial Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Kebijakan Dedi dikritik, terkait penanganan siswa bermasalah dikirim ke barak militer.

Dalam pernyataannya, Denny tegas menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap pendekatan tersebut.

Menurunya, setiap anak menghadapi masalah berbeda-beda dan tidak semuanya bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan kedisiplinan ala militer.

“Siswa itu kan permasalahannya berbeda-beda, belum tentu berhubungan dengan kedisiplinan,” ujar Denny.

Ia menekankan permasalahan siswa harus ditangani sesuai dengan jenis masalah dihadapi, bukan disamaratakan.

“Jadi dalam permasalahan yang berbeda-beda, menurut saya harus diselesaikan dengan masing-masing masalah yang berhubungan dengan disiplin, moral, dan etika,” tambahnya.

Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Denny mengusulkan solusi yang lebih personal dan kontekstual.

Ia percaya bahwa setiap siswa membutuhkan pendekatan yang berbeda.

“Menurut saya dicari jalan keluarnya per masing-masing siswa yang mengalami masalahnya tersebut, tidak melulu suatu barak militer menjadi satu-satunya solusi,” tuturnya.

Denny juga berharap kebijakan tersebut bisa ditinjau ulang, terutama dari segi efektivitas dan dampaknya terhadap proses belajar siswa.

“Menurut saya itu perlu dikaji ulang,” kata Denny dengan nada serius.

Ia menggarisbawahi barak militer memang dapat menjadi tempat pelatihan kedisiplinan, tetapi tidak bisa menggantikan fungsi sekolah karena tidak menyediakan kurikulum pendidikan yang lengkap.

Salah satu kekhawatiran utamanya adalah potensi ketertinggalan akademik bagi siswa yang menjalani pendidikan di luar sistem formal selama berbulan-bulan.

“Selain itu juga, jika pendidikan (di barak militer) itu berlangsung selama enam bulan, bagaimana dengan pelajaran si siswa di sekolah, apakah akan tertinggal atau seperti apa,” jelas Denny.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved