Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Solidaritas untuk Palestina dan Stigmatisasi Antisemitisme

Di saat bersamaan, ayahnya, Mohammed Abu al Qumsan masih dalam perjalanan dari rumah sakit mengambil akta kelahiran sang buah hati. 

Editor: Sudirman
Ist
Syamsul Arif Galib, Bersama Institute for Interfaith Encounter and Religious Literacy   

Oleh: Syamsul Arif Galib
 
Bersama Institute for Interfaith Encounter and Religious Literacy
 
Asser dan Ayssel masih berumur tiga hari saat bom menimpa rumahnya.

Bom itu seketika merenggut nyawa mereka dan juga ibunya.

Di saat bersamaan, ayahnya, Mohammed Abu al Qumsan masih dalam perjalanan dari rumah sakit mengambil akta kelahiran sang buah hati. 

Dalam sepersekian detik, kegembiraanya untuk menunjukkan akte keliharan itu ke pada istrinya berubah.

Bom yang dijatuhkan Israel merenggut kebahagiaannya. Memisahkannya dari Asser, Ayssel dan sang istri.
 
Dalam keadaan terluka dan ketakutan, Hind Rajab, seorang anak kecil perempuan berumur enam tahun menghubungi tim paramedis seraya meminta bantuan.

Saat itu, Hind berada di dalam mobil yang dipenuhi oleh jasad keluarganya yang mati karena ditembaki oleh tentara Israel.

Dalam situasi ketakutan dan terluka, Hind kecil menghubungi Ibunya dan juga paramedis seraya meminta bantuan.

Paramedis yang mencoba menolongnya tidak berhasil menuntaskan misinya.

Mereka ikut terbunuh sebelum mencapai lokasi. Jasad Hind Rajab sendiri baru ditemukan sepuluh hari sejak dirinya mencoba menghubungi pihak paramedis.

Tubuh kecilnya berada di antara jasad-jasad keluarganya di dalam mobil yang mereka tumpangi untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman.
 
Nabila Ahmed Bhar, harus menyaksikan anaknya Muhammed Bhar, seorang pemuda dengan down syndrome mendapatkan serangan dari anjing militer milik tentara Israel.

Anjing itu menggigit dada dan tangan Muhammed Bhar.

Bhar hanya bisa berteriak menerima serangan anjing militer itu tanpa bisa melawan sedikitpun. Adapun keluarganya dilarang untuk membantunya. 

Setelah serangan anjing militer itu, Bhar lalu dipisahkan dari keluarganya.

Keluarganya dipaksa untuk meninggalkan rumah tanpa Bhar bersama mereka.

Tujuh hari kemudian saat mereka kembali. Bhar ditemukan telah meninggal dengan sisa luka karena gigitan anjing militer di tubuhnya.
 
Parade-parade kekejaman tersebut adalah parade kekejaman yang dialami oleh masyarakat di Palestina pasca serangan Israel atas Gaza Hampir setiap hari kita disuguhi oleh video-video yang mengoyak rasa kemanusiaan kita dan membuat kita mempertanyakan eksistensi manusia.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved