Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kekuasaan dari yang Maha Kuasa

Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.

|
Editor: Sudirman
Ist
Muammar Bakry, Sekum MUI Sulsel dan Rektor UIM Algazali 

Oleh:  Muammar Bakry

Sekum MUI Sulsel dan Rektor UIM Algazali

TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam tradisi ibadah setelah subuh dan magrib sering dijadikan zikir ayat berikut: 

Qulillahumma malikal-mulki tu`til-mulka man tasya`u wa tanzi’ul-mulka mim man tasya`u wa tu’izzu man tasya`u wa tutillu man tasya`, biyadikal-khair, innaka ‘ala kulli syai`ing qadir (QS. Ali-Imran; 26).

Terjemahnya: Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki.

Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.

Di tangan-Mu segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kekuasaan adalah kenikmatan hidup yang menjadi impian semua orang yang punya obsesi kepemimpinan.

Disebut sebagai kenikmatan hidup karena sejumlah fasilitas seperti akomodasi, biaya terkait tugas dan fungsi, biaya rumah tangga, hingga biaya perawatan kesehatan dan seterusnya melekat padanya.

Belum lagi seorang penguasa memiliki power dalam mengatur dan mengelola segala urusan dan kebutuhan hajat hidup orang banyak, tentu menjadi harapan semua orang kepadanya.

Nikmat kekuasaan itulah yang menggiurkan banyak orang untuk berkuasa, bagi yang sudah merasakannya teramat berat baginya untuk ditinggalkan.

Itulah kenapa ayat di atas Allah SWT menggunakan kata-kata “Tanziu” artinya mencabut. Karena semua orang yang berkuasa nyaris berpikir dan berkeinginan untuk melanggengkan kekuasaannya selama mungkin.

Ibarat paku yang dicabut dengan alat yang menggunakan kekuatan keras yang bisa menggores hati, maka tidak sedikit di akhir jabatan ada tetesan air mata.

Seorang yang menanggalkan jabatannya merasakan kesedihan bagai orang yang terpisah dengan keluarga yang dicintai. 

Efek yang bisa hadir dalam kondisi kejiwaan setelah ia tidak menjabat adalah post-power syndrome yakni susasana jiwa akibat perubahan drastis karena kehilangan aktivitas, kekuasaan, harta, dan sebagainya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved