Opini
Gerakan Literasi dan Kemajuan Pendidikan
Salah satu kekhawatiran yang masih belum terobati yaitu rendahnya minat baca siswa sekolah di Indonesia.
Oleh: Muhammad Tariq
Penulis Buku “Lintas Analisis Kritis”. Pegiat Literasi| dan Pemerhati Sosial
TRIBUN-TIMUR.COM - Melihat perkembangan dunia teknologi informasi saat ini yang tidak selamanya berdampak positif, membuat praktisi pendidikan merasa khawatir.
Salah satu kekhawatiran yang masih belum terobati yaitu rendahnya minat baca siswa sekolah di Indonesia.
Tahun-tahun sebelumnya, ketika buku masih menjadi satu-satunya sumber bacaan, tidak membuat generasi Indonesia menjadikan kegiatan membaca sebagai satu kebutuhan dalam hidup.
Terlebih lagi ketika dunia ini telah dikuasai teknologi informasi yang memungkinkan seseorang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dari berbagai media, peringkat Indonesia dalam hal membaca masih sangat rendah.
Kini, buku bukan menjadi beban dengan hadirnya buku elektronik yang bisa diakses kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun.
Kegiatan membaca tidak menjadi prioritas di negeri ini. Apa yang sebenarnya salah dalam sistem pendidikan di Indonesia? Mengapa membaca buku justru sangat sulit dilakukan dan dibiasakan oleh generasi muda?
Dunia yang kian kompetitif ini, menuntut generasinya untuk cerdas, kreatif, dan inovatif.
Semua keterampilan itu bisa diwujudkan, salah satunya melalui kegiatan membaca kreatif.
Tuntutan abad ini membuat generasi muda haus akan bacaan baik dari dalam maupun luar negeri.
Membaca mungkin kegiatan yang mudah dilakukan, namun susah untuk dijadikan kebiasaan.
Bosan, jenuh, cepat menghampiri ketika mulai melakukan kegiatan membaca, sehingga generasi muda merasa bahwa membaca merupakan kegiatan yang membosankan.
Apalagi dizaman sekarang ini dimana semua hal bisa divisualisasikan menjadi grafis sehingga mengurangi minat baca masyarakat.
Contohnya ketika sebuah novel fiksi remaja yang dijadikan film layar lebar, kebanyak Pemuda lebih menyukai menonton filmnya tanpa membaca novelnya.
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulsel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Tariq-Penulis-Buku-Lintas-Analisis-Kritis-10.jpg)