Headline Tribun Timur
PDAM Minta Warga Bersabar, Suplai Air 9 Kecamatan di Makassar Terganggu
Masyarakaat Sulawesi Selatan diimbau menghemat air bersih dan mewaspadai semua bentuk bencana dampak kemarau.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memprediksi kemarau panjang diiringi fenomena El Nino akan berlangsung hingga Oktober 2023.
Masyarakaat Sulawesi Selatan (Sulsel) diimbau menghemat air bersih dan mewaspadai semua bentuk bencana dampak kemarau.
"Sekarang kemarau dan El Nino, sehingga Sulsel cukup kering. Kami imbau masyarakat lebih bijak memanfaatkan sumber air," ujar Prakirawan BMKG IV Makassar, Sultan Zakaria, Jumat (25/8/2023).
Dia juga mengimbau agar tidak sering keluar rumah mengingat cuaca panas yang bisa berdampak pada kesehatan.
Kepada petani, BMKG mengimbau agar tidak melakukan pembakaran lahan.
Pasalnya, sumber api kecil sangat rawan menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau ini.
Kemarau panjang, kata Sultan, berdampak besar di tiga wilayah Sulsel.
Yaitu pesisir barat, selatan dan timur. Sementara wilayah utara masih berpotensi diguyur hujan.
"Khusus sulsel bagian pesisir barat, selatan dan timur, masih di dominasi oleh cuaca cerah dan cerah berawan," ujar Sultan.
"Wilayah bagian utara, seperti Palopo, Luwu, Luwu Timur dan Luwu Utara ada potensi hujan ringan sampai sedang," lanjutnya.
PDAM Makassar
Kemarau diiringi El Nino yang melanda Kota Makasar dalam dua bulan terakhir menyebabkan sumber air PDAM Makassar kekeringan. Berdampak pada menurunnya tekanan distribusi air di 9 kecamatan.
Yaitu Kecamatan Ujung Pandang, Panakkukang, Makassar, Tallo, Ujung Tanah, Bontoala, Wajo, Tamalanrea dan Biringkanaya.
Baca juga: Makassar Krisis Air Bersih, Maros Dilanda Kebakaran, 4 Daerah di Sulsel Berpotensi Hujan Sedang
Direktur Utama PDAM Makassar, Beni Iskandar, mengatakan sumber air baku PDAM dari Bendung Leko Pancing yang berlokasi di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, mengering akibat kemarau.
Biasanya, kata Beni, debit air mencapai 1.300 per detik, sekarang turun menjadi 700-an.
"Bahkan, salah satu instalasi pengelolaan air (IPA) kami, IPA 3 Antang, satu pompa sudah kami matikan karena debit air baku yang masuk sudah sangat kurang," ucap Beni, Jumat (25/8/2023).
Kondisi ini, lanjutnya, sudah berlangsung sejak Juni 2023. “Pompa suplesi yang diturunkan di Waduk Nipa-nipa juga tidak efektif,” katanya.
Padahal, pompa suplesi di Waduk Nipa-nipa tersebut menjadi upaya PDAM untuk mengatasi minimnya suplai air baku dari Bendung Leko Pancing.
Begitu juga dengan inline booster pump yang diharapkan bisa dioperasikan di wilayah utara untuk mengatasi kekurangan air bersih, belum bisa difungsikan karena kurangnya air baku.
Baca juga: Debit Air Menurun, 9 Kecamatan di Kota Makassar Alami Krisis Air Bersih
"Pompa inline yang kami pasang di Pasar Pannampu belum bisa kita uji keefektifannya karena air bakunya memang berkurang," jelas Beni.
"Kami harap masyarakat bersabar karena menurut perkiraan BMKG nanti di bulan November baru ada curah hujan," tambahnya.
Agar tetap memberikan layanan air bersih kepada masyarakat, PDAM menurunkan mobil tangki.
Masyarakat yang membutuhkan air bersih, kata Beni, bisa menghubungi call center PDAM di nomor 150411.
Dengan catatan, cakupan warga yang membutuhkan air cukup luas.
"Cakupan luas, maksudnya bukan 1 atau 2 orang saja yang butuh, paling tidak 5-10 kepala keluarga (KK)," katanya.
Petugas Operasi Bendung Leko Pancing, M Syamsir, mengatakan debit air sudah mulai turun sejak pertengahan Juli.
Normalnya, ketinggian air bendung tersebut berkisar 15-20 cm di atas mercu (bagian dari bendung yang berfungsi mengatur tinggi air).
"Ketika banjir ketinggiannya paling tinggi 2 meter di atas mercu," ujar Syamsir, saat dikonfirmasi pekan lalu.
Kekeringan yang terjadi di Bendung Leko Pancing, lanjutnya, sangat berdampak pada air baku PDAM Makassar .
"Kalau normalnya kita bisa mengalirkan air untuk irigasi dan air baku PDAM Makassar 3000- 4000 liter/detik berdasarkan kemampuan saluran. Kondisi sekarang kita cuma bisa suplai air 1000-1200 liter/detik," jelasnya.
Menurutnya, kondisi bendung yang mengering terjadi tiap tahun. Bahkan, dari tahun ke tahun, debit air semakin berkurang.
Baca juga: Maros Setiap Tahun Krisis Air Bersih, Mau Beli Tapi Harganya Mahal
Hal ini diakibatkan banyaknya aktivitas tambang dan alih fungsi lahan di bagian hulu.
"Ini mengakibatkan tidak ada cadangan air saat kemarau, sementara saat musim hujan air membeludak karena tidak ada resapan di hulu," ujarnya.
Kondisi Daerah
Perusahaan Air Minum (PAM) Tirta Karajae, Kota Parepare, menyiapkan langkah strategis mengantisipasi dampak kemarau disertai fenomena El Nino tahun ini.
Direktur PAM Tirta Karajae, Andi Firdaus Djollong, mengatakan saat ini debit air di Salo (Sungai) Karajae yang menjadi sumber utama air PAM Tirta Karaje menurun drastis.
Langkah strategis yang dilakukan adalah membendung daerah aliran sungai (DAS) Salo Karajae sebagai upaya menampung air baku.
“Kami turunkan eskavator lalu kami tambal agar terjadi kenaikan air. Itu skema untuk Salo Karajae,” beber Andi Firdaus.
PAM Tirta Karajae Parepare juga memanfaatkan sumur dalam yang telah dihibahkan oleh pemerintah daerah.
“Kami sudah melakukan maintenance untuk memaksimalkan fungsi sumur dalam tersebut. Jika sungai sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan, maka sumur dalam ini akan kami dorong ke wilayah atas untuk menyuplai air bagi pelanggan,” tambahnya.
Di Kabupaten Wajo, PDAM setempat bersama Petugas Operasi Bendungan (POB) melakukan penutupan pintu air Bendung Gerak Tempe (BGT) yang membendung aliran Sungai Cenranae.
Penutupan pintu BGT untuk mempertahankan muka air Danau Tempe pada elevasi tertentu agar bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan masyarakat, termasuk sebagai sumber air bersih PDAM.
Koordinator Petugas Operasi Bendungan (POB) BGT, Muin, mengatakan sejak pekan lalu sudah mengantisipasi terjadinya kekeringan akibat musim kemarau dan adanya fenomena El Nino.
"Sudah kami lakukan beberapa langkah, seperti menutup pintu bendungan sebagai cadangan air," ujarnya.
Krisis air akibat kemarau juga terjadi di Kabupaten Maros.
Sudah dua pekan, warga di sejumlah kecamatan kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Mengatasi kondisi tersebut, Pemkab Maros membentuk satuan tugas (satgas) penanggulangan kekeringan.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan, satgas ini bertugas menyalurkan air bersih ke kecamatan-kecamatan yang terdampak kekeringan. Sepeti di Kecamatan Bontoa, Lau, Maros Baru dan Marusu.
Chaidir mengatakan, penyaluran air bersih ini merupakan program jangka pendek untuk penanggulangan kekeringan di wilayah yang terdampak.
“Untuk jangka panjang, Pemkab Maros sedang berusaha membangun penuntasan booster di Kecamatan Bontoa untuk PDAM, kita anggarkan sebesar Rp2 miliar tahun ini,” ujarnya.
Dampak lain kemarau, kata Chaidir, sekitar 115 hektare sawah di Kecamatan Maros Baru dan Mandai mengalami kekeringan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ilustrasi-krisi-air-bersih-makassar-d.jpg)