Opini
Teka Teki Mundurnya Airlangga
Sabtu, 10 Agustus lalu resmi menyatakan mengundurkan diri sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar.
Oleh: Armin Mustamin Toputiri
Pengamat Sosial Politik
TRIBUN-TIMUR.COM - Tak ada badai tak ada hujan, tetiba di siang bolong, kilat datang menerjang pohon beringin yang berdaun rimbun itu.
Pucuknya seketika terkulai layu, lalu patah dan jatuh ke bumi.
Sekira demikianlah alegori tepat, mengilustrasikan situasi dan kondisi ketika Airlangga Hartarto tetiba melakukan manuver, sama sekali tak terduga.
Sabtu, 10 Agustus lalu resmi menyatakan mengundurkan diri sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar.
Publik eksternal terhentak, internal Golkar terlebih lagi. Bagi jajaran internal Golkar, sikap ditempuh Airlangga semacam tragedi, seolah mustahil terjadi.
Bukankah dua agenda strategis Pemilu 2024 lalu, Airlangga sukses membawa Golkar meraih prestasi cukup gemilang.
Selain berhasil menghantar Prabowo-Gibran memenangi Pilpres, pula sukses mendongkrak perolehan kursi Golkar di DPR-RI pada Pileg. Dari 85 kursi, meningkat tajam menjadi 102 kursi.
Atas prestasi itu, seluruh jajaran internal -- pemilik suara dalam Munas Golkar, mulai struktur berjenjang hingga Ormas mendirikan dan didirikan – memberinya apresiasi.
Sekian bulan lalu, bergilir mendeklarasikan dukungan resmi pada Airlangga sebagai calon tunggal Ketua Umum DPP Golkar pada Munas yang telah ditetapkan untuk digelar Desember 2024 mendatang.
Namun apa daya, siapapun tidak pernah menyana, jika sekian hari kemudian bencana kilat itu datang menyambar.
Agenda strategis yang telah disusun rapi, seluruhnya ambyar, berantakan.
Airlangga yang sedianya saat Munas nanti, akan tampil tanpa pesaing untuk menakhodai DPP Golkar sekali lagi di periode berikut, tetiba saja buang handuk.
Munas yang sedianya dihelat Desember, sebab karena keadaan memaksa, dipercepat seminggu ke depan, 20 Agustus 2024.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/armin-mustamin-toputiri-mantan-anggota-dprd-sulsel-b.jpg)