Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Waisak Hari Raya Agama Apa? Simak Penjelasan Lengkap dengan Sejarahnya

Hari besar keagamaan ditandai sebagai hari libur nasional. Tahun ini, Hari Raya Waisak 2569 BE jatuh pada Senin, 12 Mei 2025.

Editor: Hasriyani Latif
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
HARI RAYA WAISAK - Umat memasukkan uang koin di depan patung Buddha di Vihara Hemadhiro Mettavati, Cengkareng, Jakarta Barat, 2021 lalu dalam perayaan Hari Raya waisak. Tahun ini, Hari Raya Waisak 2569 BE jatuh pada Senin, 12 Mei 2025. 

Karena peringatan akan tiga peristiwa ini, Hari Raya Waisak juga sering disebut sebagai Trisuci Waisak.

Sejarah Hari Raya Waisak

Pada awalnya, umat Buddha tidak mempercayai adanya Tuhan yang menciptakan dunia, melainkan mengikuti ajaran Siddhartha Gautama.

Siddhartha, yang lahir dari keluarga kaya di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Nepal pada abad ke-5 SM, menyadari bahwa kekayaan tidak menjamin kebahagiaan.

Melalui perjalanan spiritualnya sebagai seorang pencari, Siddhartha menghabiskan enam tahun belajar dan bermeditasi.

Dia akhirnya mencapai pencerahan, yang dikenal sebagai "Buddha", yang berarti "yang tercerahkan".

Setelah mencapai pencerahan, ia menghabiskan sisa hidupnya untuk mengajarkan pengalamannya kepada pengikutnya.

Sejak saat itu, Waisak dirayakan setiap tahun, dengan tanggal yang berubah setiap tahun mengikuti bulan purnama pertama pada bulan lunar kuno.

Umumnya, perayaan ini jatuh pada bulan Mei atau awal Juni.

Di Indonesia, perayaan Hari Raya Waisak berpusat di Candi Borobudur, yang merupakan candi Buddha terbesar di dunia.

Perayaan di Candi Borobudur biasanya dibagi menjadi tiga tahapan utama:

1. Prosesi Pengambilan Air Berkat: Dimulai dengan pengambilan air dari mata air Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor dari api abadi di Mrapen, Kabupaten Grobogan.

2. Ritual Pindapatta: Ritual ini adalah cara untuk memberikan kebajikan kepada umat dengan tujuan untuk mengumpulkan pahala.

3. Samadhi: Dilaksanakan menjelang puncak bulan purnama, di mana umat Buddha berkumpul untuk menyalakan lilin dan memasukkannya ke dalam lampion.

Pada saat puncak perayaan, lentera-lentera yang menyala dilepaskan ke angkasa.

Kegiatan ini dilakukan untuk memohon agar doa-doa umat Buddha segera terkabul.

Dengan pelaksanaan yang penuh makna ini, Hari Raya Waisak tidak hanya menjadi momen perayaan, tetapi juga kesempatan bagi umat Buddha untuk merefleksikan ajaran-ajaran mereka dan merenungkan makna kehidupan.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved