Opini Arif Hukmi
Mudik, Mobilitas Fisik dan Pergeseran Bahasa
Setiap tahun, jutaan perantau pulang ke kampung halamanya membawa serta pengalaman linguistik yang mereka serap selama merantau.
Oleh: Arif Hukmi
Peneliti Pendidikan dan Kebahasaan
TRIBUN-TIMUR.COM - Mudik bukan sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman. Lebih dari itu, mudik merupakan fenomena sosial yang mencerminkan dinamika bahasa dalam masyarakat.
Setiap tahun, jutaan perantau pulang ke kampung halamanya membawa serta pengalaman linguistik yang mereka serap selama merantau.
Dari perubahan logat, penggunaan kosakata baru, hingga pencampuran bahasa daerah, bahasa nasional, bahasa inggris dan bahasa pergaulan sehari-hari. Seiring dengan perpindahan fisik, bahasa juga mengalami pergeseran.
Para perantau yang sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia baku atau bahasa pergaulan di kota-kota besar—sering kali tanpa sadar kembali menggunakan bahasa daerah saat berbicara dengan keluarga atau kerabat di kampung halaman.
Pergeseran ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol keterikatan emosional dengan komunitas asal.
Dalam perjalanan mudik, kita sering menjumpai pergeseran bahasa yang terjadi secara alami.
Misalnya, seorang perantau yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa gaul di kota besar tanpa sadar kembali ke logat daerahnya saat berbicara dengan keluarga di kampung.
Seseorang yang di perantauan biasa mengatakan, "Emang nggak ada, tadi gue sudah cari di mobil," bisa saja tanpa sadar (natural) berubah menjadi, "Sudah saya bilang memang nda ada di tasku."
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan cerminan dari bagaimana bahasa berkembang dan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta interaksi sosial yang berbeda.
Bahkan, fenomena ini sempat viral di TikTok dan Instagram beberapa waktu lalu.
Meskipun dalam beberapa konten pergeseran bahasa tersebut sengaja dibuat, pada kenyataannya, hal ini memang sering terjadi secara alami dalam kehidupan sehari-hari.
Saya sendiri mengalaminya. Saat berkunjung ke Surabaya selama sepekan pada Agustus 2024, tanpa sadar logat Makassar saya kadang-kadang muncul dalam percakapan.
Misalnya, ketika ingin mengajak seseorang pergi, saya secara spontan mengatakan, "Ayo mi jalan" kepada teman yang berasal dari Surabaya, alih-alih "Yuk jalan."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Arif-Hukmi-Peneliti-Pendidikan-dan-Kebahasaan-7.jpg)