Tribun HIS
Mengenal Masjid Tua Al Mujahidin, Warisan Sejarah Islam di Bone Sulsel
Masjid Laung’e didirikan pada tahun 1639 Masehi, pada masa pemerintahan Raja ke-13, La Maddaremmeng Mattiroe Ri Bukaka (1631-1644).
Penulis: Wahdaniar | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM - Masjid Laung’e atau dikenal dengan 'Masjid Tua Al’ Mujahidin' merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Kabupaten Bone.
Masjid Laung’e didirikan pada tahun 1639 Masehi, pada masa pemerintahan Raja ke-13, La Maddaremmeng Mattiroe Ri Bukaka (1631-1644).
Sudah 385 tahun masjid tersebut berdiri kokoh di Jalan Sungai Citarum, Kelurahan Bukaka, Kecamatan Tanete Riattang.
Baca juga: Video Tugu Nol Kilometer Watampone, Icon Baru Bone
Masjid tersebut dikategorikan sebagai Cagar Budaya yang perlu dilestarikan dan dijaga keasliannya sebagai salah satu sejarah Kabupaten Bone.
Masjid Laung’e merupakan saksi perkembangan sejarah agama Islam di Kabupaten Bone, khususnya pada masa awal mula masuknya Islam di Kabupaten Bone.
Pada masa itu, masjid tersebut digunakan sebagai pusat pembelajaran tentang Islam bagi keluarga kerajaan dan rakyat Kabupaten Bone.
Baca juga: Video Masjid Nurul Hilal Dato Tiro Bulukumba Sulawesi Selatan, Usia 421 Tahun
Pada masa pemerintahan Raja ke-32, La Mappanyukki Sultan Ibrahim Matinroe ri Gowa (1931-1946), Masjid Laung’e mengalami perombakan dan perbaikan besar-besaran.
Selanjutnya, pada tahun 2000-an, masjid ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas termasuk pendingin AC.
Bangunan masjid terbuat dari semen, batu, dengan lantai, menara, bak air tempat berwudhu, dan toilet terbuat dari tegel/keramik. Selain itu, masjid dilengkapi dengan mimbar berbahan keramik, kaligrafi besar, kubah masjid, garasi, tempat hijab wanita, mobil jenazah (ambulans), dan tempat memandikan jenazah.
Baca juga: Video Masjid Al Mujahidin, Masjid Tertua Sinjai Sulsel
Pintu masuk masjid terbuat dari kayu dan berjumlah 9, terdiri dari 3 pintu di bagian depan, 3 pintu di bagian samping kanan, dan 3 pintu di bagian samping kiri.
Pada ujung kubah mimbar terdapat guci yang disebut mustika, berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Ming. Kubah/puncak mimbar berwarna kuning keemasan dengan gambar naga.
Pengelolaan masjid ini tidak berbeda dengan masjid pada umumnya di Kabupaten Bone atau secara umum di Indonesia.
Bagian interior masjid sama seperti masjid pada umumnya.
Pengurus Masjid Tua Al Mujahidin, Mahyudin Syahid (70), mengungkapkan dirinya sudah menjadi pengurus selama 21 tahun.
"Sudah 21 tahun saya menjadi pengurus masjid. Renovasi masjid sudah sering dilakukan, dan untuk peninggalan yang masih ada, yang di atas mimbar (guci), keramik di kubah masjid, mimbar, mihrab semua itu didatangkan dari Tiongkok pada masa Dinasti Ming," ujarnya saat dikonfirmasi Tribun Timur, Rabu (7/8/2024).
Selain itu, ia mengungkapkan berbagai aktivitas keagamaan masyarakat yang dilakukan di kawasan masjid.
"Ada banyak, misalnya pengajian, arisan, kajian malam. Dan untuk jamaahnya, alhamdulillah banyak dari sini," jelasnya.
"Dan untuk imamnya itu ada tiga orang, ada imam besar satu orang dan dua orang imam pengganti. Mereka digaji sebesar Rp5 juta per bulan," tandasnya.(*)
| Kisah Cinta Membawa Hidayah, Pemuda Sumatera Masuk Islam Demi Menikahi Gadis Sinjai |
|
|---|
| Cinta di Balik Jeruji, Kisah Tersangka Narkoba Menikah di Tahanan Polres Gowa |
|
|---|
| Tak Punya Tangan, Tapi Punya Harapan, Kisah Ilham Fauzi Difabel Bulukumba Penopang Keluarga |
|
|---|
| Kisah Perjuangan Asriani, Jadi Buruh Ikat Rumput Laut Demi Hidupi Lima Anaknya |
|
|---|
| Kegigihan Marliah Bersihkan Anjungan Pantai Losari Makassar Sebelum Terbit Fajar, Gaji di Bawah UMR |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/masjid-tuaa-444.jpg)