Opini
Politik Uang dan Pilkada ala Nicollo Machiavelli
Saya juga memerhatikan hari-hari ini sangat jelas pergulatan pertarungan diberbagai platform media sosial dan bahkan tak sedikit yang saling bertarung
Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Founder Anak Makassar Voice
TRIBUN-TIMUR.COM - Tidak lama lagi KPU akan menetapkan para calon Walikota, Bupati hingga calon Gubernur.
Kita akan memasuki fase di mana adalah fase kampanye. Namun, saya banyak memerhatikan fase ini adalah fase sulit saat setiap pendukung para calon pastinya akan memenangkan calonnya masing-masing.
Saya juga memerhatikan hari-hari ini sangat jelas pergulatan pertarungan diberbagai platform media sosial dan bahkan tak sedikit yang saling bertarung satu sama lain.
seperti ada yang saling caci mencaci, saling jatuh menjatuhkan untuk sekedar memenangkan citra baik para calonnya di ruang publik dan berbagai platform media sosial hingga hari ini.
Tentu suatu fenomena yang tak sehat dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebab kultur sopan santun yang kita anut selama ini pun seakan makin tergerus pada hidup kita, dan hal tersebut terjadi pada momentum pilkada ini, tak ada lagi nilai-nilai moral, tak ada lagi hikmah, tak ada lagi nilai-nilai luhur, paling penting dalam momentum ini tak ada saling memanusiakan manusia, yang dominan hanyalah menggunakan segala cara untuk memenangkan citra masing-masing calon.
Tiba-tiba saya teringat Niccollo Machiavelli, ia adalah filsuf politik Italia, seorang pemikir.
Ia berkata bahwa sebagai seorang penguasa, tujuan yang ingin dicapai akan membenarkan segala cara, Machiavelli berpendapat bahwa para penguasa harus berusaha mempertahankan atau memperluas kedudukan mereka, bahkan jika tindakan tidak bermoral dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Kita garis bawahi tindakan tidak bermoral dapat dilakukan untuk mencapai satu tujuan politik.
Kita pastinya berpikir, bahwa ketika teori ini menjadi dasar dalam proses demokrasi dan juga proses pemenangan para calon pemimpin pada momentum pilkada pastilah saling bertolak belakang.
Soalnya, tak ada pertimbangan nilai-nilai luhur, mulia dan paling penting tak ada timbangan etika.
Hal mana kultur kita sendiri adalah kultur-kultur yang sarat akan nilai-nilai. Seperti misalnya kultur sopan santun.
Melihat cara berpolitik kita dengan momentum pilkada ini, pastinya kita menghalalkan segala cara untuk memenangkan calon kita.
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulawesi Selatan |
|
|---|
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Andi-Yahyatullah-Muzakkir-Founder-Anak-Makassar-Voice-56.jpg)