Opini
Banjir: Refleksi Relasi Manusia dan Alam
Jumlah ini menunjukkan betapa besar bencana banjir yang terjadi, mengancam kehidupan ribuan orang dan merusak infrastruktur
Oleh: Muammar
Alumni Magister Agama dan Lintas Budaya, UGM
TRIBUN-TIMUR.COM - BELAKANGAN sebagian wilayah di Sulsel terdampak banjir dan longsor, termasuk di Makassar.
Saat tulisan ini dibuat, laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), dampak banjir yang terjadi semakin parah.
BPBD mencatat jumlah pengungsi kini telah mencapai 2.551 jiwa.
Jumlah ini menunjukkan betapa besar bencana banjir yang terjadi, mengancam kehidupan ribuan orang dan merusak infrastruktur yang telah dibangun dengan biaya besar.
Banjir bukan hanya menghancurkan properti, tetapi juga menambah beban sosial-ekonomi yang sudah dirasakan masyarakat.
Namun, Makassar bukanlah satu- satunya kota yang mengalami bencana ini. Beberapa kota besar lainnya di Indonesia
juga menghadapi permasalahan serupa, dengan dampak yang tak kalah besar.
Banjir telah menjelma menjadi masalah nasional yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Setiap tahun, banjir datang melanda, dan seolah menjadi bagian dari siklus alam yang tidak dapat dihindari.
Namun, jika kita merenung sejenak, apakah ini benar-benar fenomena alam semata? Atau ada ulah manusia yang turut berperan dalam memperburuk keadaan?
Penyebab utama banjir yang terus berulang ini sering kali dikaitkan dengan pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan, perubahan fungsi lahan, dan persoalan sampah.
Alih fungsi lahan, seperti penggundulan hutan dan pembangunan di kawasan resapan air, menyebabkan ketidakseimbangan alam.
Dengan semakin terbatasnya lahan yang dapat menyerap air, banjir menjadi tak terelakkan.
Selain itu, pengelolaan tambang yang tidak memperhatikan aspek lingkungan juga turut memperburuk keadaan.
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulsel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muammar-Alumni-Magister-Agama-dan-Lintas-Budaya-UGM-4.jpg)