Opini
Stunting: Ketika Akses Pangan Tidak Merata
Lebih dari sekadar gangguan pertumbuhan fisik, stunting menyebabkan gangguan neurokognitif yang tidak dapat diperbaiki.
Oleh: dr Airah Amir
Pemerhati Kesehatan Masyarakat
TRIBUN-TIMUR.COM - STUNTING tak semata persoalan kesehatan, akses pangan yang tidak merata menjadi salah satu
penyebab pemenuhan hajat hidup ibu dan anak yang jauh dari semestinya.
Lebih dari sekadar gangguan pertumbuhan fisik, stunting menyebabkan gangguan neurokognitif yang tidak dapat diperbaiki.
Juga akan terjadi peningkatan risiko penyakit kronis di masa dewasa.
Pangan adalah kebutuhan dasar yang sangat penting bagi setiap bangsa.
Kemudahan dalam akses pangan akan berpengaruh besar terhadap kemajuan suatu bangsa sebab pangan yang lengkap dan memenuhi standar gizi membuat kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi sehingga diharapkan akan membentuk SDM yang berkualitas.
Akses pangan menjadi sulit dijangkau akibat tingginya harga beberapa bahan pangan yang menyebabkan masalah bagi masyarakat di beberapa daerah terutama di wilayah 3T (terdepan, terpencil dan tertinggal).
Fakta saat ini adalah harga kebutuhan pokok seringkali naik tidak terkendali di tengah daya beli masyarakat yang terus menurun.
Tak dimungkiri hal ini menyebabkan hidden hunger atau kelaparan tersembunyi akibat kekurangan gizi mikro.
Tercatat 41.785 anak stunting di Sulsel. Sedangkan di Makassar angka stunting mengalami kenaikan signifikan dari 18,4 persen menjadi 25,6 persen.
Target nasional sendiri diharapkan stunting berada di angka 14 persen. (tribuntimur.com, 15/10/2024)
Secara nasional, menurut Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stunting sebesar 21,5 persen yang menunjukkan angka stunting hanya turun 0,1 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 21,6 persen di tahun 2022. (kemkes.go.id, 25/7/2024)
Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr.Maria Endang Sumiwi,MPH mengatakan stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita karena kurangnya asupan gizi atau asupan gizi yang tidak adekuat.
Penyebab lainnya juga karena kurangnya stimulasi asupan gizi.(kemkes.go,id).
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulsel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dr-Airah-Amir-Dokter-dan-Pemerhati-Kesehatan-Masyarakat-45.jpg)