Esei Andi Wanua Tangke
Menabur Spanduk
Apa yang terjadi setelah Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengomandoi Polri dan berjejak sekitar lima tahun? Boleh jadi PRESISI sudah berjalan, tapi ...
Oleh: Andi Wanua Tangke
Prosais Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Dengung "Bayar, Bayar, Bayar" : lagu Sukatani Band sudah meredup setelah memuncak dan mendapat respon luas. Reaksi penyair dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang dulu "menyerang" rezim Jokowi dengan puisi pampletnya "Sontoloyo" yang kini membela Polri: juga sudah terkikis oleh waktu.
Di sudut-sudut kota saya, entah di kota lain, tiba-tiba, berhiaskan spanduk seragam. Saya menyebutnya "tiba-tiba" lantaran spanduk-spanduk itu keberadaannya seketika, akhir-akhir ini, saat ramadhan tiba. Saya menyebutnya "seragam" karena kalimat pesan dan warna dasarnya sama semua: merah dan putih. Mirip bendara kebangsaan kita. Tertulis: "Polri untuk Masyarakat." Di bagian tengah atas ada logo: POLRI.
Bolelah saya menduga: spanduk itu dibuat dan dipasang oleh pihak kepolisian di kota saya. Saya menduga karena saya tidak melihat langsung pembuatan dan pemasangan spanduk itu. Siapa lagi kalau bukan pihak Polri?
Untuk apa spanduk seragam itu dipasang di sudut-sudut kota? Mungkin pihak kepolisian merasa perlu menjelaskan ke warga kota bahwa keberadaan kepolisian itu: untuk masyarakat. Tapi bukankah semua orang sudah paham Polri ada untuk kepentingan masyarakat: Memelihara keamanan. Menjaga ketertiban. Menegakkan hukum. Melindungi masyarakat. Mengayomi masyarakat. Melayani masyarakat.
Bila benar pemahaman masyarakat seperti itu, maka untuk apa lagi ditebar spanduk-spanduk: Polri untuk Masyarakat? Tidakkah keberadaannya: sia-sia dan klise, akhirnya berujung pencitraan.
*
Ataukah, ini dugaan saya lagi: pihak kepolisian menyadari dirinya kini nama lembaganya (Polri) kian tercoreng lantaran ulah oknum-oknum polisi yang tak bertanggung jawab? Dengan menaburkan spanduk seperti itu: nama Polri dapat kembali bercitra baik di tengah masyarakat. Menpankah hanya dengan spanduk? Bukankah yang dibutuhkan di tubuh Polri: revolusi mental yang sesungguhnya? Bukan pencitraan.
Ketika Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memaparkan visi kepemimpinannya di depan wakil rakyat di Senayan, lalu tak lama lagi dilantik sebagai Kapolri, sekitar lima tahun lalu, saya optimis dia akan memberi warna baru di dunia kepolisian. Terutama saat dia mengungkapkan konsepnya yang bernama PRESISI: akronim dari prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. Tujuannya: memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat dengan fokus pada penegakan hukum yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Apa yang terjadi setelah Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengomandoi Polri dan berjejak sekitar lima tahun? Boleh jadi PRESISI sudah berjalan, tapi pelanggaran terus mengikis tujuan mulia itu. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oknum-oknum polisi telah "membekukan" niat atau visi baik seorang Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Paradoks dari konsep "Polri untuk Masyarakat" menjadi tontonan di tengah masyarakat, khususnya sekitar lima tahun terakhir ini. Polri memelihara keamanan: kadang terlihat ada oknum merusak keamanan. Menjaga ketertiban: ada oknum merusak ketertiban. Menegakkan hukum: betapa banyaknya oknum mempermainkan hukum. Melindungi masyarakat: justru oknum-oknum menyakiti hati masyarakat. Mengayomi masyarakat: akibat ulah oknum-oknum, mengayomi hanya sekadar kata-kata indah. Melayani masyarakat: banyak masyarakat merasakan kekecewaan lantaran tak dilayani dengan baik.
Membaca tingkah oknum sejumlah anggota kepolisian, akhir-akhir ini, kian parah dan mencemaskan. Dari pangkat rendah hingga pangkat tinggi (jenderal) melakukan perbuatan tak senonoh. Melihat kasusnya: seakan mereka tak pernah melalui pendidikan kepolisian yang ketat dan disiplin. Ada bermain narkoba. Ada bermain perempuan. Ada bermain pencabulan. Ada bermain kriminal. Ada bermain sogok-menyogok. Ada yang mempermainkan hukum. Dan banyak permainan lainnya.
Permainan terbaru dilakoni seorang perwira yang menjabat jabatan keren: Kapolres Ngada AKBP Fajar Widyadharma Lukman Sumaatmaja. Diduga melakukan pelecehan seksual kepada anak di bawah umur: berusia 3 tahun, 12 tahun, 14 tahun. Kebejatan tidak sampai di situ. Sambil melecehkan korbannya, Fajar merekam aksinya. Tragisnya lagi: video itu dikirim ke situs porno Australia. Pihak kepolisian Australia melacak tingkah Fajar. Setelah memastikan peristiwanya terjadi di Indonesia, polisi Australia pun melaporkan ke pihak Mabes Polri. Sungguh memalukan. Apalagi setelah ditangkap dan diperiksa, ternyata Fajar juga penikmat barang terlarang: narkoba. Lengkap sudah!
Untuk meyakinkan masyarakat bahwa Polri benar-benar ingin berubah ke arah lebih baik. Membersihkan diri. Dan terbuka untuk kritik dari masyarakat. Maka boleh menabur spanduk, tapi bukan lagi isinya: Polri untuk Masyarakat.
Beranikah Polri menabur spanduk yang isinya antara lain: Bila menemukan polisi menerima atau meminta sogokan segera laporkan dan telepon langsung ke komandan kepolisian (pihak Polri mencantumkan no hp). Bila menemukan polisi melakukan pelanggaran apa pun bentuknya segera laporkan ke komandan kepolisian (lengkap no hp pihak kepolisian).
Pihak Polri, komandan kepolisian, bila menerima laporan dari masyarakat atas tingkah tak wajar dari oknum-oknum polisi: benar-benar menindaklanjuti. Segera menindak oknum tersebut bila terbukti melanggar. Silakan menabur spanduk. Tentu: bila berani. (*)
| Diperiksa 3 Jam, ASN Korban Dugaan Penganiayaan Ketua DPRD Soppeng Dicecar 26 Pertanyaan |
|
|---|
| Selain Rusdi Masse, Muncul Sosok Lain Disebut-sebut Bakal Gabung PSI saat Rakernas |
|
|---|
| Mahasiswa KKN-T Unhas Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Warga di Tamalanrea Indah |
|
|---|
| Bone, Makassar, Gowa Masuk 5 Besar KUR Sulsel, Cek Skema KUR Mandiri 2026 |
|
|---|
| 5 Kabupaten Pengguna KUR Tertinggi di Sulsel, Simak Syarat dan Angsuran KUR BRI 2026 Rp100 Juta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Wanua-Tangke.jpg)