Balada Amran di Negeri Singkong
Bagi petani singkong Lampung, juru selamat itu bernama Andi Amran Sulaiman. Anak Bugis dari selatan juga
Keputusan ini berlaku secara nasional mulai, Jumat (31/1/2025).
Sontak petani bersorak.
“Turun Rp 50 tak mengapa yang penting bisa diserap,” teriak mereka. Pihak pengusaha juga menerima. Tapi mereka ajukan syarat tambahan: pemerintah harus menyetop impor tapioka. Saat itu juga Amran langsung mengontak koleganya Menteri Perdagangan Budi Santoso. “Mendag sudah setuju stop impor tapioka,” kata Amran.
Tak lupa Amran mengingatkan bahwa keputusan ini harus dijalankan oleh semua pihak, baik petani maupun industri. Jika ada industri yang melanggar kesepakatan maka dikenakan sanksi tegas.
"Kalau ada industri yang melarang harga ini, kami akan beri sanksi. Jangan main-main! Saya bapaknya petani dan industri singkong. Jangan ada yang melanggar komitmen. Industri harus untung, petani harus tersenyum," ujarnya.
Negeri Singkong
Singkong boleh dibilang komoditas hajat hidup orang banyak di Lampung dan daerah lainnya di Indonesia. Bahkan sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai salahsatu negara penghasil singkong terbesar di dunia.
Berlimpahnya produksi singkong di Nusantara, memicu kreativitas masyarakat untuk mengolahnya. Salah satunya menjadi kerupuk.
Dalam catatan Sejarah, singkong atau yang disebut juga sebagai ketela dikenalkan pertama kali oleh bangsa Portugis pada sekitar abad ke-15 dan 16. Meski umbi-umbian yang satu ini sejatinya berasal dari wilayah Amerka Selatan.
Melimpahnya produksi singkong pada dan pasca era cultuurstelsel (tanam paksa) yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Pada era itu, setiap desa diwajibkan menyisihkan sebagian lahannya untuk ditanami komoditas yang dinilai menguntungkan seperti teh,kina,kopi, dan kakao.
Situasi ini membuat akses terhadap padi jadi terbatas. Pasalnya, sebagaian besar lahan digunakan untuk tanaman yang dinilai lebih cuan.
Tak ayal, masyarakat pun hanya bisa menanam singkong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemerintah Hindia Belanda sendiri telah mengimbau pribumi menanam singkong sebagai solusi dimasa paceklik.
Tak dinyana, poduksi singkong justru melimpah di era yang sama. Hal ini membuat kreativitas masyarakat diuji. Untuk mengolah hasil panen singkong yang berlimpah itu.
Surplus singkong kala itu direspons dengan pembangunan pabrik tapioka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/MENTAN-Menteri-Pertanian-Andi-Amran-Sulaiman-di-kantor-Kementan-5454.jpg)