Opini
Kritisisme Buzzer
Para buzzer adalah pahlawan palsu dari era ini. Mereka hadir di setiap celah linimasa, mengibarkan bendera kritis, tetapi hanya untuk membakar.
Oleh: Afiq Naufal
Penulis Antologi Puisi (kumpulan puisi) ‘Hikayat Angin’
TRIBUN-TIMUR.COM - Dunia kita hari ini, adalah panggung gaduh tanpa dalang. Sebuah arus deras yang menyeret pikiran-pikiran dari akar tempatnya tumbuh.
Tak ada yang bertanya lagi, "Apa makna di balik semua ini?" karena yang penting adalah, “Seberapa keras suaramu?” Kritisisme, yang dulu adalah lentera bagi mereka yang mencari arah, kini terjebak dalam lumpur perdebatan tanpa tujuan.
Kritisisme buzzer, begitulah saya menyebutnya. Ia adalah tiruan murahan dari tradisi mulia yang pernah digagas oleh Adorno, Horkheimer, dan para peziarah Frankfurt lainnya. Jika dulu kritisisme adalah revolusi pikiran, kini ia telah menjadi kekacauan yang terorganisasi.
Para buzzer adalah pahlawan palsu dari era ini. Mereka hadir di setiap celah linimasa, mengibarkan bendera kritis, tetapi hanya untuk membakar.
Mereka berteriak bukan untuk menggugat, melainkan untuk menghancurkan. Mereka menyerang tanpa gagasan, hanya amarah yang menyalak, hanya kebencian yang memandu.
Saya teringa Horkheimer, yang pernah berkata bahwa kritisisme sejati adalah upaya menyalakan lentera di dalam gua gelap masyarakat.
Lentera itu tak hanya membakar struktur yang menindas, tetapi juga menerangi jalan baru. Namun, di dunia kita, lentera itu telah padam. Apa yang tersisa hanyalah korek api buzzer, yang menyala sebentar, hanya untuk membakar diskursus yang lebih besar.
Ketika dulu Horkheimer menggugat positivisme yang membungkam kritik dengan angka-angka, kini kita menghadapi algoritma media sosial yang lebih berbahaya.
Positivisme hanya mengerdilkan manusia menjadi angka; algoritma ini mengubah manusia menjadi sekadar suara kosong yang berlomba memikat perhatian.
Di sinilah kritisisme buzzer mengambil panggung. Mereka mencuri semangat kritis, hanya untuk memoles kebohongan dengan estetika perlawanan. Mereka tidak peduli pada kebenaran, hanya pada siapa yang lebih banyak mendapat likes, lebih banyak views.
Kritisisme, seperti yang digagas oleh tradisi Frankfurt, adalah seni menolak dogma.
Ia adalah upaya terus-menerus untuk melawan homogenitas, untuk memeluk kompleksitas. Namun, kritisisme buzzer hanya mengenal satu warna: hitam atau putih.
Bayangkan, bagaimana dunia kita hari ini telah kehilangan kedalaman. Di setiap perdebatan, tidak ada ruang untuk nuansa, hanya kutub-kutub yang saling menuding.
Jika kau bertanya, “Mengapa?” buzzer akan menjawab dengan cemoohan. Jika kau berkata, “Mari kita pikirkan lebih dalam,” mereka akan memanggilmu lamban, pengecut, atau bahkan pengkhianat.
Para filsuf dulu membangun kritik dari fondasi refleksi yang panjang. Kini, kritik dibangun dari trending topics, disulap menjadi slogan, lalu diarak seperti karnaval digital. Tidak ada argumen, hanya panji-panji kebencian yang dikibarkan.
Kita perlu berhenti dan menatap kenyataan ini. Dunia kita telah menjadi dunia yang terjebak dalam emosi tanpa refleksi. Emosi adalah bahan bakar, tetapi tanpa pikiran yang memandunya, ia menjadi api liar yang melahap segalanya.
Aku ingat Sapir-Whorf, teori yang mengatakan bahwa bahasa membentuk cara kita berpikir. Di era buzzer ini, bahasa telah direduksi menjadi peluru-peluru pendek, dirancang untuk menembus hati, bukan untuk mengubah pikiran. Kata-kata telah kehilangan kedalamannya, menjadi alat untuk memecah, bukan menjahit.
Adorno pernah mengingatkan bahwa budaya massa adalah alat untuk melumpuhkan kritik. Namun di era ini, budaya massa telah menemukan bentuk baru: media sosial. Ia adalah pengulangan abadi dari apa yang ingin kita dengar, tanpa pernah mengizinkan kita berpikir.
Di dunia ini, kita hidup di zaman tanpa ide. Segalanya berjalan begitu cepat sehingga refleksi tidak pernah punya waktu untuk tumbuh. Ide besar membutuhkan keheningan, tetapi keheningan telah hilang dari dunia kita. Yang ada hanya kebisingan yang saling berlomba untuk mendominasi.
Dan di sinilah buzzer mengambil peran. Mereka adalah aktor dalam drama ini, yang tidak pernah bertanya apa arti dari semua ini. Mereka hanya tahu bagaimana membuat penonton berteriak, tanpa pernah memberi mereka sesuatu untuk dipikirkan.
Kita perlu menemukan kembali keberanian untuk merenung, untuk melambat, untuk membangun ruang-ruang diskusi yang penuh dengan ide, bukan emosi. Kita perlu memeluk kompleksitas, karena hanya dengan begitu kita bisa memahami dunia ini dengan utuh.
Kritisisme buzzer adalah refleksi dari zaman kita—zaman di mana segala sesuatu diukur dari seberapa keras kita bersuara, bukan seberapa dalam kita berpikir. Namun, saya percaya bahwa kita masih bisa menemukan jalan keluar dari kekosongan ini.
Kritisisme sejati tidak akan mati selama masih ada orang yang berani bertanya, “Mengapa?” dan tidak puas dengan jawaban yang dangkal. Mari kita menjadi lentera di tengah gelap, bukan api yang membakar tanpa arah.
Karena, pada akhirnya, kritisisme adalah tentang mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan. Dan hanya dengan kebenaran itulah, kita dapat membangun dunia yang lebih baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Afiq-NaufalPenulis-Antologi-Puisi-kumpulan-puisi-Hikayat-Angin.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.