Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ramadhan: Mendidik Insan Beriman Menuju Taqwa

Ramadhan sendiri memiliki beragam nama yang dinisbatkan sebagai bentuk pengingat dan menjadi pelajaran bagi orang beriman.

Editor: Sudirman
Ist
Supriadi, S Ag MPdI, Guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 1 Manado 

Oleh: Supriadi, S Ag MPdI

Guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 1 Manado

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. al-Baqarah/2: 183)

Kedatangan Ramadhan senantiasa memberikan kesempatan kepada setiap orang yang beriman untuk menempa dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun ke tahun.

Hal ini karena manusia adalah makhluk lemah yang selalu lalai dan alpa.

Karenanya, Allah memberikan kesempatan dengan datangnya Ramadhan untuk menata kehidupannya dan mendidik pribadinya agar kembali kepada nilai-nilai religious yang dituntun Allah swt.

Ramadhan sendiri memiliki beragam nama yang dinisbatkan sebagai bentuk pengingat dan menjadi pelajaran bagi orang beriman.

Ramadhan disebut dengan Syahrus Shiyam, karena ada kewajiban berpuasa yang ditetapkan dalam bulan tersebut.

Inilah ibadah pokok dalam bulan Ramadhan, melaksanakan puasa dengan segala ketentuan syariatnya.

Ramadhan pun dikenal dengan Syahrul Qur’an karena pada bulan itu al-Qur’an diturunkan Allah dan ada anjuran yang kuat untuk memperbanyak membaca al-Qur’an pada bulan tersebut.

Para Salafussaleh senantiasa berlomba-lomba memperbanyak khatam al-Qur’an selama Ramadhan karena memahami berbagai keutamaannya.

Bahkan Ramadhan disebut pula dengan Syahrut Tarbiyah karena selain banyak mengandung nilai-nilai pendidikan.

Bulan ini juga memberikan kesempatan kepada orang beriman untuk mengedukasi dirinya sendiri dan lingkungannya agar memiliki kesalehan individu maupun kesalehan sosial.

Rasulullah saw. mengajarkan kepada para sahabat generasi awal, bahwa puasa sebagai salah satu ibadah pokok Ramadhan tidak hanya memiliki aspek lahiriah berupa tidak makan dan tidak minum serta hal-hal yang membatalkan puasa pada siang hari.

Namun ada aspek batiniyah yang turut menopang kesempurnaan ibadah puasa. Inilah yang dijabarkan oleh Imam al-Ghazali dengan menahan diri dari menjaga lisan, pendengaran, penglihatan yang menyebabkan puasa tidak sempurna.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved