opini
Potret Alumni Ramadan: Antara Idealita dan Realita
Frekuensi ibadah seperti puasa, shalat, tilawah al-Qur’an, bersedekah, dan rangkaian ibadah lainnya mewarnai hari-hari para shāimīn.
Oleh Dr Abror Bahari Lc MA
Komisi Fatwa MUI Kabupaten Bulukumba
BULAN suci Ramadan menjadi momentum intensifnya kegiatan ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Frekuensi ibadah seperti puasa, shalat, tilawah al-Qur’an, bersedekah, dan rangkaian ibadah lainnya mewarnai hari-hari para shāimīn.
Semangat ini seiring dengan kemuliaan Ramadan yang di dalamnya Allah menawarkan “bonus” pahala berlipat ganda, dan “diskon” dosa besar-besaran.
Animo beribadah umat terlihat dengan membludaknya jumlah jamaah di masjid-masjid hingga meluber ke teras.
Layar televisi kembali dipenuhi dengan tayangan-tayangan bertema religi.
Suasana spiritual juga begitu kental dengan ornamen-ornamen puasa di shopping mall, gerai retail, dan toko-toko tradisional.
Buka dan sahur on the road menjadi pemandangan yang menarik.
Sensitivitas umat meningkat tajam dengan berlomba-lomba mengeluarkan Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS).
Sebagai contoh, penulis ketika mengisi ceramah tarawih malam terakhir di Masjid al-Markaz al-Islami kabupaten Maros, panitia amaliah Ramadan mengumumkan bahwa sumbangan buka puasa dan sahur dari para donatur selama sepuluh terakhir Ramadan bila dikonversi ke rupiah mencapai dua ratus juta rupiah lebih.
Ramadan betul-betul dimaknai sebagai bulan ‘penggemblengan’ jasmani dan rohani untuk semakin dekat dengan sang khalik.
Namun pertanyaannya, bagaimana pasca-Ramadan?
Apakah para alumni Ramadan mampu mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah, kemudian menginternalisasikan makna ibadah tersebut dalam kehidupan mereka? tentu pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh alumni Ramadan itu sendiri.
Karena itulah tulisan ini hadir untuk memotret lebih dekat profil alumni Ramadan tersebut.
| Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal: Pelajaran dari Sulawesi Selatan |
|
|---|
| Menolak Korupsi Senyap: Mengapa Mengembalikan Pilkada ke DPRD Adalah Kemunduran |
|
|---|
| Makna Filosofis Sejarah Pohon Sawo Ditanam Presiden Soekarno Awal Tahun 1965 di Badiklat Kejaksaan |
|
|---|
| Manajemen Talenta: Harapan Baru Birokrasi Sulsel? |
|
|---|
| Fantasi Kerugian 1 Triliun Dalam Kasus Kuota Haji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dr-Abror-Bahari-Lc-MA-Komisi-Fatwa-MUI-Kabupaten-Bulukumba.jpg)