Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kartini dan Perempuan Akhir Jaman

Apakah Kartini masih mewakili semangat wanita Indonesia saat ini? Atau hanya sekedar simbol seremonial? 

Editor: Muh. Irham
ist
Sudarmin TP, Pendidik di SMK Negeri 1 Tana Toraja 

Oleh: Sudarmin TP
Pendidik di SMK Negeri 1 Tana Toraja

RADEN Ajeng Kartini yan diperingati setiap tanggal 21 April dengan berbagai aktivitas, Ditandai deretan kebaya warna-warni menghiasi ruang-ruang publik. Di
sekolah, kantor, hingga media sosial, nama Kartini digaungkan kembali sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia.

Namun seberapa banyak yang kita ketahui tentang makna Kartini di balik selebrasi tahunan ini? Apakah Kartini masih mewakili semangat wanita Indonesia saat ini?
Atau hanya sekedar simbol seremonial? 

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para Kartini akhir jaman yang tidak bisa memungkiri bahwa nilai nilai perempuan jaman Kartini tahun 1900an telah tergradasi
dan mengalami transformasi yang dinamis dan progressif.

Perempuan, Data dan Realita

Perempuan masa kini melangkah melampaui sekat dinding rumah, menjemput dunia dengan gagasan dan karya. Mereka tidak lagi terbatas pada ranah domestik namun
hadir aktif dalam ruang-ruang publik, berkontribusi di berbagai bidang kehidupan. Mereka mengejar pendidikan tinggi, membangun karir, dan menjadi pengambil
keputusan.

Kartini masa kini tidak lagi menulis surat kepada sahabatnya seperti dulu untuk menungkan idenya. Mereka menjadi pejuang FB Pro, membuat thread panjang di X
(Twitter), mengulas buku dan belajar di Instagram, membuat konten edukasi di TikTok, bahkan menjadi pemimpin startup. Ruang digital telah menjadi salah satu
‘meja tulis’ baru bagi perempuan

Mereka bisa mengekspresikan ide, membangun komunitas, hingga menghasilkan pendapatan. Perempuan tidak bisa hanya sibuk mempertahankan eksistensi, tetapi juga ikut menentukan arah perubahan. 

Namun terlepas dari itu, perempuan yang berkarir sebagian besar tetap dianggap memiliki tugas khusus dengan title “urusan perempuan”. 

Tanggung jawab domestik seperti memasak, mencuci, hingga mendidik anak masih membelenggu keseharian imbas budaya patriarki yang telah merupakan warisan mindset berumah tangga meski perempuan sudah berkontribusi dalam ekonomi keluarga, Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, perempuan di Indonesia berjumlah
sekitar 135 juta dimana 51 persen telah memasuki dunia kerja. Artinya lebih dari setengah populasi Perempuan di Indonesia telah setara dengan pria untuk menjadi pejuang
kesejahteraan keluarga. Mengatasi berbagai kebutuhan yang juga bergeser dalam fungsi seiring jaman.

Perjuangan Kartini untuk slogan emansipasi tidaklah semanis faktanya. Mayoritas perempuan Indonesia hari ini menjalani “triple burden”. Berkarir dan bekerja di luar
rumah, namun tetap menjadi ibu yang penuh perhatian serta istri yang harus hadir secara emosional dan fisik dirumah. Tuntutan untuk menyelesaikan berbagai perkara
intern rumah tangga masih merupakan kewajiban mutlak bagi perempuan.

Walau pada dasarnya konsep berumah tangga sesuai tuntunan agama hakikatnya adalah adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam nilai spiritual dan
tanggung jawab moral. Lelaki adalah imam yang bertugas menjadi tulang punggung keluarga dan menjamin kesejahteraan anggota keluarganya lahir dan batin. Pun
dengan itu tetap saja ketimpangan masih dirasakan oleh sebagian perempuan. Selain itu, kasus kekerasan terhadap perempuan masih menjadi masalah serius. 

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2024, terdapat lebih dari 400.000 kasus kekerasan terhadap
perempuan yang dilaporkan.

Dalam dunia digital, perempuan adalah korban tertinggi dalam kasus kekerasan berbasis gender online (Menurut laporan SAFEnet 2023),. Mulai dari pelecehan di
media sosial, doxing, penyebaran foto pribadi tanpa izin, hingga bullyng digital karena pilihan hidup mereka. Sekali lagi ini adalah statistik yang terlapor.

Fenomena gunung es dalam kasus kekerasan terhadap perempuan salah satu faktornya adalah tidak semua perempuan memiliki keberanian untuk melaporkan berbagai
kekerasan yang dalaminya. Sebagian menganggapnya sebagai aib yang harus ditutupi sehingga menyimpan dan menjalani berbagai penderitaan itu sendiri,
Angka ini menunjukkan bahwa perempuan masih rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, baik di ranah domestik maupun public. Emansipasi yang belum seutuhnya
mampu menyelamatkan perempuan sebagai cita cita pelopornya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved