Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Workshop Kompas Institute di Makassar Bahas Strategi Meliput Isu Ekonomi di Dunia yang Berubah

Worskhop yang diikuti puluhan jurnalis dan mahasiswa ini berlangsung di Hotel Santika Makassar Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, Kamis (20/6/2024).

Tayang:
Penulis: Rudi Salam | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM
Pengamat Ekonomi Unhas Anas Iswanto Anwar, saat memberikan materi workshop jurnalis di Hotel Santika Makassar Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, Kamis (20/6/2024). Workshop ini dihadirkan Kompas Institute bekerja sama dengan Kedutaan Besar Australia di Indonesia. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kompas Institute bekerja sama dengan Kedutaan Besar Australia di Indonesia menggelar workshop untuk jurnalis di Makassar.

Worskhop yang diikuti puluhan jurnalis dan mahasiswa ini berlangsung di Hotel Santika Makassar Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, Kamis (20/6/2024).

Adapun tema worskhop yang diangkat yakni “Meliput Isu-isu Ekonomi di Tengah Dunia yang Berubah”.

Hadir sebagai narasumber, Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Anas Iswanto Anwar, CEO Titipku Henri Suhardja Perwakilan Kedutaan Besar Australia di Indonesia Simon Anderson, dan Wakil Kepala Desk Ekonomi Harian Kompas Mukhamad Kurniawan.

Workshop ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada para jurnalis tentang lanskap ekonomi masa depan.

Juga tentang pemahaman teknologi digital, perubahan iklim, serta kerjasama ekonomi regional, khususnya terkait Australia's Southeast Asia Economic Strategy to 2040.

Pengamat Ekonomi Unhas Anas Iswanto Anwar dalam kesempatan tersebut membawakan materi Climate Change and Economy.

Anas menjelaskan, setiap negara mempunyai tantangan yang berbeda dalam pencegahan perubahan iklim.

Indonesia sendiri mempunyai kerentanan yang sangat tinggi karena kondisi geografisnya terhadap perubahan iklim.

Di sisi lain, kata dia, peningkatan emisi GRK Indonesia juga semakin tinggi dari tahun ke tahun.

“Ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk Indonesia, permintaan akan energi yang terus meningkat, dan ekonomi Indonesia yang masih sangat tergantung dengan energi fosil,” jelasnya.

Anas dalam kesempatan itu juga membahas proyeksi dampak ekonomi akibat perubahan iklim.

Dipaparkan bahwa data dari Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan perubahan iklim di Indonesia dapat berdampak hingga 3,5 persen PDB Nasional pada tahun 2100. 

Sebagai contoh, kata dia, kerugian pada sektor pertanian dan pesisir diperkirakan sekitar 2,2 persen dari total PDB (ADB 2009). 

“Meningkatnya frekuensi kejadian bencana ikut serta berkontribusi terhadap kerugian perekonomian nasional sebesar 0,3 persen PDB (ADB 2009),” paparnya.

Selanjutnya, hasil kajian revisi RAN-API menunjukan bahwa potensi kerugian ekonomi empat sektor prioritas (kelautan & pesisir, air, pertanian, dan kesehatan) akibat perubahan iklim mencapai Rp102,36 trilliun pada 2020.

Angka ini setara dengan 0,61 persen dari target PDB 2020 dan dapat mencapai 115,53 triliun pada 2024.

Anas menyebut, dampak negatif terhadap pemenuhan kebutuhan dasar warga negara sekitar 0,66 persen sampai 3,45 persen dari PDB nasional.

Itu dengan rata-rata dampak ditaksir mencapai 2,87 persen PDB nasional pada 2030.

Misalnya sebaran penyakit akibat bencana banjir, longsor, dan kekeringan serta kejadian puso pada pertanian akibat banjir. 

“Adanya kejadian bencana dapat sangat berdampak pada keberlangsungan layanan jasa ekosistem sehingga empat bidang dasar tersebut terganggu,” sebut Anas.

Teknologi Digital

Sementara itu, Wakil Kepala Desk Ekonomi Harian Kompas Mukhamad Kurniawan dalam kesempatan tersebut membahas teknologi digital.

Disebutkan bahwa teknologi digital seperti AI dan otomatisasi akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas berbagai sektor ekonomi.

Lalu banyak pekerjaan tradisional akan tergantikan oleh teknologi, sementara pekerjaan baru di sektor teknologi akan bermunculan.

“Isu terkait perlindungan data dan privasi akan menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi,” katanya.

Mukhamad Kurniawan pun mengingatkan agar jurnalis untuk tetap memperhatikan beberapa aspek seiring perkembangan teknologi.

Seperti senantiasa waspada soal etika dan keandalan informasi, meningkatkan keterampilan digital, adaktif terhadap perubahan, serta meningkatkan pengetahuan ekonomi.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved