Pilgub Sulsel 2024
Seberapa Ampuh Media Sosial 'Katrol' Elektabilitas Balon Gubernur Sulsel?
Para bakal Calon Gubernur Sulawesi Selatan (Sulse)l semakin gencar memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan elektabilitas mereka..
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Sukmawati Ibrahim
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Para bakal Calon Gubernur Sulawesi Selatan (Sulse)l semakin gencar memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan elektabilitas mereka.
Platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok menjadi arena utama untuk berinteraksi dengan pemilih, hingga membentuk citra positif.
Media sosial telah menjadi alat efektif dalam kampanye politik modern.
Sayangnya, kehadiran di platform tersebut bukanlah jaminan untuk katrol elektabilitas.
Hal itu diakui Direktur Duta Politica Indonesia, Dedi Alamsyah dalam diskusi sosial media politica dengan tema "Gerakan Elektoral Berbasis Konten".
Diskusi ini berlangsung di Lapak Kopi Abangda, Jl Letjen Hertasning, Panakkukang, Kota Makassar, Kamis (13/6/2024) sore.
Penulis buku Social Media Politica, Anwar Abugaza hadir sebagai pemantik.
Sementara, Yasma Haya sebagai moderator.
Baca juga: Nasdem Pinrang ‘Tak Khawatir’ Banyak Figur Tantang Irwan Hamid - Sudirman Bungi di Pilkada
Menurut Dedi Alamsyah, konten di media sosial tidak serta-merta membuat pemilih akan memilih kandidat tersebut.
"Media sosial hanya berfungsi pada tataran popularitas dan aksesibilitas," katanya.
"Artinya, semakin sering anda muncul di media sosial, belum tentu pemilih akan mendukung anda," tambahnya.
Dedi menekankan meskipun media sosial dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap seorang calon, itu tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan elektabilitas.
"Media sosial memberikan ruang bagi kandidat untuk mengenalkan diri, namun keterlibatan pemilih tidak bisa diukur hanya dari seberapa banyak mereka melihat atau berinteraksi dengan konten tersebut," ujarnya.
Menurut Dedi, ada banyak faktor mempengaruhi keputusan pemilih, termasuk program kerja jelas, rekam jejak baik, dan interaksi langsung dengan masyarakat.
Media Sosial Hanya Hiburan, Elektabilitas Tetap Bergantung Kandidat Tetap Terjun ke Masyarakat
Anwar Abugaza, mengungkapkan bahwa konten media sosial hanya bersifat hiburan, inspiratif, dan informatif.
Menurut Anwar, media sosial baru bisa memberikan efek elektoral ketika pemilih tidak memiliki pilihan lain.
"Konten sosial media itu hanya sifatnya hiburan, inspirasi, dan informatif. Hanya saja, dia bisa berefek elektoral ketika orang-orang mengonsumsi itu tidak memiliki pilihan lain," kata Anwar.
Sebagai contoh, Anwar menyebut pasangan Prabowo-Gibran yang sangat dominan di kalangan Gen Z.
"Generasi Gen Z tidak tersentuh langsung oleh kandidat capres-cawapres. Mereka tidak memiliki pilihan, akhirnya yang dikonsumsi di media sosial itulah yang mereka pilih," tambahnya.
Anwar juga menjelaskan soal fenomena di mana ada figur balon gubernur yang tidak aktif di media sosial.
Namun justru memiliki elektabilitas lebih tinggi dibandingkan figur aktif di media sosial.
"Harus diingat, konten sosial media bisa menjadi penguat ketika kandidat turun ke lapangan. Jadi, konten yang dimuat para kandidat bisa diingat masyarakat ketika mereka bertemu langsung," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tingkat interaktivitas media sosial masyarakat di sejumlah kabupaten/kota di Sulawesi Selatan masih tergolong rendah.
"Interaktif bersosial media masyarakat di sejumlah kabupaten/kota di Sulsel masih tergolong rendah," ujarnya.
Anwar juga menyoroti potensi bahaya dari konten negatif di media sosial.
"Yang berbahaya sebenarnya di sosial media adalah konten negatifnya. Satu saja konten negatif itu bisa membunuh 10 konten positif."
Pernyataan Anwar Abugaza ini memberikan perspektif tambahan terhadap peran media sosial dalam sosialisasi ke masyarakat.
Meskipun media sosial dapat membantu meningkatkan visibilitas dan mendukung kampanye, interaksi langsung dengan pemilih dan kehadiran di lapangan tetap menjadi kunci dalam meraih dukungan nyata.
Sementara itu, para kandidat juga harus berhati-hati dengan konten negatif dapat merusak citra mereka di mata pemilih.
Berikut Jadwal Tahapan Pilkada 2024:
27 Februari-16 November 2024: Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau pemilihan;
24 April-31 Mei 2024: Penyerahan daftar penduduk potensial pemilih;
5 Mei-19 Agustus 2024: Pemenuhan persyaratan dukungan pasangan calon perseorangan;
31 Mei-23 September 2024: Pemutakhiran dan penyusunan daftar pemilih
24-26 Agustus 2024: Pengumuman pendaftaran pasangan calon;
27-29 Agustus 2024: Pendaftaran pasangan calon;
27 Agustus-21 September 2024: Penelitian persyaratan calon
22 September 2024: Penetapan pasangan calon;
25 September-23 November 2024: Pelaksanaan kampanye;
27 November 2024: pelaksanaan Pemungutan suara;
27 November-16 Desember 2024: Penghitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara.
Debat akan ada di tahapan 25 September-23 November 2024: Pelaksanaan kampanye. (*)
| MK Tolak Gugatan Danny Pomanto-Azhar Arsyad, Sudirman-Fatma Dilantik 20 Februari 2025 |
|
|---|
| Kunjungi Toraja Utara, Danny: Terima Kasih Dukungannya, Saya Akan Kenang Hingga Akhir Hayat |
|
|---|
| Andi Sudirman Bentuk Tim Hukum Lawan Gugatan Danny, Jubir DiA: Lucu, Yang Kami Gugat KPU Sulsel |
|
|---|
| Dana Kampanye Danny Pomanto Kalahkan Andi Sudirman, Tapi Beda 1,4 Juta Suara di Pilgub Sulsel 2024 |
|
|---|
| Andi Sudirman-Fatmawati Ciptakan Rekor Baru Kalahkan SYL dan Nurdin Abdullah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Suasana-diskusi-bertajuk-gerakan-elektoral-berbasis-konten0.jpg)